
Selamat Membaca..
Rian mencemaskan keadaan Faika Sabrina Dwi Putri yang terbaring lemah di atas ranjang king size-nya. Setelah dokter memeriksa dan memberikan obat untuk Faika, akhirnya ada kemajuan dari dalam dirinya.
Suhu tubuhnya sudah berangsur turun dan sudah kembali normal, tidak ada lagi keringat yang bercucuran di dahinya. Bahkan Faika tampak tidur lebih lelap dan nyenyak dari biasanya.
"Rasa yang ada masih seperti dahulu tidak pernah berkurang sedikit pun dan tak akan berubah hingga akhir waktu, nama Kamu masih terpatri di dalam hatiku ini."
Rian memutuskan untuk membuatkan makanan kesukaan sekaligus sebagai pengganjal perutnya Faika yang beberapa jam ini masih kosong, dan itu terjadi karena ulahnya sendiri.
Rian memberikan tugas yang menumpuk tujuannya agar dirinya bisa berlama-lama bersama dengan Faika. Tapi, rencana itu kurang berhasil dan tidak berjalan mulus sesuai dengan keinginannya, dikarenakan Kanaya kakak sepupunya harus dilarikan ke RS, karena mengalami insiden kecil yang membuatnya harus terpaksa diopname di RS.
Beberapa jam kemudian masakan yang dimasak oleh Rian pun sudah matang dan siap dihidangkan. Rian masak bakmie goreng dan bubur ayam. Makanan itu semua adalah makanan kesukaan dari Faika.
Faika sebenarnya sudah lama terbangun dari tidurnya, hanya saja dia melihat Rian yang masih terjaga sehingga Faika kembali memejamkan matanya dan berpura-pura tertidur.
Setelah beberapa saat kemudian, Faika mengintip ke arah kursi tempat tidur Rian. Tidak ada lagi pergerakan yang berarti dari Rian dan sudah merasa cukup aman, Faika pun membuka matanya dan langsung bangkit dari tidurnya, kemudian memeriksa kondisi seluruh tubuhnya.
"Alhamdulillah semuanya aman terkendali, tidak ada yang dia lakukan padaku, dan saya bersyukur walaupun dia lama tinggal di Luar Negeri, tapi tidak merubah kebiasaan dan karakternya, masih tetap menghormati harkat dan martabat seorang perempuan."
Faika mencium aroma dari makanan yang sudah tersaji di atas meja nakas ranjangnya. Faika membuka penutup makanan itu, dan langsung menyantapnya tanpa basa-basi lagi, karena perutnya yang harus diisi sesegera mungkin, perutnya yang sudah kelaparan.
"Egp dengan pandangan orang lain, kalau lapar yah makan, dari pada mati kelaparan lebih baik buang jauh rasa malu untuk sementara waktu, masalah malu urusan belakangan."
Perkataan dari Faika yang kedengaran hingga ke telinga Rian, membuat Rian tersenyum, dan menahan terus tawanya hingga hampir saja membuat perutnya sakit.
"Rasanya masih seperti dulu, rasanya bahkan semakin enak, apa dia kuliah ambil jurusan bisnis atau chef sih? rasa makanannya sangat enak dan lezat, bahkan lebih lezat dari masakan chef profesional."
Faika dengan lahapnya dan santai menikmati makanan tersebut, tanpa ada yang ganggu. Faika bahkan tidak perduli dengan pandangan dari Rian yang paling penting perutnya terisi.
"Kecil-kecil, tapi kekuatan makannya luar biasa, masih sama seperti dulu."
Faika memang bertubuh sedang, langsing bahkan bisa dibilang slim, tapi jika masalah makan Faika lah yang paling laju.
Hingga tanpa terasa Faika pun bersendawa dan langsung menutup mulutnya sendiri sambil celingak-celinguk melihat ke arah Kursi yang ditempati Rian.
"Semoga Pak Rian tidak sampai mendengar sendawaku, kalau naliatki bisa maluka itu kodong."
Rian tidak bisa menahan lagi tawanya hingga akhirnya suara tawanya pun menggema hingga ke telinga Faika.
Faika yang menyadari hal itu pun, langsung membereskan peralatan makannya dan selalu menunduk, karena tidak menyangka jika apa yang dia lakukan sudah diperhatikan sejak tadi oleh Rian.
__ADS_1
Faika langsung ngacir ke luar kamar, dan saking cerobohnya, Dia lupa di mana dia berada.
"Malu-maluku, edede kenapa bisa bangunki juga pada saat suara itu keluar?"
Faika langsung berjalan tanpa tahu arah letak dapurnya di mana. Faika terus berjalan sambil ngomel-ngomel tidak jelas. Langkahnya terhenti ketika berada di ujung tangga.
"Dapurnya di mana, kok sedari tadi aku berjalan, tapi gak kelihatanki?"
Faika memutar badannya untuk segera kembali ke dalam kamar Rian, tapi karena terlalu malu jadi Faika melanjutkan langkahnya dan berjalan sesuai dengan feeling-nya saja.
"Turun tangga, lalu belok kanan, sepertinya itu jalan yang tepat untuk ke dapur."
Rian yang diam-diam mengikuti langkah Faika hanya terdiam saja tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Hanya senyuman tipis yang tersungging di bibirnya.
"Alhamdulillah, ketemu juga dapurnya, kok Apartemennya luas banget, kalau gini bikin capekji keliling terus."
Faika mencuci bekas peralatan makannya. Faika tidak lupa mencuci tangannya, tapi baru saja memutar tubuhnya, apa yang dia lakukan terhenti seketika saat tubuhnya tidak sengaja menabrak tubuh tinggi tegap Rian.
"Auuhhh," Faika meringis sambil mengelus jidatnya karena sakit.
"Maaf, Kamu tidak apa-apa kan?" ucapnya, lalu berjalan ingin menyentuh dahinya Faika.
Faika langsung mundur seketika itu juga. Faika tidak ingin bersentuhan secara sengaja dengan pria apa lagi, pria itu sudah sah menjadi suami orang lain.
Rian langsung terdiam dan menghentikan laju langkahnya.
"Mas hanya ingin memeriksa saja, gak lebih," ucapnya.
"Makasih banyak, tapi Bapak tidak perlu repot-repot, sakit biasaji juga."
Tangan Rian yang awalnya ingin menyentuh dahi Faika terpaksa hanya menggantung di udara. Perlahan tangan Rian pun turun dan sejajar dengan tangan kirinya.
"Maaf sekarang jam berapa Pak? Saya ingin pulang."
Rian hanya menunjuk ke arah dinding di mana letak jam dinding itu berada.
"Gimana caraku pulang jam tigami, pasti ibu sudah khawatir dengan keadaanku, apa lagi tadi tidak sempatka kasihki kabar kodong."
Wajah Faika tampak kebingungan dan tersirat kecemasan di sana.
"Kamu tidak perlu merisaukan ibumu, Mas sudah mengirim chat ke nomor hp adikmu, kebetulan tadi nelpon, gak usah khawatir aku tidak angkat, hanya membalas pesan chatnya," tuturnya lagi.
__ADS_1
"Makasih Pak," ucapnya singkat.
Rian langsung melangkahkan kakinya meninggalkan Faika yang mematung ditempatnya.
"Maaf, aku tidak ingin terlalu jauh jatuh ke dalam luka yang mungkin akan sulit untuk sembuh."
Air matanya perlahan membasahi pipinya. Faika menangis tersedu-sedu dalam diamnya. Faika menutup mulutnya, agar suara tangisannya tidak sampai ke telinga Rian.
Rian membuka balkon kamarnya dan berteriak seakan-akan ingin menumpahkan dan mengeluarkan semua beban berat serta gunda gulananya.
"Kenapa melupakanmu adalah hal yang tersulit aku lakukan?"
Faika mendengar teriakannya, dan semakin menangis saja. Matanya sudah bengkak, hidungnya pun sudah kemerahan seperti jambu.
"Apa aku salah yang masih mencintai suami orang lain?"
Faika hingga sekarang salah paham jika Rian sudah menikah dengan Maminya Camelia, sedangkan Rian mengaggap jika Faika masih berstatus dari Istrinya Wandi.
Cinta yang belum bisa bersatu karena adanya kesalah pahaman yang berlarut-larut, tanpa ada di antara mereka yang menginginkan untuk berbicara empat mata.
"Ya Allah jauhkan lah Mas Rian jika memang dia bukanlah jodohku, dan dekatkan lah Mas Rian jika dia ditakdirkan untukku seorang."
Faika berjalan ke kursi yang ada di depannya, dan berbaring di sana hingga matanya tertutup dan menuju mimpi indahnya.
Rian yang menuruni undakan tangga dan tidak sengaja melihat Faika yang meringkuk, karena kedinginan. Suhu pendingin ruangan yang cukup tinggi membuatnya menggigil kedinginan.
Rian segera berjalan ke dalam kamarnya dan mengambil selimut yang cukup tebal. Rian berjalan terburu-buru, karena takut jika suhu AC membuat suhu tubuh Faika kembali tinggi dan jatuhnya akan drop lagi.
Rian pun mengurangi suhu AC tersebut, dan menyelimuti seluruh tubuh Faika.
"Selamat tidur sayang, Mas sudah bertekad apa pun yang terjadi, rasa sayang dan cinta ini hanya untuk kamu seorang hingga akhir waktuku."
Rian pun mencuri ciuman di dahi Faika. Faika hanya tersenyum dalam tidurnya ketika Rian mendaratkan bibirnya di atas dahinya.
Alhamdulillah hari ini Updatednya Tidak Ada Jodoh Yang Tertukar dua bab loh, semoga suka.
Maaf jika selalu ada typo dalam penulisannya dan semoga bermanfaat dan mudah untuk dipahami dan tidak kebingungan dengan alur ceritanya.
Makasih banyak kepada Readers yang telah memberikan dukungannya kepada TAJYT dengan berbagai Cara 🥰.
Jangan Lupa untuk selalu menekan tombol like di setiap Babnya, RATE BINTANG 5 dan FAVORITKAN Yah 🙏.
__ADS_1
by Fania Mikaila AzZahra
Makassar, Senin, Mei 2022