Takdir Dari Tuhan

Takdir Dari Tuhan
Tangisan Dhini


__ADS_3

Sepanjang perjalanan, Dhini hanya memandang ke luar jendela mobil. Jelas saja rasa kesal masih mengganjal di hatinya, sebelum mendapatkan penjelasan dari suaminya.


"Yank, liat sini dong yank. Abang minta maaf ya yank" pinta Davin menggenggam jemari Dhini.


"Lepasin bang, aku jijik di pegang sama kamu. Bersihkan dulu tubuhmu setelah bersama wanita itu" sergah Dhini menghempaskan tangan Davin.


"Abang gak melakukan apa-apa yank, abang berani sumpah yank" ucapnya kembali memohon.


"Cukup bang, aku lelah dengan semua ini. Aku hanya ingin menenangkan fikiran untuk saat ini" ucap Dhini tegas, tetap tak menoleh ke arah Davin sedikitpun.


Air matanya kembali menetes, mengingat kejadian kala itu. Wanita manapun pasti akan terluka bila dihadapkan dengan situasi seperti ini.


Sesampainya di rumah, Dhini masuk langsung menuju kamarnya. Diletakkannya tas kecil yang dibawanya tadi di atas nakas. Dhini langsung menjatuhkan tubuhnya ke atas ranjang berukuran besar itu.

__ADS_1


Davin masuk langsung duduk di tepi ranjang "yank, dengerin penjelasan abang dulu yank. Ini, ini gak seperti yang kamu fikirkan yank. Abang gak berbuat apa-apa di sana sayang" ucap Davin memelas sambil memegang bahu Dhini yang sedang meringkuk.


"Aku bilang sama kamu dari tadi, jangan sentuh aku dengan tangan kotormu bang. Aku gak sudih dipegang sama kamu setelah bersama wanita lain" cerca Dhini dengan isakan tangisnya menepis tangan Davin.


"Oke baik, kalau itu mau kamu. Abang bersumpah demi apapun yank, demi cinta abang sama kamu. Abang gak melakukan apa-apa sama Karina disana yank" Davin mencoba membela diri, dengan nada yang mulai meninggi membuat Dhini malah semakin terisak dalam tangisnya.


Mendengar Davin menyebutkan nama Karina, Dhini langsung bangkit dan duduk di atas ranjang. Matanya merah penuh amarah, dengan nafas yang memburu dia melupakan emosinya saat itu.


"Ooh jadi pelakor itu Karina namanya. Gak melakukan apa-apa kamu bilang bang, kenapa bisa dia seenaknya peluk kamu. Dan kenapa bisa kalian berada di dalam ruangan yang jelas-jelas hanya ada kalian berdua disana" jawab Dhini dengan emosi yang sedari tadi sudah memuncak.


"Aku benar-benar gak habis fikir dengan semua ini bang, tolong tinggalkan aku. Aku hanya ingin sendiri saat ini, atau jika tidak, aku yang akan keluar dari sini" ancam Dhini dengan suara datar.


"Oke sayang, abang akan pergi. Tapi abang mau mandi dulu ya, gerah ini gara-gara si kadal tadi" ucap Davin beranjak menuju kamar mandi.

__ADS_1


Dhini hanya diam seribu bahasa. Setelah selesai mandi, Davin tak menemukan pakaian yang biasanya selalu disediakan istrinya untuknya. Tentu saja tidak, Dhini sedang marah saat ini. Davin mengambil sendiri kaus dan celana pendeknya.


selesai berpakaian, dilihatnya Dhini sudah tertidur dengan wajah sembab. Sisa-sisa air matanya masih terlihat di wajahnya. Ditariknya selimut hingga ke dada Dhini, dan di usapnya bekas air mata yang tersisa.


"Maafin abang yank, sudah membuatmu menangis. Abang janji, gak akan menyakiti hati kamu lagi" ucap Davin lalu mengecup kening dan kedua mata Dhini yang terpejam.


Sesekali masih terdengar suara isakan, walaupun Dhini sudah terlelap. Hembusan nafasnya perlahan mulai teratur dan Dhini tertidur begitu lelap dengan rasa lelah yang dilaluinya hari ini.


Davin pun berbaring disebelahnya, menghadap ke arah istrinya. Digenggamnya jari tangan Dhini, hingga dia turut terlelap bersama di malam penuh haru itu.


Bersambung...


...TERIMAKASIH...

__ADS_1


...🙏🙏🙏...


__ADS_2