
Pagi ini sarapan istimewa untuk Dhini, setelah lama tidak bisa sarapan bersama mama dan papanya. Selesai makan, mereka yang masih duduk menikmati teh mengobrol bersama. Banyak cerita yang ingin ia ceritakan pada orang tuanya, tentang perjuangannya yang telah berhasil mengembangkan kaffe miliknya hingga saat ini.
"Ma, pa Dhini udah siap untuk menikah dengan bang Davin" ucapnya pelan tapi pasti.
Papa yang tengah menikmati teh pun buru-buru menelannya dan meletakkan kembali gelasnya. "Kamu udah yakin Dhin, papa seneng banget mendengarnya. Walaupun papa sebenarnya sedih harus merelakan kamu dibawa laki-laki lain. Tapi papa bahagia karena papa yakin Davin itu orang yang tepat untuk kamu."
"Iya pa, Dhini yakin. Semalam kita udah bicarakan berdua, ntar bang Davin juga bakal ngomong ke keluarganya" jawab Dhini.
DAVIN POV
Pagi ini terasa berbeda untukku, udara pagi terasa begitu sejuk dibandingkan hari-hari sebelumnya. Gurat bahagia terpancar dari wajahku, senyumannya tak lepas dari bibirku.
Aku melangkah turun dari kamar menuju dapur. Mami yang sudah menyiapkan sarapan dan duduk disebelah papi pun dapat melihat aura kebahagiaan yang terpancar dari ketampananku.
"Perasaan mami kamu hari ini beda banget Vin, kok kayaknya ada yang aneh sama kamu" ucap mami.
"Ah masa sih mi, biasa aja deh kayaknya" jawabnya tersenyum.
Papi yang sedang fokus membaca koran pagi pun langsung melirik dari sisi korannya. Tak mau melewatkan momen langka ini fikirnya, jarang-jarang anaknya sebahagia ini.
"Pi, mi Dhini udah siap katanya mau nikah sama aku. Ntar malam kita ke rumahnya ya" ucap Davin.
"Hmmm, pantesan anak mami pagi-pagi udah sumringah gini. Lagi berbunga-bunga toh rupanya." Jawab mami
"Bagus dong kalau begitu mi, biar kita cepat dapet cucu mi. Papi udah enggak sabar pengen menimang cucu, kayak temen-temen papi tuh suka cerita tentang cucu nya" papi ikut terbawa suasana bahagia.
__ADS_1
Sesampainya di kantor, semua mata memandang kapadaku. Aku berfikir heran, apakah ada yang aneh dengan wajahku. Apa begitu kelas terlihat rona bahagia itu di wajahku.Hingga tanpa sadar seseorang sudah berada di depanku.
"Maaf pak, meeting akan dimulai sepuluh menit lagi. Ini berkas yang sudah saya siapkan pak." Ucap Fajar memberikan sebuah map berisi dokumen bahan untuk meeting.
"Oke, sebentar lagi saya kesana. Eh tunggu dulu" ucapku saat Fajar akan keluar dari ruangannya.
"Iya pak, apa ada yang bisa saya bantu lagi pak" jawabnya.
"hmmm, coba kamu lihat muka saya. Apa ada yang aneh ? Kenapa semua orang melihat saya dengan tatapan yang tidak seperti biasanya" tanyaku pada Fajar.
"Enggak kok pak, biasa aja. Cumaaaa hmmm..." Fajar tampak ragu mengucapkannya.
"Apaan ? Cepat katakan Fajar, jangan buat saya marah" bentakku pada Fajar.
"Maaf pak, hari ini bapak kelihatan lebih sumringah dari biasanya. Kalau biasanya bapak itu tampak tegas, berwibawa. Tapi hari ini beda pak, lebih sweet gitu dari yang saya dengar sih" jawab fajar menundukkan kepalanya.
"Perasaan enggak ada yang aneh sama muka aku. Ah sudahlah, aku harus pergi ke ruang rapat." Ucapnya sambil berlalu keluar. Ternyata Fajar sudah pergi dari ruangannya.
πΈοΈ
πΈοΈ
πΈοΈ
πΈοΈ
__ADS_1
πΈοΈ
Mama Miranda yang sedang membenahi tanaman yang tengah viral itu tampak serius. Dengan sangat teliti dan hati-hati dia mulai memindahkan jenis tumbuhan mahal itu ke dalam pot putih yang sudah disediakannya. Mama merasa senang sekali diberi oleh temannya sebagai ucapan terima kasihnya karena memberikan oleh-oleh dari Medan.
"Ma, ntar malam bang Davin mau kesini sama keluarganya. Tadi dia telepon Dhini ma, gimana dong ma ?" Tanya dhini pada mamanya.
"Gimana apanya, ya udah bagus dong. Paling juga mereka mau membahas tentang pernikahan kalian. Setelah mama selesai ini, ntar kamu bantuin mama masak buat ntar malam ya" jawab mama.
"iya ma"
...****************...
Saat ini semua sudah berkumpul di rumah Dhini, setelah sebelumnya mereka makan malam bersama. "Pak Andi, gimana kalau Davin dan Dhini menikahnya bulan depan aja. Saya enggak mau ditunda terlalu lama lagi, mengingat mereka, juga lama bertunangan." Ucap Papi Adit membuka percakapan.
"Saya sih terserah mereka saja pak, gimana baiknya. Toh yang menjalaninya mereka" jawab papa.
"Gimana Vin, kamu mau ?" tanya nya pada Davin.
"Kalau Davin sih oke aja pi, semakin cepat malah semakin baik." Ucap Davin membuat semuanya tertawa.
Sedangkan Dhini jangan ditanya lagi, wajahnya kini tampak memerah seperti kepiting rebus. Dia hanya tertunduk tak dapat mengatakan apapun, selain tersenyum malu.
"Oke, besok mami mulai urus semuanya. Kamu tenang aja ya sayang, jangan terlalu difikirin" jawab mami di akhir pembicaraan sembari menepuk pelan punggung tangan Dhini yang duduk disebelahnya.
Bersambung...
__ADS_1
...Terimakasih...
...ππππ...