
"Kamu lagi buat apa yank" tanya Davin yang baru turun ke bawah setelah selesai sholat subuh.
"Eeh... udah siap sholat abang ? udah mandi belum ? Aku lagi buat coklat panas nih, sama roti selai kacang. Abang mau yang isi selai apa ?" tanya Dhini yang sesekali mencuri pandang pada Davin.
Davin yang duduk menopang dagu di atas meja terus saja memperhatikan Dhini yang tengah sibuk menyiapkan sarapan pagi mereka. Rambut panjangnya yang disimpulkan menambah pesona di pagi ini, membuat Davin menelan salivanya menahan hasrat terpendamnya. Wajar saja bila seorang lelaki merasa bernafsu melihat kecantikan wanita manis berkulit putih, dengan bibir mungilnya yang merah merona.
"Haaaah, seandainya saja kamu sudah sah menjadi milikku. Tak akan ku biarkan kamu bisa sesantai itu" gumamnya dalam hati.
"Bang, mikirin apa sih ? dari tadi aku ajak bicara diem aja" tanya Dhini yang sudah duduk di kursi berhadapan dengan Davin.
Davin yang tersadar dari lamunannya menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tersenyum. "Enggak kok yank, cuma lagi fokus mikirin masa depan aja, hehehe..."
"Udah yuk sarapan dulu, ntar keburu dingin coklatnya gak enak" Dhini memberikan segelas untuk Davin.
Hari ini rencananya Dhini akan mengunjungi kaffe yang berada di stasiun. Kaffe yang selama ini di tangani oleh dua sahabatnya Dhini, ya siapa lagi kalau bukan Barbie dan Batman. Dhini ingin meminta Barbie untuk mengambil alih kaffe yang berada di bandara selama dia pergi ke Jakarta.
"Hai guys... gimana keadaan disini, aman kaaan..." Dhini yang langsung masuk dan merengkuh Barbie, sahabatnya.
"Dhin, aku gak ikut di peluk nih" ucap Batman merentangkan kedua tangannya.
"Ehem... ehem..." Davin berdehem dengan melipat kedua tangannya di dada, dia berdiri bersandar pada dinding. Tatapan tajam membunuh ke arah Amir, membuat Amir segera menurunkan kedua tangannya dan mencoba menelan salivanya yang terasa menyangkut di tenggorokan.
__ADS_1
"Si Princess bawa piaraan, gak bilang-bilang. Bisa mati nih aku di gigit kena rabies" gumam Amir dalam hatinya.
"Kagak kok bang, canda doang kok ah. Iya kan Princess" ucap Amir menepuk bahu Dhini meminta pertolongan.
Melihat Amir menepuk bahu Dhini, malah membuat Davin semakin menajamkan matanya ke arah Amir.
"Eehhh, maaf bang, maaf Dhin... Refleks bang" sambil mengusap bahu Dhini.
"Apaan sih nih berdua, kalo ketemu gak pernah akur deh ah. Awas lho ntar kalian berdua malah jatuh cinta" ucap Dhini tertawa bersamaan dengan Barbie.
"WHAT ?? Aku laki tulen yank, mana mau aku sama laki-laki. Apalagi Batman spesies gagang sapu kek gini" Davin bergidik melihat Amir dan berlalu pergi.
Setelah selesai berbincang bersama Barbie, Dhini langsung menemui Davin yang sedari tadi duduk menunggunya sembari memainkan ponselnya, sesekali juga dia menjawab panggilan telepon.
Mereka pergi berburu oleh-oleh khas kota Medan, Bika Ambon kesukaan mami Evelyn. Lemang, ikan teri dan juga beberapa macam makanan khas lainnya.
"Sekalian oleh-oleh buat tetangga mama katanya minta dibawain bang, hehe" ucap Dhini yang melihat wajah Davin heran ketika Dhini mengambil begitu banyak.
"Ya udah yuk, biar cepet ampe ruko. Aku belum beberes baju lagi" menarik lengan Davin.
πΈοΈ
__ADS_1
πΈοΈ
πΈοΈ
πΈοΈ
Davin yang bermain game online di ponselnya sambil tengah di atas kasur Dhini sesekali mencuri pandang pada pujaan hatinya itu. Yang saat ini tengah membereskan pakaiannya ke dalam sebuah koper. Rencananya dia akan lama di Jakarta, ingin membahas mengenai pernikahannya dengan Davin.
Kali ini Dhini benar-benar sudah siap untuk berubah status menjadi seorang istri. Di tatapnya Davin yang terlelap tengkurap, lelah menunggu sambil bermain game.
"Maafin Dhini selama ini ya bang, terimakasih juga karena mau menunggu Dhini hingga saat ini. Dhini sayaaaaang banget sama abang. Dhini udah benar-benar siap untuk abang" sambil mengusap rambut Davin dia duduk si tepi ranjangnya.
Saat Dhini hendak beranjak, tiba-tiba tangannya ditarik hingga dia terjerembab ke kasur.
Bersambung...
...πππππ...
...Terimakasih...
...π...
__ADS_1