
Masih ada yang menantikan kelanjutannya kah ππ maafkan jika up yang terlalu lamaππ
Tak bosan-bosannya Dhini selalu meminta apapun yang diinginkannya. Bak menguji kesabaran sang suami, semua permintaan selalu terpenuhi.
Seperti pada malam ini, sang Princess terbangun ditengah malam. Saat ini dia merasakan sangat lapar dan ingin makan roti bakar selai strawberry. Davin yang masih terlelap tidur dengan lengannya yang menjadi bantal untuk sang istri.
Karena tak ingin merepotkan Davin, Dhini berupaya membuatnya sendiri. Yah, karena semua keperluan mereka memang sudah tersedia di lantai atas. Jadi Dhini juga tak susah payah untuk turun ke bawah.
Tapi sangat disayangkan, selai strawberry yang diinginkannya ternyata habis. Yang ada hanya selai kacang yang sama sekali tak diinginkan olehnya.
Maksud hati tak ingin merepotkan sang suami, namun nyatanya malah harus membangunkannya juga.
"Bang, bangun..." Dhini menggoyangkan lengan kekar Davin, namun Davin tak bergeming sedikitpun.
Dicobanya sekali lagi, Davin hanya berdehem dan mengubah posisi tidurnya. Yang tadinya dia miring ke kiri, sekarang menjadi telentang.
Ide jahilnya pun muncul seketika. Didekatkannya wajahnya mengarah ke telinga sang suami, lalu membisikkan sesuatu.
Benar saja, ide itu sangat cemerlang. Davin langsung tersenyum dan mulai membuka matanya. "Ayo sini sayang" sambil menepuk lengannya yang terbentang.
"Duduk dulu bang" pintanya manja.
Davin menurut dan duduk. Ditatapnya kedua bola mata istrinya. Ada rasa aneh ketika Dhini menyunggingkan senyum kala itu.
"Yank ini masih tengah malam, jangan usil deh" dia kembali menjatuhkan dirinya ke kasur dan menutup tubuhnya dengan selimut.
"Sabar ya sayang, papa kamu sepertinya gak mau deh" drama sang Princess sembari mengelus perutnya.
__ADS_1
Wajah Davin menyembul dari balik selimut. Tampak wajah memelas istrinya sedang mengelus perut buncitnya. Davin merasa bersalah pada istrinya.
Dia duduk kembali, dan menggenggam tangan Dhini. "Maaf ya sayang" ucapnya menyesali.
Kini wajahnya mengarah tepat di depan perut buncit sang istri. "Anak papa mau apa ? hmmm ?" Davin mengelusnya perlahan lalu menempelkan telinganya disana.
Ternyata sangat baby meresponnya dengan sebuah gerakan tepat pada sasaran. "Aww" Dhini mengerang merasakan nyeri pada perutnya.
"Kenapa sayang, sakit ya? "
"Sepertinya anak papa nanti mau jadi pemain bola ya" ucapnya terkekeh.
Davin mengecup perut istrinya. "Baiklah sayang-sayangku, malam ini papa akan memanjakan kalian" dia beranjak dari tempat tidurnya.
Davin duduk mensejajarkan diri disamping istirnya, merangkulnya lalu merebahkan kepalanya Dhini ke bahunya.
"Aku lagi pingin roti bakar selai strawberry. Tadinya aku gak mau bangunin kamu, aku mau buat sendiri aja. Tapi selai strawberry nya habis" ucapnya manja.
"Kalau gitu biar aku beli ke market dulu ya sayang. Di ujung jalan sana kan buka 24 jam tuh" Davin beranjak dari duduknya.
"Maafin aku ya bang selalu merepotkan kamu" Dhini menunduk dengan wajah yang ditekuk.
Davin bersimpuh di hadapannya, lalu menggenggam kedua tangannya, mengecupnya bergantian.
"Sayang, jangan minta maaf sayang. Ini sudah kewajibanku sebagai seorang suami dan papa yang bertanggung jawab atas keluargaku sayang"
Davin mengangkat mendongak menatap wajah sang istri. Air matanya menetes tepat mengenai hidung Davin.
__ADS_1
Davin menarik dagu istrinya hingga wajah mereka saling menatap. Mengusap matanya yang basah dengan kedua jempolnya.
"Jangan menangis lagi, abang mohon... Maafkan abang karena belum bisa menjadi suami yang terbaik untukmu yank" pintanya dengan memohon.
Dhini hanya mengangguk tak bisa berkata-kata lagi. Davin segera berdiri dan menarik tubuh Dhini kedalam pelukannya.
π
π
π
π
"Tara, roti bakar selai strawberry ala chef Davin sudah selesai dan bisa dinikmati " ucapnya mengangkat piring bak koki terkenal.
Davin melangkahkan kakinya menuju kasur. Dhini yang lelah menanti ternyata malah tertidur pulas.
"Sayang, ini rotinya bakarnya sudah mateng yank" ucap Davin membangunkan istrinya.
Dhini malah membalikkan tubuhnya membelakangi Davin "besok aja bang, aku ngantuk banget" jawabannya enteng.
"Allahu Akbar, manisnya istriku" ucapnya sambil memakan roti bakar kebanggaannya dan memujinya sendiri.
Setelah menghabiskannya, dia turut merebahkan kembali tubuhnya. Memeluk istrinya dari belakang dan terlelap bersama dalam selimut.
Bersambung...
__ADS_1
Terimakasih atas dukungan semuanya ππ