
Davin terus mengejar dhini yang mencoba berlari meninggalkan taman itu. Namun belum sampai keluar , Davin segera menarik lengan Dhini dengan satu hentakan keras dhini terjerembab ke dalam pelukannya. "Kamu kenapa sayang hmm ? , kok jadi marah gini sama abang, abang salah apa sama dhini ? apa abang nyakitin hati kamu ? hah ? jawab dhin.." tanya davin sambil mengelus rambut dhini yang masih dalam pelukannya.
Dhini menangis sejadi jadinya, membuat davin semakin mempererat pelukannya. "Menangislah sayang, jika itu bisa membuatmu menjadi lebih baik, tapi janji sama abang setelah itu kamu jujur sama abang, oke ?" ucap davin dengan lembut. Dhini hanya mengangguk pelan dan melingkarkan tangannya ke perut davin.
pelan tapi pasti, davin menggiring dhini duduk di sebuah bangku taman di bawah pohon rindang. Setelah dirasa cukup puas, dhini mulai merenggangkan pelukannya. Dhini menarik nafas panjang, membuangnya pelan. Mencoba menetralkan kembali perasaannya yang tadi hancur berkeping keping.
Davin kembali menggenggam tangan dhini, dia terus saja memandangi wajah cantik titisan dewi kuan'in itu, sedang yang dipandang hanya diam tertunduk.
"Sekarang udah lebih baik hmm? " tanya davin, hanya di jawab anggukan kecil oleh dhini.
"Sekarang coba deh dhini jelasin sama abang, apa yang membuat dhini semarah ini sama abang" ucap davin pelan mencari celah untuk dapat melihat wajah dhini yang masih tertunduk.
"Abang jahat sama dhini , abang bilang sayang sama dhini, cinta sama dhini , abang bilang mau dhini seutuhnya jadi milik abang. Dhini merasa benar-benar tersentuh saat itu" ucapannya terhenti , dia mencoba mengontrol kembali perasaannya.
__ADS_1
"Tapi dhin, abang beneran cinta sama dhini. Abang tulus dhin" sambung davin.
"Terus kenapa abang malah minta dhini untuk jadi kekasih abang sementara ?? abang fikir dhini ini cewek apaan ? mentang-mentang selama ini dhini nurut sama abang, abang malah seenaknya mainin perasaan dhini" ucap dhini, tanpa terasa air matanya kembali menetes.
"Astaghfirullah dhini sayaaaaang" ucap davin menepuk jidatnya lalu menggaruk kepalanya yang tiba-tiba terasa gatal.
"Kamu salah faham sama abang dhin, abang memang serius sayang sama kamu, abang cinta sama kamu nih kalo gak percaya nih belah dada abang. Dihati abang udah terpahat nama kamu, terlukis indah wajah cantik titisan dewi kuan'in ini". jelas davin sambil menunjuk ke arah dadanya.
"Abang mau kamu jadi kekasih abang sementara, ya emang hanya sementara dhin. Karena abang maunya kamu itu jadi istri abang untuk selamanya. Abang mau kamu itu jadi ibu dari anak-anak abang kelak. Emang kamu mau hanya jadi kekasih abang selamanya ? tanya davin , setelah dia menjelaskan maksud dari ucapannya tadi yang membuat dhini salah faham.
"Sekarang gimana ? kamu terima abang nggak ?" tanya davin kembali meminta kepastian.
"nggak" ucap dhini dengan lantang, singkat tepat padat namun sangat menohok.
__ADS_1
Davin memegang kedua bahu dhini, menatap lekat wajah cantik titisan dewi kuan'in ini seraya berkata "kamu nggak sayang sama abang ? , kamu nggak cinta sama abang ? ucapnya lirih.
"Enggak bang , nggak salah lagi maksudnya" jawab dhini sambil tersenyum puas melihat wajah davin yang memelas. Dia pun terkekeh geli melihat davin yang saat ini terdiam, dengan dahi yang mengkerut.
Davin kembali memeluk tubuh dhini "kamu ini.. dasar bocah, ngerjain abang aja. Kamu udah mengaduk-aduk hati abang tau" ucap davin sambil menggoyangkan tubuh mereka ke kiri dan kanan.
"Udahan ah bang, kita pulang aja yuk. Dhini laper, tenaga dhini udah habis terkuras gara-gara abang buat hati dhini berkecamuk" tukasnya sambil berlalu pergi dengan santainya.
"Ya ampun ini bocah, kayak ga ada kejadian apa-apa, maen tinggal aja orang masih pengen romantis-romantisan juga" ucap davin, dia pun segara menyusul dhini.
"Kamu tuh ya , ngegemesin tau..." ucap davin menarik pelan hidung dhini. Dua makhluk kasat mata itu pun berlalu pergi meninggalkan taman yang menjadi saksi bisu drama percintaan mereka.
Bersambung...
__ADS_1
🙏🙏🙏🙏😘