
"Astaghfirullah Dhini... pertanyaan kamu itu jangan buat mama jadi mikir yang mecem-macem deh Dhin." Jawab mama Miranda cemas.
"Hehehe... enggak ma... cuma nanya doang kok, nervous aku ma..." ucapnya meremas jari-jemarinya yang saling bertautan.
Tiba saat yang dinantikan, yaitu akad nikah. Davin sudah duduk berhadapan dengan papanya Dhini. Hatinya yang terus menerus berkomat-kamit menghafal, agar tak salah nantinya.
MC segera memulai acara dengan kata-kata pembukaan dan diikuti dengan do'a agar proses akad nikah berjalan dengan lancar. Setelahnya pembacaan ayat suci Al Qur'an yang dibawakan oleh saudara sepupu dari keluarga Dhini.
Papa Andi menjabat tangan Davin "saya nikahkan engkau Davin Aditya Pratama bin Aditya Baskoro dengan Dhini Apriani binti Andi Surahman dengan mas kawin seperangkat perhiasan dan uang tunai sebesar lima puluh juta dua puluh lima ribu rupiah dibayar tunai"
"Saya terima nikahnya Dhini Apriani binti Andi Surahman dengan mas kawin tersebut dibayar tunai" jawabnya mantap dengan satu tarikan nafas.
"Bagaimana semuanya, sah ?" tanya pak penghulu.
serentak semuanya menjawab "sah".
"Alhamdulillah" ucap pak penghulu dilanjutkan dengan do'a, lalu kedua pengantin menandatangani buku nikah . Dan semua proses berjalan dengan lancar hingga selesai.
πΈοΈ
πΈοΈ
πΈοΈ
πΈοΈ
Acara akad nikah berjalan dengan lancar hingga selesai, tinggal menunggu acara resepsi yang akan diadakan di hotel X malam nanti. Semua sanak saudara yang berkumpul mulai disibukkan dengan berbagai persiapan menuju resepsi.
__ADS_1
Sedangkan sepasang pengantin baru itu kini sedang berada di kamar Dhini. Kamar yang dihias dengan indah walau sederhana. Cangggung, sudah pasti itu yang dirasakan keduanya. Padahal bukan kali pertama mereka berduaan di tempat tertutup seperti ini.
Walau memang sering mereka berduaan, namun keduanya memang tidak pernah melanggar batasan. Hingga Dhini membuka percakapan untuk menghilangkan rasa canggungnya.
"Bang, gak laper apa ? Dhini laper lho bang, kita makan yuk bang" ajak Dhini yang duduk di sisi ranjangnya. Sedangkan Davin yang sedang merebahkan tubuhnya di kasur langsung bangkit mendudukkan dirinya.
"Kamu mau sekarang ? tapi ini masih sore lho yank, kita masih mau acara resepsi lagi di hotel yank. Nanti malam aja di hotel ya... Kamu tahan dulu ya sayang, abang aja nih dari tadi juga udah pengen banget tapi masih bisa abang tahan" ucap Davin ngawur dan entah menjurus ke arah yang mana.
(hadeeeuuh π si Davin, aaaah... entahlah...π othor juga bingung ππ)
"Hah" jawab Dhini dengan wajah melongo dan kening yang mengerut hingga menyatukan kedua alisnya yang tebal.
"Abang ngomongin apa, Dhini laper tau, mau MAKAN NASI" ucap Dhini dengan menekankan kata makan nasi sembari mengusap wajah Davin dengan telapak tangannya.
Davin malah tertawa melihat Dhini yang tampak kikuk dengan situasi saat ini. "Iya abang tau sayang, ayo kita makan, kamu juga harus kuat buat persiapan ntar malam"
"Naaaah ini dia pengantin barunya datang, ucap salah seorang saudara dari mama Miranda yang sedang berkumpul diruang tengah. Mereka yang sedang asik mengobrol sedang membicarakan tentang mahar pernikahan yang menurut mereka unik itu.
"Dhin, kenapa mahar nikahnya nanggung gitu ada dua puluh lima ribu rupiah nya?" tanya salah seorang di angguki juga oleh beberapa orang lainnya.
"eehh, itu... hahaha" Dhini tertawa mengingatnya.
"Malah ketawa di tanyain juga kamu ihhh" ucap salah seorang yang lebih muda sambil menepuk lengan Dhini yang duduk disebelahnya.
"Itu permintaannya Dhini, maharnya cuma minta dibelikan ice cream yang harganya dua puluh lima ribu doang. Kan ga aneh kalau maharnya tadi sebuah ice cream gitu" jawab Davin.
Semuanya malah tertawa mendengar penjelasan Davin. "Kamu juga aneh Dhin, masa mahar buat nikah mintanya ice cream" celetuk seorang lainnya.
__ADS_1
"Iya kemaren, pas bang Davin tanya, akunya lagi sibuk, jadi ya udah aku jawab apa yang ada di fikiranku aja. Kebetulan saat itu aku lagi pengen makan ice cream" jawab Dhini santai.
"Ya udah, ntar kita beli ice cream nya ya" sahut Davin kembali. Mereka pun larut dalam obrolan, saling bercanda tawa bersama.
...β¦Ξ©β¦β¦Ξ©β¦β¦Ξ©β¦β¦Ξ©β¦β¦Ξ©β¦β¦...
Setelah selesai dan berbincang dengan sanak saudaranya, mereka kembali bersiap untuk acara resepsi malam ini. Rombongan iringan mobil keluarga mereka memenuhi jalanan. Hingga tiba di hotel yang dituju, mereka sudah di nantikan oleh para staf dan pegawai hotel.
Papan bunga yang berjajar di tepi jalanan hingga sampai ke depan hotel menandakan betapa megahnya acara resepsi pernikahan tersebut.
Para tamu sudah memenuhi ruangan, acara resepsi pernikahan berjalan dengan lancar hingga selesai. Lelah memang itulah yang dirasakan Dhini, berdiri menyambut seluruh tamu undangan, berfoto bersama sahabat dan para sanak saudara.
"Princess... ya Allah kamu cantik sekali sayangkuh" ucap Barbie memeluk tubuh Dhini. Sedangkan Batman hanya bisa menelan salivanya melihat Dhini yang cantik bagaikan bidadari surga yang turun dari kayangan.
Davin yang sadar Batman memperhatikan istrinya, langsung merangkul pinggangnya, memeluknya erat membuat Amir mencebikkan bibirnya. Barbie dan Princess malah tertawa melihat kedua makhluk yang tak pernah akur itu.
Suasana mulai sepi saat para tamu undangan satu persatu meninggalkan tempat itu. Davin menyuruh Dhini untuk lebih dulu masuk ke dalam kamar yang sudah di booking untuk mereka. Sementara Davin masih setia menemani para tamu yang tersisa.
Hingga acara benar-benar sudah selesai, Davin pergi menyusul istrinya ke kamar. Davin masuk ke dalam kamar yang memang tak terkunci, dia memanggil Dhini, mencari keberadaan istrinya ke seluruh penjuru ruangan, namun tak mendapati istrinya.
"Dhin... Dhini... kamu dimana sayang ?" Davin mulai cemas, tak ada jawaban dari istrinya. Davin mencoba untuk menghubungi nya namun sayang ponselnya malah tertinggal di atas kasur.
Bersambung...
...Terimakasih...
...ππππ...
__ADS_1