
Selamat Membaca..
Forget about the one who caused you pain.
Lupakan seseorang yang telah membuatmu sakit.
Masalah pelik yang dihadapi oleh keluarga Faika membuat mereka terguncang hebat, terutama Fahira sendiri dan ibunya. Fahira trauma dan defresi ringan setelah mengalami kejadian yang membuat masa depannya hancur lebur dalam hitungan sehari saja.
Faika sebagai anak tertua memberikan dukungannya kepada adik dan ibunya untuk selalu bersabar dan tawakal kepada Allah SWT. Karena semua yang terjadi pasti semuanya ada hikmah dibalik semua itu.
Faika pun menyarankan kepada Ibu dan adik-adiknya untuk pindah ke Ibu kota Jakarta, dan mereka memutuskan untuk menetap sekaligus akan tinggal selamanya di Jakarta. Fahira tidak ingin kembali lagi ke kampung halamannya, karena masalah yang dia hadapi sudah menjadi buah bibir dari masyarakat di Kampungnya, hal itu terjadi dikarenakan Bibinya yaitu adik dari Bapaknya yang menyebarkan isu dan gosip tersebut.
Padahal ke tiga sahabatnya sudah berusaha untuk menutupi seluruh kejadian tersebut dan menutup rapat-rapat masalah itu ke khalayak umum, tapi yah seperti itu lah semakin ditutupi akan semakin mengundang seseorang untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Hingga masalah itu berkembang dari mulut ke mulut. Dan menjadi topik utama dan hangat diperbincangkan di seantero kampung.
Satu hari setelah kepulangan Fahira dari Rumah Sakit dan sebelum berangkat ke Jakarta, Ibu dan Faika serta ke dua adiknya mendatangi makam Bapaknya. Mereka mengira kedatangan mereka tidak akan diketahui oleh bibinya serta masyarakat kampung tempat tinggalnya.
"Ohh ternyata pulangmako pale' semua? bagaimanami kabarnya kau Fahira, baik-baikmako kah?" tanya bibinya Faika.
Mereka tidak ada yang menjawab atau pun menanggapi perkataan dari bibinya itu.
"Edede tuli semuami kapan na tidak ada yang menjawab pertanyaanku, atau kalian Malu karena sudah menjadi artis terkenal di kampung? kalian perlu tahu kalau kau terus itu nacerita orang-orang di kampung, edede bikin Malumu di' Fahira, kenapa meski kembaliko lagi di sini?" tanya bibinya yang sengaja memancing emosi mereka.
Faika memberikan kode kepada Ibu dan adiknya untuk tidak menggubris sedikit pun perkataan dari bibinya itu. Bahkan mereka tidak meladeni perkataan julid dari Bibinya itu.
Sehingga membuat bibinya meradang dan sangat marah, bibinya tidak putus asa bahkan semakin membuat kehebohan dan menjadikan mereka menjadi pusat tontonan di TPU tersebut.
"Edede semoga tidak pernahmako lagi kembali di kampung, kami keluarga besar sangat malu dengan aib kalian, apa semua itu tidak ada dipikiranmu sehingga kalian kembali lagi?" ucap bibinya.
"Ternyata seperti itu pale' kejadiannya, kenapa mereka Masih pulang padahal sudah mempermalukan semua keluarganya, tidak ada mantong itu sana rasa malunya" ucap Ibu yang berambut pendek.
"Janganko bicara begitu, tidak baikki, ingatki ada juga itu anak gadisnu, na tidak mungkin mereka menginginkan kejadian jelek terjadi sama mereka, edede porekna semua berbicara". timpal Ibu yang memakai hijab panjang yang kebetulan datang berziarah kubur juga.
"Betul sekali itu katamu Bu Ramlah, siapa juga orang yang mau hidup dalam nasipnya jelek pasti kita semua mau yang baik-baik, tidak sepantasnya kita menghakimi orang lain, setiap manusia pasti ada cobaannya dalam hidup mereka, kenapa meski haruski pusing dengan urusannya orang" ucap ibu Mala.
__ADS_1
"Iye setujuka saya dengan perkataanta' itu ayokmo deh pergi lama-lamaki di sini bertanbahji dosata'" tutur ibu Ramlah.
Suara sumbang yang mereka dengar tidak membuat mereka dendam atau pun membenci. Mereka hanya sabar dan yakin kalau semua ini akan berlalu seiring dengan berjalannya waktu.
Faika dan keluarganya pun pulang ke kota Makassar meninggalkan kampung halamannya yang sudah menorehkan sejuta kenangan dalam hidup mereka. Kampung yang sudah mereka tempati sejak lahir harus mereka tinggalkan.
"Badai itu pasti berlalu"
Setelah keadaan dan kondisi Fahira membaik, dokter pun mengijinkan agar Fahira pulang dan hanya akan Rawat jalan saja. Faika pun membawa adiknya ke rumah kost sementara waktu, sambil menunggu ujian dari adik bungsunya selesai. Barulah mereka akan berangkat ke Jakarta.
Hari ini adalah hari terakhir Ujian yang ditempuh oleh Fatimah dan sekaligus menjadi hari terakhirnya mereka di Kota Makassar, Faika meminta kepada adiknya serta sahabat Fahira untuk membantu mengemas barang-barang yang dirasa perlu untuk mereka bawa ke Jakarta.
"Kak, Maafkanka nah, gara-gara sayami itu ma dipermalukanki sama orang-orang" ucap Fahira yang memeluk tubuh kakaknya.
Faika membalikan badannya dan menghadap ke arah Fahira.
"Semua yang terjadi ini bukanlah murni kesalahanmu, tapi semua ini terjadi karena Allah menguji kita untuk mengetahui sejauh mana tingkat kesabaran dan keimanan kita, jadi stopmi untuk selalu menyalahkan dirimu terus, tidak adaji juga untungnya jika kamu hidup dalam penyesalan" ucap Faika sambil memegang pundak adiknya.
"Iye benar sekali yang nabilang Ibu, masa depan kamu masih sangat panjang dan Kakak tahu itu sangat susah untuk melupakan apa yang sudah terjadi, tapi Kakak tidak minta untuk melupakan semua itu, tapi berusahalah untuk berdamai dengan cobaan yang kamu hadapi, karena tidak ada itu kejadian yang terjadi dalam hidup kita bisa kita lupakan dengan mudah, pasti kadang akan terlintas dalam benak kita, jadi Kakak minta sama kamu, Ayok bangkit dan mulai hidup kamu yang lebih baik lagi, dan pesan kakak selalu waspada dan hati-hati saja" terang Faika.
"Makasih banyak Bu, makasih banyak Kak Faika, seandainya tidak adaki semua tidak kutahumi apa yang akan terjadi pada nasibku" ucap sendu Fahira.
"Ingat kamu itu tidak sendirian, adaki Ibu, Fatimah sama Kakak, jadi jangan pernah kamu beranggapan kalau kamu itu sendiri, Kakak akan selalu mendukung yang terbaik untuk kamu dan Kakak juga akan selalu bersama kalian, kita ini keluarga jadi kita harus menghadapi semua cobaan ini bersama" jelas Faika lagi.
Mereka pun berpelukan dan menyalurkan rasa sayang mereka lewat pelukan tersebut.
Satu minggu kemudian, Mereka pun sudah bersiap berangkat ke Bandara dan akan terbang menuju Ibu kota Jakarta. Faika bersyukur karena adik dan ibunya setuju dengan Permintaanya yang meminta mereka untuk pindah ke Jakarta.
Ada rasa sedih yang mereka rasakan, tetapi ini jalan yang terbaik yang bisa mereka tempuh. Ibu Suharti sedih karena telah mengingkari janjinya kepada almarhum suaminya yang meminta kepada ibu Suharti sebelum meninggal untuk tetap tinggal di rumah mereka yang penuh dengan kenangan itu.
Pesawat sudah meninggalkan bandara internasional Sultan Hasanuddin Makassar Sulawesi Selatan.
"*Selamat tinggal Makassar, semoga di Kota yang baru Saya datangi bisa hidup lebih baik dan kenangan buruk itu tidak menghantui hidupku".
__ADS_1
"Minta maafka bapak, bukannya Saya sengaja dan tanpa alasan untuk meninggalkan rumah yang selama ini menjadikan tempat persinggahan kita, tapi demi anak-anak kita, Ibu harus mengikuti dan menjaga mereka sebaik mungkin dan Ibu yakin bapak pasti mengerti dengan keputusanku ini, tapi Ibu janji suatu saat nanti Ibu akan datang menjenguk bapak di makam bapak*".
Ibu Suharti pun yakin dengan pilihannya untuk pindah dari kampung halamannya dan pindah ke Jakarta kota besar yang penuh dengan cerita tersendiri. Kota yang sangat jauh berbeda dengan kehidupan di kampung halamannya yang hanya sebuah desa kecil saja.
Beberapa menit kemudian, pesawat yang mereka tumpangi sudah mendarat dengan selamat di Bandara. Mereka pun bergegas turun ketika penumpang lainnya pun turun. Faika segera memesan taksi online untuk mengantar mereka sampai di rumahnya.
"Cantiknya rumahta' Kak Faika pasti mahalki harganya rumahta' toh?" ucap Fatimah yang mengagumi rumah pribadi milik kakak sulungnya.
"Alhamdulillah berkat tabungan Kakak selama bekerja, kakak bisa beli ini rumah" ucap Faika sambil membuka pintu Rumahnya yang beberapa hari ini Dia tinggalkan.
"Alhamdulilla" ucap singkat ibu Suharti.
......................
Makasih banyak atas dukungannya 🙏
Ini novel ke Dua Fania tapi menjadi novel ke tiga Yang lulus Kontrak.🤲🥰
Alur dan cerita Tidak Ada Jodoh Yang Tertukar sangat lah berbeda dengan Novel receh lainnya Fania. Di sini Fania memasukkan sedikit dialeg Makassar yang membedakan novel ini dengan yang lainnya. Dan Novel ini lebih ringan dari Bertahan Dalam Penantian yang penuh intrik dendam 🤭.
Dukung juga Novel FANIA yang lainnya yah:
💚Bertahan Dalam Penantian BDP
♥️Cinta Yang Tulus
Semoga suka 🙏✌️..
.......... Bersambung............
by Fania Mikaila AzZahrah
Makassar, Jum'at 13 Mei 2022
__ADS_1