Takdir Dari Tuhan

Takdir Dari Tuhan
Ehem-eheman


__ADS_3

"Bang... abang... , motornya ada tapi orangnya nggak ada. Kemana sih bang davin" dhini mencari keberadaan davin ke seluruh penjuru ruangan. Tiba-tiba pintu terbuka "Assalamualaikum" ucap davin.


"Waalaikumussalam, abang dari mana dhini cariin dari tadi" ucap dhini sambil berjalan menuju pintu.


Davin lalu menyerahkan sebuah bungkusan plastik kepada dhini. "oooh , tadi abang sholat subuh ke mesjid yang di ujung sana. Pulangnya abang beli sarapan nih, ada lontong sayur kayaknya enak ya. Soalnya abang lihat banyak orang ngantri mau beli."


Setelah selesai sarapan bersama, davin pamit pulang. Dia sedang sibuk -sibuknya dengan kuliahnya saat ini. "Abang balik ya dhin, kamu hati-hati di rumah jangan keluyuran hmm" pesan davin khawatir.


"Iya abaaang, tenang aja hari ini dhini lagi mager pengen rebahan di rumah aja." ucap dhini meyakinkan.


#


...πŸ§’ flash back on πŸ§’...


"Iya pi, davin ngerti. Papi tenang aja , davin gak main-main ini kuliahnya. Kalo papi gak percaya , papi tanyain aja sama dosennya davin yang temen papi itu. Davin janji kali ini bakal berubah jadi anak kebanggaan papi. Yang penting papi sama mami harus jaga kesehatan. Iya pi, waalaikumsalam." davin memutuskan sambungan telepon dari papinya. (othor juga gak tau itu papinya si davin ngomong apa, si davin ga ngasih othor ngupingπŸ˜’)


Malam ini dia ada di kamar dhini, kamar yang di dominasi dengan warna hijau dan putih itu tampak sejuk dipandang mata. "Sepertinya dia suka sekali warna hijau dan putih" Hampir semua barang miliknya didominasi warna hijau dan putih. Mulai dari yang besar hingga yang kecil sekalipun.


Davin tersenyum melihat foto dhini kecil yang ada di atas meja belajarnya." Ternyata bocah titisan dewi kuan'in ini dari kecil udah ngegemesin ya."


......πŸ§’ Flash back off πŸ§’......


Davin sudah sampai di sebuah toko boneka, dia mencari sebuah boneka yang berwarna hijau atau putih. Sesuai dengan warna kesukaan dhini, dia pasti akan senang sekali , fikir davin.

__ADS_1


"Ting" bunyi notifikasi handphone dhini


πŸ§’: "assalamualaikum sayangnya abang"


πŸ‘§:"waalaikumussalam"


πŸ§’:"jawabnya romantis dikit kenapa dhin, buat seneng hati abang kek 😒"


πŸ‘§:"emangnya abang ga seneng dhini jawab chat abang πŸ˜’"


πŸ§’:"eeh seneng kok 😁 seneng banget malah 😍"


πŸ‘§:"terus ??"


πŸ‘§:"udah tadi, dhini pesen makanan online"


πŸ§’:"abang mau OTW nih kesana"


πŸ‘§:"hmmm.. mau apa"


πŸ§’:"mau ehem-eheman sama kamu"


πŸ‘§:"😱😱😱"

__ADS_1


πŸ§’:"πŸ˜˜πŸ˜˜πŸ€“"


πŸ‘§:"πŸ˜ͺπŸ˜ͺ😴😴😴"


πŸ§’:"πŸοΈπŸοΈπŸƒβ€β™‚οΈπŸƒβ€β™‚οΈ"


πŸ§’:"tungguin abang.....😘"


Sekitar 45 menit davin sampai di depan rumah dhini. "assalamualaikum" ucap davin sembari mengetuk pintu, namun tak kunjung dibuka oleh dhini. Davin memanggil-manggil dhini terus menerus sambil mengetuk pintu.


Tak lama kemudian dhini pun keluar, dia masih berdiri ditempat dengan senyum sumringah memandang apa yang saat ini dia lihat di depan matanya.


Dhini yang saat ini hanya mengenakan kaus dan celana pendek selutut, membuatnya menjadi lebih imut dari biasanya. Dan tentu saja membuat davin semakin cinta dengan kekasihnya ini.


Davin berdiri memegang boneka beruang besar didepannya hingga menutupi hampir seluruh tubuhnya. Kepalanya melongok ke kiri dari balik tangan boneka beruang berwarna hijau itu, membuat wajah tampannya menjadi begitu lucu.


Dhini tertawa melihat tingkah davin yang seperti anak-anak itu. Dia langsung memeluk boneka itu dengan senang, dia berputar-putar kegirangan.


"Dhin, abang juga pengen di peluk gitu..." ucap davin manja.


Dhini membelalakkan matanya seraya berkata "Ogah." dia pun kembali asik dengan boneka barunya.


Bersambung...

__ADS_1


......πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™πŸ˜˜......


__ADS_2