Takdir Dari Tuhan

Takdir Dari Tuhan
Bolos kerja


__ADS_3

Setelah menghabiskan sarapan pagi buatan istrinya, Davin bergegas menuju kamar mandi. Segera dia mengguyur tubuhnya, terasa lebih segar rasanya. Di ruangan khusus lemari pakaian, sudah tersedia kemeja dan celana kerja miliknya, tak lupa jas dengan warna senada dengan celananya. Dhini selalu menyiapkan pakaian suaminya setiap hari.


Davin pun turun ke bawah, mencari keberadaan istrinya. Ke ruang tengah, mungkin saja dia sedang menonton televisi. Tapi tidak, sama sekali tak ada tanda-tanda istrinya sedang disana.


Davin melangkah ke dapur, biasanya Dhini suka ngobrol bersama bi Las, fikirnya. Ternyata tidak ada juga. Bi Las malah terlihat sedang duduk mengobrol bersama mang Kok.


Bi Las yang melihat gelagat mencurigakan dari majikannya pun bertanya "maaf den, ada perlu sesuatu ya, biar bibi bikinin ?" tanya bi Las.


"Eh enggak kok bi, aku cuma lagi nyari Dhini. Tadi katanya mau ke bawah, bibi liat gak ?" jawab Davin yang kembali bertanya.


"Neng Dhini ada di taman belakang den, tadi mamang lihat lagi duduk sambil dengerin musik " jelas mang Kok yang sudah berada di belakang bi Las.


"Oooh ya udah kalo gitu aku ke sana dulu ya bi, mang, makasih ya informasi nya " jawab Davin tersenyum dan pergi meninggalkan suami istri yang sedang terbengong dan saling pandang itu.


Davin berjalan menuju taman belakang rumah, melihat istrinya tengah duduk di bangku taman itu. Dia lalu memeluk tubuh Dhini dari belakang dan mendaratkan dagunya di bahu Dhini.

__ADS_1


"Yank, kenapa sendirian di sini. Abang cariin kamu dari tadi lho" ucap Davin sembari menciumi pipi gembul istrinya.


Davin duduk disebelah istrinya, tangan kanannya merangkul bahu Dhini dari belakang, sedangkan tangan kirinya menggenggam tangan istrinya.


"Yank, kamu marah sama abang, hmm ?" tanya Davin.


Dhini memutar pandangannya, yang sedari tadi lurus kedepan kini mengarah ke suaminya. Tampak Davin yang hanya mengenakan kaus polos putih dengan celana pendek hitam.


"Abang kenapa pake baju gini, kan udah aku siapin baju buat kerja abang" tanya Dhini dengan pandangan menelisik.


"Kek anak sekolah aja pake bolos segala" Dhini mengambil ponselnya yang sedari tadi di letakkan di sisi pot bunga. Lalu mematikan musik yang didengarkannya tadi.


Dhini beranjak dari duduknya, akan pergi meninggalkan Davin. Namun tak semudah itu, Davin menarik lengannya hingga Dhini terjatuh dipangkunya, terduduk dengan posisi menyamping.


"Kamu mau kemana yank, udah donk marahnya sama abang. Abang minta maaf ya sayang, abang salah sama kamu. Abang udah nyakitin perasaan kamu, abang gak akan mabuk lagi yank" pinta Davin memeluk tubuh Dhini.

__ADS_1


"Yank, kamu mau minta apapun abang akan lakukan, tapi jangan marah sama abang ya. Abang ga bisa tenang kalo kamu ngambek gini ke abang" Davin masih terus berusaha mendapatkan kembali senyuman istrinya yang hilang.


Dhini masih diam, tak berucap sepatah katapun. Davin menangkup kedua pipi istrinya dan mulai melahap bibir Dhini perlahan, dan lama kelamaan suasana diantara keduanya mendadak menjadi gerah.


"Yank, kita lanjut di kamar yuk. Pistol abang udah dikokang nih, siap bertempur di medan perang" ajak Davin. Dua sejoli itu pun masuk ke dalam rumah.


Terdengar suara dari arah pintu depan memanggil nama Davin dan Dhini, mengetuk pintu dan mengucap salam. Bi Las langsung berlari ke depan membuka pintu.


Ternyata Mami Evelyn dan papi Adit yang datang. Davin dan Dhini saling pandang, melempar pertanyaan dengan tatapan mata.


Dhini langsung berlari menghampiri mertuanya. Sementara Davin yang sudah setengah jalan harus pasrah menahan gejolaknya.


"Sabar Vin, sabar. Ntar malam kita lanjutkan, mau sampe pagi juga boleh, gak akan terganggu kek gini" Davin pun turut menyambut kedua orang tuanya.


Bersambung...

__ADS_1


Terimakasih buat yang masih setia membaca 🙏🙏


__ADS_2