
"Halo, hmm... Ya udah deh, kalau kamu gak bisa, gak apa-apa, lain waktu aja" Barbie menutup panggilan telepon dari pacarnya.
Bisnis kaffe milik sahabatnya yang ditangani olehnya berjalan mulus, bahkan dia bisa meraup keuntungan lebih dari bulan-bulan sebelumnya. Loyalitasnya sebagai penanggung jawab dapat diacungi jempol.
Barbie sudah selesai dengan kegiatannya, malam ini Windy mendapatkan undangan pernikahan dari temannya, sebelumnya dia memang sudah berjanji dengan pacarnya. Namun sang pacar berhalangan karena urusan pekerjaannya yang mengharuskannya untuk keluar kota. Untuk menghilangkan rasa kesalnya, dia mengajak sahabatnya Batman. Tentu saja, karena Batman yang memang masih jomblo tidak ada jadwal apel di malam minggu.
Diluar, Amir membunyikan klakson mobilnya, melambaikan tangannya dari dalam mobil memanggil Windy. Windy pun langsung masuk ke dalam mobil, duduk di bangku sebelah kemudi dan tak lupa memakai safety belt nya. Segera Amir melajukan mobilnya, demi menyenangkan hati sahabatnya itu, hari ini dia rela melakukan apapun.
"Kita mau kemana sih ini sebenarnya" celetuk Amir disela kesunyian mereka.
"Aku ada undangan temen nikahan Mir, tapi Bagas ngggk bisa nemenin, soalnya ada kerjaan mendadak keluar kota katanya" jawab Barbie.
"Aku udah dandanan cantik juga ini, sengaja bawa baju ganti biar langsung pergi. Taunya Bagas malah gak bisa pergi. Tau gitu kan aku mending gak usah siap-siapin dari sore, bikin kesel aja tuh orang" Windy yang terus saja ngedumel di dalam mobil.
Amir yang tau mood sahabatnya sedang anjlok, mencoba mencairkan suasana. Disetelnya musik bernuansa happy, dan dia juga ikut berdendang mengikuti lantunan lagu.
π
...****************...
__ADS_1
π
Dhini tengah asik dengan laptopnya, mengecek semua email yang dikirim dari Barbie dan Batman. Setiap seminggu sekali mereka memang mengirimkan laporan keuangan kaffe kepada Dhini. Sembari mendengarkan musik, lagu yang dinyanyikan oleh Celine Dion menjadi mood booster baginya.
Mang Kok yang sedang menyirami tanaman pun tampak terhibur dengan lantunan lagu yang diputar Dhini. Kepalanya tampak manggut-manggut sesuai irama musik. Dhini yang duduk di kursi mengamati dari atas balkon pun tertawa. Ditemani segelas jus jeruk dan keripik kentang kesukaannya, dia menunggu suaminya pulang ke rumah.
Setelah menikah, Dhini memang hanya berdiam diri di rumah. Hanya menerima laporan dari dua sahabatnya itu saja. Tak jarang dia merasa bosan seharian di dalam kamar saja, sesekali dia ikut membantu bi Las membersihkan rumah. Dhini memang terbiasa hidup mandiri, jadi jika hanya sekedar membersihkan rumah saja dia tak kalah cekatan.
"Kamu ngapain disini sendirian, melamun lagi. Suaminya pulang sampe ga disambut gitu" tanya Davin yang baru saja pulang dari kantor mendapati istrinya yang melamun di balkon.
"Eh abang udah pulang ya. Ini lagi cek laporan si Barbie sama Batman bang. Abang mandi dulu gih, biar Dhini buatin teh hanget" ucap Dhini mencium punggung tangan suaminya lalu mengambil tas yang dipegangnya.
Mereka pun turun, bi Las sudah menyiapkan makanan di meja. "Bi Las sama mang Kok udah pada makan belum ?" tanya Dhini sesaat bi Las akan meninggalkan mereka.
"Belum neng, ntar aja kalo semuanya udah selesai" jawabnya.
Dhini lalu beranjak dari kursinya menyampiri bi Las, menuntunnya untuk duduk di kursi kosong sebelahnya. "Bang, tolong panggilin mang Kok deh sekalian itu lagi di belakang, biar kita makan barengan" ucap Dhini.
Setelah semuanya berkumpul, mereka makan malam bersama. Ada rasa canggung yang di rasakan bi Las dan mang Kok. Wajar saja, ini pertama kali bagi mereka makan di meja makan bersama dengan tuannya. Dhini merasa sangat senang dengan bi Las, bahkan dia sering ikut berbelanja ke pasar bersama bi Las.
__ADS_1
...****************...
Windy yang tengah menikmati hidangan di pesta, tiba-tiba saja tersedak makanan yang dikunyahnya. Segera Amir memberikan segelas air kepadanya. "Pelan-pelan makannya Win, jangan buru-buru gitu" ucap Amir memberikan tisyu kepada Windy yang terbengong.
"Win, kamu kenapa. Hey... kok malah bengong, kesambet setan gedung ini kali kamu ya ?" tanya Amir menggoyangkan tubuh Windy.
"Mir, itu... itu..." ucapnya terbata-bata.
"Itu apa sih" jawabnya melihat arah yang ditunjukkan oleh Windy.
Seketika Amir pun kaget dengan apa yang dilihatnya. Wajah Windy seketika berubah merah, rasa panas menyeruak di dadanya. Windy berjalan meninggalkan meja Amir yang masih tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.
π³lihat apa ya πππ
Bersambung...
...Terimakasih...
...ππππ...
__ADS_1