
Segala sesuatu persiapan menuju hari H telah rampung, dua hari lagi acara akan diadakan. Papi Adit memilih hotel X milik temannya sebagai tempat diadakannya pesta pernikahan putranya.
Hari ini setelah meeting dengan klien, Davin akan pergi ke toko mas bersama Dhini. Mereka akan mengambil cincin yang telah dipesan sesuai keinginan keduanya.
Dhini sudah menunggu di kantin kantor Davin, sudah hampir 20 menit dia disana sembari menikmati segelas coffe late pesanannya. Davin yang tak kunjung datang membuatnya merasa bosan menunggu.
Dhini mencoba menghubunginya kembali, namun percuma saja, ponselnya tidak aktif. Akhirnya Dhini memilih untuk menghubungi Barbie sahabatnya.
Lama mengobrol dengan Barbie di telepon, membahas tentang kaffe miliknya hingga tentang pernikahan Dhini. Walaupun sebenarnya Dhini menginginkan sahabatnya itu untuk datang menghadiri pesta pernikahannya, namun apa mau dikata.
Tiba-tiba Davin datang dari arah belakang langsung merangkul bahu Dhini dan duduk di kursi kosong sebelahnya "maaf ya sayang, kamu lama nunggunya."
Dhini tak menoleh sedikitpun dari layar ponselnya, tatapannya fokus pada benda pipih itu. Rasanya saat ini dia begitu kesal, hingga dadanya terasa sesak.
"Yank, kamu marah sama abang ya, hmm ?" tanya Davin menarik ujung dagu Dhini agar melihat wajahnya.
Terlihat matanya sudah merah berkaca-kaca, ada cairan bening menggenang di pelupuk matanya, namum masih bisa tertahan olehnya.
"Maaf ya yank, tadi meeting nya lama." ucap Davin
"Abang niat gak sih mau nikah, udah tinggal dua hari lagi juga masih kerja aja. Terus, aku disini nih udah lebih sejam nungguin kamu. Di telpon juga handphone nya gak aktif juga lgi. Ini nih ya, sepuluh menit lagi kalo abang gak dateng, aku bakalan pulang tau nggak." Ucapnya kali ini dengan diiringi cairan bening yang keluar dari matanya.
"Loh kok jadi nangis ? Maaf yank, handphone abang mati sayang, batrenya lowbat. Terus tadi abang juga mesti tanda tangani berkasnya langsung, kliennya setuju kerja sama dan dia mau hari ini juga buat serah terimanya." Jelas Davin menghapus air mata Dhini yang mengalir dari matanya.
Davin menarik Dhini kedalam pelukannya, mengusap punggung nya pelan, mencoba menenangkan pujaan hatinya itu. Banyak mata yang memandang ke arah mereka, apalagi saat ini adalah saat jam makan siang.
__ADS_1
"Dhin, udah jangan nangis terus. Kamu gak malu itu banyak yang pada perhatiin kita lho" bujuk Davin.
"Ntar dikira abang apa-apain kamu lagi, udahan ya nangis nya. Abang minta maaf ya, abang salah sama kamu"
Dhini melepaskan diri dari Davin, dia tertunduk malu melihat sudah banyak orang yang ada di sekitarnya. Benar saja, saat makan siang adalah saat yang dinantikan para karyawan untuk melepaskan
sejenak kepenatan mereka dan mengisi energi mereka kembali.
Untung saja Dhini memilih duduk di sudut ruangan, hingga tidak begitu banyak yang memperhatikan mereka.
"Kamu mau kita makan disini atau di luar yank ?" Tanya Davin sambil merapikan rambut Dhini yang sedikit berantakan.
"Diluar aja bang, sekalian langsung ke toko mas nya" jawab Dhini.
Setibanya di toko mas, mereka memang telah ditunggu. Langsung saja pegawai toko memberikan pesanan mami Evelyn kepada mereka.
Saat itu Davin melihat sebuah cincin yang tak kalah indahnya. Tiba-tiba terbersit rasa ingin memberikannya kepada Dhini. Cincin berbentuk seperti mahkota bertahta berlian itu sungguh indah.
Davin langsung meminta pegawai toko itu untuk mengambilkan untuknya. Setelah mendapatkannya, Davin langsung menghampiri Dhini yang sedang menerima panggilan telepon dari Barbie sahabatnya.
Diraihnya tangan Dhini dan disematkannya cincin itu di jari manisnya. "Cantik banget deh kalo disini, daripada di etalase terus, mubazir juga" ucap Davin.
"Apaan nih bang ?" Tanya Dhini melihat jari manisnya yang masih di pegang Davin.
__ADS_1
"Cantiknya calon istri abang" Davin mengecup punggung tangan Dhini lalu tersenyum melihatnya. Dia lalu pergi meninggalkan Dhini yang masih berada di pojok ruangan berbicara dengan Barbie dari ponselnya.
πΈοΈ
πΈοΈ
πΈοΈ
πΈοΈ
Tiba hari yang dinantikan kedua keluarga itu, semua tampak bahagia dengan acara yang memang sudah dinantikan ini. Akad nikah akan diadakan pagi ini di kediaman keluarga Dhini. Setelahnya malam hari akan diadakan resepsi di hotel yang sudah di persiapkan Papi Adit.
Davin sudah terlihat tampan dengan setelan jasnya. Walau tampak raut wajah yang terlihat tegang, namun ketampanannya mengalihkan perhatian seluruh mata yang memandang.
Dhini yang masih di dalam kamar untuk di hias juga tak kalah tegang. Wajar saja, untuk mempersiapkan dirinya saja membutuhkan waktu yang lama.
"Ma, mama udah yakin nih Dhini mau nikah" tanya Dhini yang sedang dirias oleh MUA.
Semua orang yang berada di kamar Dhini pun tercengang mendengar ucapan Dhini. Seketika itu juga ruangan menjadi sunyi, hanya suara musik mp3 dari handphone Barbie yang terdengar.
Bersambung...
...TERIMAKASIH...
...ππππ...
__ADS_1