
Selamat Membaca..
Di dalam sebuah ruangan yang cukup mewah bahkan sangat mewah untuk ukuran othor duduklah tiga orang yang berbeda generasi. Ibu Marissa sama sekali tidak menganggap Faika adalah bawahan putranya di Perusahaannya, malahan ibu Marissa Nasution Kim sudah menganggap Faika calon menantunya yang paling ideal dan cocok untuk Rian Alaric Kim putra sulungnya.
Views ruangan keluarga di Apartemen pribadinya itu sangatlah memanjakan mata yang memandang ke arah luar jendela, di mana hampir ke seluruhan dinding ruangan itu, terbuat dari kaca sehingga membuat orang yang berada di dalam ruangan itu melihat langsung keadaan kota Jakarta dari puncak ketinggian.
Perbincangan antara Rian, Faika dan Ibu Marissa cukup santai dan terjalin seperti layaknya seorang keluarga inti saja. Faika kadang hanya sebagai pendengar setia saja tanpa ada niat untuk ikut campur atau pun ikut menimpali pembicaraan antara ibu dan anak itu.
Hingga perbincangan mereka sampai ke masalah tes DNA yang akan dilakukan oleh Nathan.
"Rian gimana dengan hasil tes DNA yang dilakukan oleh Nathan, apa hasilnya sudah keluar?" tanya Mami Marissa.
"Sepertinya hari ini baru keluar hasilnya Mi, semoga tesnya positif sehingga Nathan bisa melamar itu cewek," jawabnya.
"Mami juga sangat berharap seperti itu sayang."
"Tapi, misalnya bayi yang dikandungnya itu bukan punya Nathan, kira-kira apa yang akan dilakukan oleh Nathan selanjutnya?" tanya Mami Marissa.
"Kemungkinannya itu milik Nathan Mi, karena katanya Nathan gadis itu masih tersegel saat Nathan tidak sengaja melakukan hal itu," tuturnya.
"Kalau gitu coba hubungi Nathan untuk mengetahui hasilnya,jika kalau positif Mami akan segera datang ke rumahnya besok pagi untuk melamarnya," perintah Maminya.
Faika kembali mematung, tapi sedikit kepo dengan pembicaraan mereka.
"Siapa kira-kira cewek itu, dan Nathan siapa apa aku mengenalnya?"
Nathan yang masih terlelap dalam tidurnya, tidak terusik sedikit pun oleh telponnya Rian. Andai saja Suster yang digaji oleh Nathan tidak menyuruhnya pulang, kemungkinannya dia akan menginap di RS bersama Fahira.
"Ini anak sudah jam 11 siang masih tidur juga, kebiasaan yang masih sama seperti dulu," omel Rian.
"Ada apa Rian?" tanya ibu Marissa.
"Nathan tidak mengangkat telponnya Mi, mungkin masih tidur kali," jawabnya.
"Coba diulang terus mungkin Nathan sudah bangun," ucapnya.
Rian pun mengulangi panggilannya ke nomor ponsel Nathan. Tapi kali ini nomornya sudah sibuk.
"Nomor yang anda tuju sedang sibuk tinggalkan pesan setelah nada bit berikut ini."
"Tadi gak diangkat eeehh sekarang nomornya sibuk," ucap Rian yang tidak menyangka dengan telponnya Nathan.
Sedangkan di dalam apartemen yang tidak terlalu jauh dari Apartemen Rian, awalnya Nathan ingin mengambil satu unit di Apartemen yang ditempati Rian, tapi sayangnya stok unitnya semuanya sudah laku terjual.
Nathan segera membuka kelopak matanya setelah mendengar beberapa kali hpnya berdering sekaligus bergetar di atas meja nakas tempat tidurnya.
__ADS_1
Nathan dengan mata yang masih belum terbuka dengan sempurna, dengan enggan mengangkat telponnya, tapi setelah mendengar perkataan dari orang seberang telpon membuatnya terjingkak dan langsung mengumpulkan semua nyawanya setelah tertidur.
"Ada apa Pak Dokter?" tanya Nathan.
"Pak Nathan tes DNA yang bapak inginkan sudah keluar dan diharapakan bapak segera datang ke Rumah Sakit sekarang juga," jelas dokter.
"Ok dokter, saya akan segera otw ke RS dan tolong rahasiakan isinya dari siapa pun terutama kepada calon istriku," pintanya.
"Baik Pak sesuai yang bapak inginkan."
"Makasih banyak kalau begitu Dok," ucapnya.
"Sama-sama Pak."
Nathan segera berlari ke dalam kamar mandi, dan buru-buru membersihkan seluruh tubuhnya.
"Ya Allah semoga hasilnya positif dan janin yang di dalam rahimnya adalah milikku, bukan milik dari pria lain."
Nathan meraih kunci mobilnya di atas nakas, dan hanya minum susu saja tanpa mengisi perutnya dengan makanan, padahal sudah jam makan siang. Demi Fahira Febrina perempuan yang beberapa hari ini sudah mengusik ketenangannya.
Nathan mengecek hpnya dan ternyata banyak panggilan yang tidak terjawab dari rekan bisnisnya dan Rian.
"Banyak banget miscallnya, apa mungkin Rian ingin mengetahui hasilnya, Aku telpon saja kalau gitu."
Nathan segera memasang headset bluetooth di telinganya untuk memudahkannya berkomunikasi dengan orang lain saat berkendara mobil.
"Waalaikum salam, oiya Nathan apa hasil tesnya sudah di tanganmu?" tanya Rian.
"Belum, ini sementara menuju ke RS, ada apa Rian?" tanya balik Nathan
"Mami yang kepo sekali dengan hasilnya, katanya kalau sudah ada dan positif, Mami akan segera mempersiapkan segala kebutuhan dan Perlengkapan yang dibutuhkan dan akan dibawa besok," jelas Rian.
"Insya Allah kalau sudah ada di tanganku hasilnya pasti aku akan langsung hubungin Mami," jawabnya.
"Katanya harus dipersiapkan dari sekarang, maklum katanya orang suku Makassar itu banyak persiapan yang perlu dilakukan, jadi Mami ingin secepatnya mengetahui hasilnya," ucap Rian panjang lebar.
"Orang suku Makassar, siapa kah dia apa aku mengenalnya? tapi orang Makassar yang ada di Jakarta kan banyak bukannya cuma sepuluh orang."
Faika masih setia menjadi pendengar tanpa harus ikut berpartisipasi dalam pembicaraan mereka.
"Oke, jangan lama, Mami sudah gak sabar ingin mengetahui hasilnya Nathan," ucapnya.
"Siap Big Bos, udah dulu Aku mau fokus nyetir, doakan saja semoga hasilnya sesuai yang kita harapkan semua,"
"Amin ya rabbal alamin."
Nathan kembali menambah kecepatan mobilnya setelah selesai bertelepon ria dengan Rian saudara angkatnya.
"Kalau gitu Mami pamit pulang dahulu, oiya Faika kamu kan orang Makassar pasti tahu sedikit tentang adat orang Makassar kalau lamaran?" tanya Mami Marissa.
__ADS_1
Ibu Marissa yang awalnya ingin pamit tapi, tidak jadi gara-gara ingin bertanya tentang hal apa saja yang dipersiapkan untuk melamar.
"Mi, Rian pamit ke dalam dulu, mau mandi sudah gerah soalnya," ucap Rian dihadapan mereka.
"Ok., kalau kamu Fa apa sudah mandi kalau belum sana mandi, kebetulan di dalam kamar lantai dua ada pakaian Kanaya Kakak sepupunya Rian di dalam lemari sepertinya itu cocok untuk Kamu," ucap Ibu Marissa.
"Kalau gitu Faika pamit dulu Mi, mau ikut mandi bersama Mas Rian," ucap Faika.
Ucapan Faika barusan membuat Ibu Marissa kaget dan memelototkan matanya karena tidak percaya dengan apa yang barusan Faika katakan.
"Bu-kan maksud Faika se-perti itu Mi, maksudnya Faika juga mandi tapi, di dalam kamar yang berbeda," jelas Faika yang Sangat mengerti dengan pandangan mata Ibu Marissa.
Faika jadi salah tingkah dengan apa yang barusan dia katakan. Ibu Marissa sangat tahu dan mengerti dengan karakter dan sifat Faika yang tidak bakalan melakukan hal itu sebelum mereka sah menjadi suami istri.
"Iya Mami ngerti kok maksud Kamu, tapi ingat janji kamu yang akan tanya Mami tentang persiapan untuk lamaran adat suku Makassar," ucap Mami Marissa yang membuat langkah kakinya terhenti.
"Iye Mami," jawab Faika sambil menganggukkan kepalanya.
Langkah kaki Faika semakin menjauh meninggalkan Mami Marissa yang tersenyum tipis, punggung Faika pun sudah tertutup oleh pintu tinggi dan besar kamar yang sering dipakai Kanaya jika berkunjung ke Apartemen ini.
"Saya sangat berharap Kamu menjadi pendamping putraku, karena hanya Kamu yang disayang oleh Putraku hingga rela hidup sendirian hingga detik ini."
Sedangkan Nathan sudah sampai di parkiran Rumah Sakit DA dan melangkahkan kakinya menuju Laboratorium Rumah Sakit.
"Ya Allah kabulkan doaku semoga hasilnya positif."
Langkah kaki Nathan semakin lebar saja hingga tidak butuh waktu lama, Nathan sudah sampai di dalam ruangan dokter yang bertugas untuk melakukan tes DNA tersebut.
"Maaf ganggu waktunya Dok," ucap Nathan sebelum masuk ke dalam ruangan tersebut.
"Oh Pak Nathan silahkan masuk Pak, sama sekali saya tidak terganggu," ujarnya.
"Gimana dengan hasil tes DNAnya Dok?" tanya Nathan yang sudah gemetaran dan pikirannya sudah berkecamuk bercampur aduk.
"Ini Pak dan hasilnya adalah..." ucapan dokter terpotong karena pintu ruangannya terbuka.
Kira-kira hasil tes nya positif apa negatif yah??? Yang mau nebak silahkan diisi bagian kolom Komentarnya yah.
*Makasih Banyak atas Dukungannya dan FANIA sangat bersyukur karena masih ada yang berminat untuk mampir baca Novel Recehku yang masih butuh beberapa bab untuk direvisi.
nb:
Di dalam novel Tidak Ada Jodoh Yang Tertukar ada beberapa dialognya yang menggunakan bahasa Makassar, semoga mudah untuk dipahami yah ✌️👌*.
Mohon Maaf jika ada beberapa Kesalahan dalam penulisannya atau Typonya 🙏.
by Fania Mikaila Azzahrah
Makassar, Rabu, 25 Mei 2022
__ADS_1