
Davin mengelus punggung istrinya, perlahan air matanya pun menetes. Untuk kesekian kalinya dia mengucapkan kata maaf. Walau dia tau Dhini sudah memaafkannya, namun dari lubuk hati yang terdalam rasa bersalah itu membuatnya tersiksa.
Apalagi melihat kesedihan di wajah Dhini saat ini, perasaannya hancur berkeping-keping. "Terimakasih Tuhan, Engkau telah mengirimkan wanita yang terbaik untukku."
Davin melepaskan pelukannya, meraup kedua pipi istrinya. Kedua bola mata mereka saling bertemu pandang. Tampak bulir air mata yang menetes di pipi Davin.
"Kamu nangis bang ?" tanya Dhini dengan suara parau.
"Abang sangat menyesal yank, abang juga sangat bersyukur memiliki kamu. Di pernikahan kita yang baru seumur jagung ini, abang belum bisa membahagiakan kamu. Maafin abang ya yank ?" tuturnya penuh penyesalan.
"Aku maafin kamu bang, asalkan kamu janji tidak akan mengulanginya lagi. Ini yang pertama dan terakhir kalinya, aku ga mau terulang lagi pokoknya, titik." ucap Dhini menekankan kata titik.
"iya sayang abang janji, makasih ya yank," ucap Davin semangat.
Diusapnya bekas air mata yang masih menyisa di kedua mata Dhini, dan di kecupnya bergantian. Kanan, kiri berulang-ulang kali, dan kemudian di kecupnya keningnya lama dengan penuh cinta.
"Abang sangat mencintaimu Dhin. Cinta ini gak akan berubah dan berkurang sampai kapanpun" ucap Davin dan mencium bibir istrinya.
__ADS_1
Tiba-tiba terdengar suara benda terjatuh tak jauh dari tempat mereka duduk. Kemesraan keduanya pun terhenti dan mencari arah suara tersebut berasal.
Mang Kok segera mengambil perkakas yang dibawanya berjatuhan, saat tak sengaja melihat majikannya sedang bercumbu di bawah pohon.
Davin datang menghampiri dan membantu mengumpulkannya. "mamang ga apa-apa kan ?" tanyanya.
"Eng- eng- enggak kok mas, cum tadi mamang mau ke belakang ga sengaja liat anu" jawab mang Kok terbata-bata.
"Ssstt, mamang kek gak pernah muda aja. Ya udah lanjut deh mang, aku juga mau lanjutin di atas aja deh, hahaha" tutur Davin tertawa meninggalkan mang Kok yang tak bisa berkata apa-apa dan hanya mematung disana.
Dhini sudah membereskan laptopnya, hendak beranjak meninggalkan tempat itu. Davin langsung mengambil benda persegi itu dari tangan istrinya.
"Gak mau ah, aku gak kenapa-napa kok bang. Cuma pusing aja, paling ntar kalo udah istirahat juga hilang kok," jawab Dhini.
Kedua makhluk ciptaan Tuhan itu bejalan naik ke lantai atas. Tanpa mereka sadari, papi Adit melihat keduanya dan tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.
"Papi yakin kamu pasti bisa menyelesaikan masalahmu Vin, karena papi tau kamu, dan papi juga gak salah pilih menantu."
__ADS_1
Papi Adit merasa senang melihat anak dan menantunya baik-baik saja. Kesehatannya pun kian membaik saat ini.
🍂
🍂
🍂
🍂
Davin mendudukkan istrinya di tepi ranjang, dan meletakkan laptopnya di tas nakas. Di raihnya kedua kaki Dhini ke atas pahanya, dan di pijitnya perlahan.
"Yank, kalau sampai nanti sore kamu belum baikan juga, kita harus ke dokter ya. Aku gak mau kamu membantah kali ini," pintanya dengan nada pelan tapi penuh paksaan.
Dhini hanya tersenyum dan mengangguk. Merasa nyaman dengan pijatan suaminya, matanya perlahan mulai terpejam.
Bersambung...
__ADS_1
Jadi pengen ikut merem juga nih mata 😪😪😴😴