Takdir Dari Tuhan

Takdir Dari Tuhan
Davin vs Papi Adit


__ADS_3

Adzan subuh berkumandang, Davin sudah siap dengan sarung dan baju kokonya, tak lupa kopiah hitam yang melekat di kepalanya. Davin memilih untuk berjamaah di musholla komplek. Sebelumnya pergi, dia membangunkan istrinya terlebih dahulu.


"Yank, bangun yank. Abang sholat subuh di musholla aja ya, sekalian mau langsung dengerin ceramah ustadz setelah sholat subuh" pamitnya pada istrinya.


"Hmm" sahut Dhini dari balik selimutnya.


"Assalamualaikum" Davin pun keluar dari kamarnya.


Dhini hanya menjawab pelan "waalaikumussalam"


Setelah Davin benar-benar pergi, Dhini beranjak menuju kamar mandi. Niatnya ingin menyegarkan badan, namun kepalanya terasa berat. Menangis memang melelahkan, tetapi dapat melegakan hati. Meluapkan emosi melalui air mata dapat membantu tubuh kita agar menjadi lebih tenang.


Menurut study nya nih guys, menangis itu dapat melepaskan hormon endorfin dan oksitosin lho. Yaitu adalah zat kimia yang bisa membantu mengurangi rasa sakit dan memberikan rasa tenang. Jadi, menangislah supaya hatimu lebih tenang.


(Tapi jangan nangis tanpa sebab ya 🙄🙄 ntar dikira anu lho 😪😪)


Setelah selesai mandi dan sholat, Dhini bergegas turun ke bawah membantu bi Las menyiapkan sarapan untuk keluarga. Selama mami Evelyn dan papi Adit berada di rumah itu, mereka selalu makan bersama di bawah.


"Bi, maaf ya aku telat bangunnya. Masak apa bi hari ini ?" tanya Dhini yang berdiri di belakang bi Las yang sedang menggoreng nugget ayam.

__ADS_1


"Ini neng, bibi lagi goreng ini dulu" sambil membalik-balik gorengannya.


"Oh iya bi, stok belanjaan masih ada gak. Kalo habis ntar kita belanja bareng ya. Aku pengen bisa nawar belanjaan kayak bi Las" pinta Dhini.


Selesai berkutat di dapur dengan bi Las, Dhini kembali ke kamarnya. Ternyata Davin sedang berolahraga di ruangan yang memang khusus disediakan olehnya itu. Tampak disana Davin sedang berlari di atas treadmill.


Dhini hanya berdehem di depan pintu ruangan yang memang terbuka. Davin yang menyadarinya, langsung menghentikan kegiatannya dan menemui istrinya.


"Kamu masih marah sama abang yank ?" tanya Davin sambil tangannya terus mengusap peluh yang membasahi wajahnya.


"Coba kamu fikirkan bang, kalau kamu yang ada di posisi aku. Apakah pantas kamu mendapatkan maaf dariku dengan segampang itu ?" cecar Dhini dengan tegas.


"Cepetan pake bajunya, sarapan udah siap. Aku mau panggil mami sama papi juga" ucap Dhini.


"Abang mau bersih-bersih dulu yank, kamu duluan aja ya sayang" jawab Davin.


Semua telah berkumpul di meja makan, menyantap nasi goreng buatan bi Las yang menjadi menu di pagi hari itu.


"Dhini, wajah kamu kok pucat mami lihat. Kamu sakit nak ?" tanya mami Evelyn yang sedari tadi memang mencermati mimik muka menantunya itu.

__ADS_1


Davin langsung melepaskan sendok di tangannya dan meraih wajah istrinya dengan kedua tangannya.


"Kamu sakit yank ?" tanya Davin menatap wajah Dhini.


"Apaan sih bang" jawabnya melepaskan tangan Davin.


"Ee enggak kok mi, cuma pusing aja dikit kok" tutur Dhini kepada ibu mertuanya.


"Vin, kamu ngapain aja bisa gak tau istri sedang sakit. Apa karena terlalu sibuk dengan urusan kantor, atau yang lainnya" sindir papi Adit.


Papi Adit sudah mengetahui apa yang terjadi malam itu. Karena tanpa sepengetahuan mereka, mang Kok melihat kejadian di Apartemen saat itu. Dan tentu saja, mang Kok melaporkan kejadian tersebut atas titah dari sang majikan itu.


"Eh enggak kok pi, hanya ada beberapa hal sedikit mendesak saja" jawabnya ketir.


"Oke kalau begitu, segera selesaikan semuanya sebelum terjadi hal yang tidak diinginkan" ancam papi Adit, dan Davin hanya bisa meneguk salivanya yang terasa seperti batu.


Bersambung...


...TERIMAKASIH...

__ADS_1


...🙏🙏🙏🙏...


__ADS_2