
Pendarahan yang begitu besar membuat nyawa Ale tak tertolong. Dia meninggal sesaat akan di bawa ke Rumah Sakit. Sedangkan Ibu Amel yang kondisinya tak begitu parah, kini mulai membaik.
Davin yang begitu senang saat memastikan istrinya memang hamil, dia pun mulai protektif terhadap Dhini. Banyak larangan yang diterapkan olehnya, serta mengurangi kegiatan istrinya agar bisa lebih banyak beristirahat.
Seperti pada pagi ini, Dhini merasa sangat mual mencium aroma sabun mandi. Dhini masih tergolek di atas kasurnya saat Davin keluar dari kamar mandi.
Seperti guncangan kuat, perutnya terasa mendorong sesuatu untuk segera dikeluarkan isinya. Kepalanya terasa berkunang-kunang, menahan rasa mual yang teramat menyiksanya.
Davin datang dan menghampiri istrinya "kamu gak apa-apa kan yank ?" tanya Davin duduk di tepi ranjang.
Masih dengan handuk yang melilit di pinggangnya, Davin memijat kaki Dhini yang tertutup selimut bergambar boneka beruang itu.
Dhini duduk dan langsung memuntahkan isi dalam perutnya tepat mengenai Davin yang saat ini berada di hadapannya.
"Astaga sayang, abang baru selesai mandi lho, masa harus mandi lagi" ucapnya terkejut mendapat serangan lahar dingin yang menyembur dari mulut Dhini.
"Maaf " jawab Dhini lemah tak berdaya.
"Gak apa-apa yank, abang rela demi kamu Dan anak kita" jawab Davin tersenyum.
Davin membantu Dhini merebahkan kembali tubuhnya. Mengganti selimut yang baru untuk menutupi tubuh Dhini kembali.
Setelah mengulang kembali mandinya, Davin bersiap akan pergi ke kantor. Dengan kemeja putih bergaris vertikal dan celana hitam dirinya tampak menawan.
__ADS_1
Walaupun Dhini merasa lemas, namun dia tetap ingin selalu memakaikan dasi suaminya. Karena menurutnya itu hal romantis yang harus dilakukan setiap hari sebelum Davin berangkat ke kantor.
"Kamu masih pusing yank ?" tanya Davin yang duduk berhadapan dengan Dhini yang sedang memakaikan dasinya.
"Hmm" jawabnya.
"Kamu mau apa yank ?" tanya Davin kembali.
"Kamu" jawabnya lugas.
"Kamu lagi pengen yank" pertanyaan berlanjut.
"Hmm" jawab Dhini kembali.
"Kenapa dibuka lagi ?" tanya Dhini terpelongo melihat suaminya.
"Tadi katanya lagi pengen, ya udah ayoh. Aku siap lahir dan batin kok yank, apalagi buat kamu, enak kok ditolak" tutur Davin sembari membuka kembali kemeja yang sudah rapi dikenakannya.
"Masya Allah bang, fikiran kamu itu gak jauh-jauh dari sana ya. Aku kan gak bilang pengen apa" ucap Dhini.
Davin terdiam, menatap dalam istrinya. Merengkuh tubuhnya dan kembali membaringkannya ke ranjang.
"Terus kamu pengennya apa yank ?" tanya Davin kembali yang saat ini sudah berbaring disebelah Dhini.
__ADS_1
Sambil memilin-milin ujung rambut istrinya, Davin memeluk tubuh Dhini. Merengkuhnya dalam dekapan dada bidangnya yang saat ini tak mengenakan apapun.
Sejak hamil, Dhini memang suka sekali aroma tubuh suaminya. Bahkan sudah menjadi candu baginya harus selalu berada di dekatnya bila dia merasa pusing.
"Gimana sekarang, udah enakan kan ?" tanya Davin masih setia disana.
"Hmm" jawab Dhini.
Wajahnya masih terbenam di dada bidang Davin, hingga rasa kantuk mulai menyerang. Davin tampak prihatin dengan kondisi istrinya yang selalu seperti ini setiap hari.
Begitulah ibu yang sedang mengandung, mengalami hal yang berbeda-beda. Ada yang sehat-sehat tanpa merasakan mual, namun ada juga sebaliknya.
Betapa beratnya perjuangan seorang ibu, dari mulai kita di dalam perut hingga saat akan keluar dari rahimnya.
Semoga sehat selalu buat semua ibu-ibu yang selalu berjuang untuk keluarganya. Bagaimanapun lelahnya dia tetap terlihat kuat untuk keluarganya. Sungguh besar jasa seorang ibu dan tak akan pernah terbalaskan. Seperti kata pepatah, Kasih Ibu Sepanjang Jalan.
Bersambung...
...Jangan lupa like & komen nya ya guys ...
...Terimakasih...
...🙏🙏🙏...
__ADS_1