Takdir Dari Tuhan

Takdir Dari Tuhan
Persiapan untuk Karina


__ADS_3

Selesai berbelanja kebutuhannya, Karina kembali ke hotel untuk mengambil barang-barang miliknya. Hari ini juga rencananya dia akan cek out dari hotel dan menempati apartemen miliknya.


Tak banyak barang bawaan, karena memang hanya berupa pakaian dan beberapa peralatan elektronik saja yang dibawanya dari Amerika. Tak ingin repot-repot, dia bisa membeli apapun yang dia inginkan sekarang. Seperti apartemen misalnya, bahkan dalam waktu dekat ini dia juga berencana untuk membeli sebuah mobil.


Karina memang gadis yang sangat periang, tak butuh waktu lama dia bisa akrab dengan orang yang bahkan baru dikenalnya. Seperti halnya Davin, awal mereka berkenalan juga karena saat mengantri disebuah mini market. Yang kebetulan saat itu belanjaan mereka tertukar karena Karina kebelet ingin ke toilet.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Lelah dengan aktivitas ranjangnya, Dhini kembali tertidur. Sementara Davin sudah kembali berkutat dengan file-file yang ada di mejanya.


"Halo, Jar bisa ke ruangan saya sebentar" ucapnya menelepon Fajar.


Fajar bergegas menuju ruang atasannya. Dia tau kalau saat ini istri bosnya sedang ada disana. Fajar mengetuk pintu, padahal biasanya dia langsung saja masuk le dalam tanpa mengetuk pintu sekalipun.


"Udah masuk aja, ngapain pake ngetuk pintu segala. Mau aku bukain pintu buat kamu apa ?" ucap Davin dari dalam.


Fajar masuk kedalam ruangan sambil celingukan ke kanan dan kiri. "Kamu nyari apa Jar, celingak-celinguk gak jelas gitu" tanya Davin.


"Tadi ada istri pak bos datang, takut ngeganggu saya pak, hehehe" jawabnya nyengir.


"Ganggu apa, emang saya lagi ngapain kamu lihat. Fikiran kamu aja tuh yang terlalu jauh traveling kemana-mana" sergah Davin lagi.

__ADS_1


(hilih 😏 bang Davin... othor tau lho, nyimak dari tadi 😏😏)


"Iya maaf pak, kan saya fikir–"


Belum sempat Fajar melanjutkan kata-katanya, lima jari Davin langsung mengarah tepat ke wajahnya "STOP !! Kamu buruan nikah deh, biar gak kepo sama urusan anu-anu"


"Iya iya pak bos, gak usah marah-marah gitu" jawab Fajar. "Trus ini mau ngapain pak bos manggil saya kesini" lanjutnya.


"Oh iya, untung kamu ingetin. Tolong kamu beresin ruangan yang di pojok sebelah ruang rapat, buat Karina. Mungkin besok atau lusa dia udah masuk kantor" titah Davin.


"Karina yang mana ya pak bos ? Apa pelayan kantin yang dibawah itu mau naik jabatan ya ?" tanya Fajar.


Fajar langsung otomatis memegang hidungnya. Baru di gertak saja dia sudah ngeri membayangkan hidungnya bakal seperti apa nantinya. Karena pengalaman dia pernah disentil sebelumnya.


"Kamu masih disini juga, beneran mau disentil nih kayaknya" ucap Davin beranjak dari kursinya.


"Eh, enggak pak bos, iya ini saya laksanakan" jawab Fajar dan berlari meninggalkan Davin.


Awal mula Davin memegang perusahaan, Fajar memang terlihat sangat kaku. Mungkin karena masih awal, fikirnya. Namun setelah lama bersama, ternyata dia anak yang lucu menurut Davin. Bahkan Davin sering kesal melihat kekonyolannya.


Tak jarang Davin juga tertawa setelah mengerjainya. Fajar memang lelaki pintar, namun keluguannya membuatnya sering di bully teman-temannya.

__ADS_1


Dhini sudah rapi kembali dengan pakaiannya, setelah tertidur pulas kerena lelah harus beradu dengan suaminya. Selesai mandi dan sedikit memoles wajahnya dia keluar dari kamar tersembunyi itu.


Melihat suaminya sedang sibuk dengan pekerjaannya, Dhini pun menghampirinya. "Ada yang bisa aku bantu gak bang, daripada gabut aku" ucapnya.


"Enggak kok yank, abang udah mau selesei ini. Habis ini kita bisa pulang, paling lama setengah jam lagi" jawabnya.


Dhini lalu duduk di sofa, sambil menunggu Davin dia menonton televisi disana. Membolak-balikan Chanel tv tak ada satupun yang minat dilihat olehnya. Akhirnya dia lebih memilih menonton drakor lewat ponselnya.


Handphone Davin berdering, panggilan masuk dari Karina. Davin bingung harus mengangkatnya atau tidak. Dua kali panggilan tetap tidak di jawab, membuat Dhini heran dan bertanya.


"Handphone nya kenapa gak di angkat sih bang ? Dari siapa itu, lagi perlu mungkin sama kamu" tanya Dhini.


"Biarin aja yank, abang males angkatnya. Biar cepat selesai ini kerjaan abang, kita bisa pulang. Atau kamu mau keman lagi, jalan-jalan biar gak bosen" jawab Davin.


"Oke deh bang, aku browsing dulu tempat yang enak buat nongki-nongki" ucap Dhini kembali berkutat dengan ponselnya menuju mbah G.


Bersambung...


...TERIMAKASIH...


...🙏🙏🙏🙏🙏...

__ADS_1


__ADS_2