
Sesampainya di sebuah kafe, mereka memilih duduk di sudut ruangan. Seorang pelayan datang membawa daftar menu dan menyerahkan kepada davin. Belum sempat davin mengambilnya langsung di sambar oleh dhini.
"mbak, siomay satu, chicken fingers satu, crispy chicken satu, sama omelet mie satu. Minumnya jus alpukat satu sama air mineral satu" dhini menyebutkan pesanannya dan diangguki oleh pelayan tersebut.
"Dhin, itu pesanan kamu, mau dimakan semua ?" tanya davin penasaran. Pasalnya melihat tubuh dhini yang mungil seperti ini tak disangka ternyata makannya banyak juga.
"He'em bang.. ,tenang aja ntar aku abisin semua kok. Aku lagi masa pertumbuhan ini jadi harus banyak makan" ucap dhini dengan polosnya sambil terus memainkan ponselnya.
"Mbak, saya pesen nasi goreng seafood aja satu. Minumnya jus melon hangat ya mbak" davin menyebutkan pesannya.
"Dhin, kamu laper banget apa nafsu banget, itu pesanan sampai sebanyak itu" ketus davin yang penasaran sejak tadi.
"ish, udah dibilangin juga dhini lagi masa pertumbuhan bang. Abang tenang aja, ntar dhini bayar sendiri deh" ucap dhini sambil terus memainkan ponselnya dan tak sedikitpun tak menoleh kearah davin.
__ADS_1
Davin geram, lalu merampas ponsel milik dhini. Dhini pun merengek dengan manja meminta handphone nya dikembalikan. "Baaaang... , siniin handphone dhini. Abang kan punya handphone sendiri, kenapa ambil punya dhini sih.." pintanya manja.
Davin yang gemesh melihat rengekan dhini, malah tertawa dan semakin menggodanya. "Kamu sih liat ke hp mulu. Abang nya nanya, matanya tetep ke handphone" keluh davin dengan wajah yang dibuat-buat kesal, namun terlihat imut untuk seorang lelaki tampan.
Pelayan pun datang membawa pesanan mereka, dhini langsung tersenyum sumringah memandang semua pesanannya sudah tersaji di atas meja mereka. Diambilnya satu persatu makanannya, dengan lahap dia menyantapnya hingga tanpa dia sadari wajahnya sedikit belepotan. Davin mengambil tisyu, dengan perlahan menyeka setiap sudut bibir dhini yang terlihat belepotan karena makanannya.
"Dasar bocah titisan dewi kuan'in, makan aja masih belepotan gini. Kek udah seminggu gak makan kamu dhin" ejek davin.
"Dhini lagi kesel ama abang , dhini kalo lagi kesel sukanya makan atau jajan" ucapnya dengan susah payah karena mulutnya penuh dengan makanan.
"ya disini lah bang, kan masuk dari mulut" jawab dhini sambil mengelus-elus perutnya dia menaik turunkan alisnya lalu tersenyum puas.
"Oh iya dhin, katanya kamu mau buat usaha sendiri ya" tanya davin di sela obrolan mereka. "emang kamu mau usaha apa dhin ? "lanjut davin.
__ADS_1
"Rencananya dhini pengen buka kafe tempat nongkrong anak-anak remaja gitu bang. Dhini udah tanya ruko yang sebelah kanan deket kampus itu, Dhini mau sewa 2 ruko itu dijadiin satu" jelas dhini diangguki oleh davin.
Sebenarnya sudah lama dhini merencanakan ini, namun papa Andi belum menyetujui karena dhini masih sekolah waktu itu. Papa tidak ingin sekolah dhini terganggu dengan aktifitas lain yang mungkin bisa membuat jadi tidak fokus belajar.
"Abang bantuin dhini ya, tante ratih pulang kampung soalnya lagi ada kawinan keponakannya" pinta dhini.
"Oke ayank nya abang, apasih yang nggak abang lakuin buat dhini" ucap davin menyentil pipi chabi dhini, dia memang senang sekali menggoda gadis ABG itu.
Tiba-tiba seorang lelaki setengah tua datang menghampiri mereka dan langsung duduk merangkul bahu dhini. Davin terkejut tersedak minuman yang di sedotnya, matanya melotot melihat lelaki yang entah siapa itu.
Bersambung..
...🙏🙏🙏...
__ADS_1
...thanks for everybody...