Takdir Dari Tuhan

Takdir Dari Tuhan
Dhini Kesal


__ADS_3

🥀 DHINI POV


Cuaca yang mendukung untuk mendaratkan kembali tubuhku ke atas kasur. Kuraih ponselku, mungkin saat ini bisa bermanja-manja dulu dengan kasur, fikirku. Niat hatiku ingin melihat-lihat online shop, namun saat akan membuka aplikasinya tiba-tiba ada panggilan masuk.


"Assalamualaikum, Barbie..."


"Waalaikumussalam Princess, gimana kabarnya kamu ? Kangen banget deh aku pengen peluuuuk..." ucap Windy dari seberang sana.


"Sama, aku juga kangen banget sama kalian.. Alhamdulillah aku sehat, kalo kamu sama Batman gimana disana, aman kaaan ?" tanyaku.


"Alhamdulillah aman-aman semuanya disini. Cuma hati aku lagi remuk nih" ucap Windy.


"Hah, remuk kenapa ? Cerita dong sama aku, kepo nih jadinya" jawabku penasaran.


Barbie pun menceritakan kejadian malam itu yang membuatnya patah hati. Kecewa terhadap sosok lelaki yang selama ini begitu di agungkannya. Namun kenyataannya jauh dari angan-angan. Semua tak sesuai dengan apa yang difikirkan olehnya.


Dengan derai air mata Windy bercerita panjang lebar padaku, mulai dari rasa cintanya yang begitu tulus, hingga saat hatinya yang begitu hancur. Sungguh benar-benar sulit baginya untuk melupakan rasa sakit itu.


Aku mencoba menenangkannya dengan segudang kata-kata mutiara. Pesan-pesan moral yang baik untuknya. "Kamu tau Win, justru karena Allah sayang sama kamu. Kedoknya Bagas dibuka di hadapan kamu, sebelum kamu tertipu lebih jauh lagi."

__ADS_1


"Iya juga sih Dhin, aku tau itu. Cuma aku mikirnya kenapa sih harus aku yang merasakan ini semua?" jawab Windy.


"Udah, sekarang gak usah sedih lagi, ga usah nangisin laki-laki yang gak pantes buat di cintai. masih banyak laki-laki lain yang lebih baik lagi." ucapku.


Setelah cukup lama berbincang dengan Barbie, aku malah teringat dengan suamiku. Aku berfikir sejenak "gimana kalo aku ke kantornya aja ya ?"


❣️


❣️


❣️


❣️


Dhini beranjak dari tempat tidur, bersiap-siap untuk pergi. Dia memilih untuk naik taksi online saja, agar bisa pulang bareng suaminya. Setelah selesai memoles wajahnya, Dhini segera turun dan pamit terlebih dahulu kepada Bi Las dan Mang Kok.


Setibanya di kantor, dia tak mendapati suaminya di ruangannya. Kata Fajar Davin pergi sepuluh menit sebelum jam makan siang. Dan tidak ada jadwal untuk urusan kantor ataupun bertemu dengan klien.


Dhini mencoba menghubungi suaminya, namun tak ada jawaban. "Lebih baik aku tunggu disini saja sambil nonton drakor di laptopnya."

__ADS_1


Dua jam berlalu, sempat tertidur juga di kursi suaminya yang empuk. Namun Davin tak kunjung kembali. Dhini kembali berkutat dengan laptopnya, melanjutkan drakor yang terputus karena tertidur tadi.


Tak berselang lama, pintu terbuka dan Davin masuk kedalam.Tampak raut wajah yang terkejut melihat istrinya tengah duduk di singgasananya. Namun segera ditepisnya dengan senyum khas menggoda.


"Kamu sedang apa yank, kok gak bilang-bilang sama abang mau datang ? tanya Davin merentangkan kedua tangannya di hadapan Dhini.


Dhini langsung menghambur ke pelukan Davin, sudah tau maksud dari suaminya itu. "Bosen aku di rumah terus, bingung juga mau ngapain. Ya udah aku ke kantor abang, eeeeh taunya abang nggak ada." jawabnya.


"Iya yank, abang ada urusan sama temen tadi. Kamu udah lama disini ?" tanya Davin.


"Udah lebih dari dua jam aku disini tau bang, kalo sampe setengah jam lagi abang gak datang sih aku mau pulang tadi." jawab Dhini kesal.


Davin lalu duduk di singgasananya dan menarik lengan Dhini hingga ikut duduk di pangkuannya. Dipeluknya tubuh Dhini dari belakang dan diciuminya leher istrinya. Dhini merasa geli dengan perlakuan suaminya, namun tubuhnya tak bisa berbohong. Dia menyukainya dan malah menginginkan lebih.


Tak kalah dengan Davin yang sudah terpancing gairah mendengar suara desahan istrinya. Benda pusaka miliknya pun turut meronta-ronta ingin segera dibebaskan. Davin menggendong tubuh istrinya masuk ke dalam kamar yang tersedia di ruangannya. Dan pertempuran pun berlanjut.


Bersambung...


...TERIMAKASIH...

__ADS_1


...🙏🙏🙏🙏🙏...


__ADS_2