Takdir Dari Tuhan

Takdir Dari Tuhan
Surprise


__ADS_3

Beberapa tahun setelah kejadian tersebut, Dhini tinggal di lantai atas rukonya. Rumahnya yang sudah diberikan kepada ibu Nia dan anak-anaknya sebagai ucapan terimakasih mereka atas apa yang mereka lakukan. Walaupun sebelumnya mereka tidak menginginkannya, namun karena mama Miranda terus saja memaksa, akhirnya ibu Nia pun mau menerimanya.


Davin yang berada di Jakarta sering datang ke Medan, bertemu dengan pujaan hatinya atau sekaligus melakukan perjalanan bisnis.


Bukan hal yang mudah untuk menjalin hubungan jarak jauh dengan pasangan. Banyak halang rintang yang dihadapi, sesekali terjadi pertengkaran diantara keduanya. Namun karena rasa saling percaya dan pengertian diantara keduanya, membuat prahara kecil menjadi pelajaran hidup.


Double D Cafe "d&d" sekarang lebih berkembang, sudah ada tiga cabang lainnya. Salah satu cabang yang berada di stasiun kereta api dikelola oleh Doni dan adiknya, anaknya ibu Nia. Sedang satunya lagi yang berada di bandara masih dipegang oleh Dhini.


"Assalamualaikum... surprise" Davin yang baru saja tiba di bandara langsung masuk kedalam ruangan Dhini yang saat itu juga sedang berada disana.


Dhini yang sedang fokus dengan laptopnya langsung mengedarkan pandangannya ke arah suara yang tak asing baginya "waalaikumussalam..., bang Davin ?"


"Kamu lagi sibuk nggak yank, abang laper nih. Tadi berangkat pagi-pagi cuma makan roti doang" ujarnya berjalan mendekati Dhini.


"Kok abang nggak ngasih kabar ke aku mau datang sih" ucap Dhini bersungut-sungut.


Davin lalu mengacak rambut Dhini gemes "uluh-uluuuh... abangnya dateng malah disambut ama muka cemberut gitu. Ntar aja deh kalo mau ngambeknya, temenin abang makan dulu yuk ah. Davin langsung menjulurkan tangannya dan disambut dengan Dhini.


Masih disekitar lokasi bandara, mereka memilih makanan cepat saji. Davin yang memang sudah sangat lapar membuatnya malas memilih tempat yang jauh.


"Dhin, ikut abang ke Jakarta yuk" ucap Davin disela suapannya.

__ADS_1


"Kapan abang balik ? Aku juga udah rindu sama mama nih, udah tiga bulan ga ketemu". Jawab dhini antusias, karena memang sudah tiga bulan ini dia sibuk menyelesaikan kuliahnya.


"Rencananya sih besok sore, abang mau naik pesawat malam aja, biar nyampe rumah langsung istirahat" jelasnya.


"Terus abang kesini dalam rangka apa ? sampe tiba-tiba datangnya, gak ngabarin aku juga lagi. Coba tadi aku nggak disini, gimana coba ?" jawabnya sambil mengunyah ayam goreng yang dicocol saus sambel.


"Hmmm... ya dalam rangka mau ketemu sama kamu lah, kenapa emang ? gak boleh ?" jawab Davin kembali dengan pertanyaannya.


"Atau jangan-jangan kamuuu..." Davin menyipitkan matanya menatap tajam ke arah Dhini sambil menggoyang-goyangkan paha ayam yang dipegangnya.


Dhini langsung menyambar potongan paha ayam itu, mencocolnya dengan saus dan melahapnya "jangan mikirin yang nggak bener, suudzon itu namanya"


Davin mendengus melihat Dhini melahap potongan ayam terakhirnya "huuuh... itukan punya abang yank..."


"Abang nunggu sini ya, aku ambil tas dulu" Dhini berlalu meninggalkan Davin yang masih duduk bersandar di kursinya.


Dhini mengambil tasnya kedalam ruangannya, sembari menyusun kembali mejanya yang sedikit berantakan tadi. Terbiasa hidup sendiri membuatnya mandiri untuk melakukan banyak hal, mulai dari hal kecil sampai hal besar.


Kini Dhini yang dulu anak manja mulai berubah menjadi anak yang mandiri. Hidup memang mengajarkan kita banyak hal, pangalaman membuatnya banyak belajar menghargai jerih payah orang.


Bruk !

__ADS_1


Dhini tak sadar kalau sedari tadi Davin sudah berada di belakangnya, memperhatikannya. "Abang... kok ikut nyusul kesini ? Aku baru selesai beberes dikit, kan kita mau ke ruko biar sekalian abang istirahat di kamar aku aja yuk."


"Abang kangen banget sama kamu Dhin. Abang ga bisa lama-lama lagi jauh dari kamu" Davin memeluk tubuh Dhini.


"Kapan kamu siap untuk menikah ? Abang masih nunggu kamu, abang pegang ucapan kamu dulu. Kalau kamu udah siap, kamu yang minta abang nikahin kamu."


"Uluh-uluuuh, so sweet banget calon suami aku ini" rayunya masih tetap dalam pelukan Davin.


"Sabar ya abang sayang... ini juga aku baru mau bilang ke abang, makanya aku mau ikut abang ke Jakarta besok. Biar kita bicarakan sama mama dan papa juga" lanjutnya.


"Kamu serius kan yank, gak lagi nge prank aku nih kan ?" Davin melepaskan pelukannya dan menatap wajah Dhini.


Dhini yang malu langsung menarik lengan Davin keluar "udah yuk ah, ntar kesorean kita. Ntar aja ceritanya di lanjut di ruko."


Dengan hati yang berbunga-bunga Davin terus mengulas senyuman sepanjang perjalanan menuju ruko. Tak lupa mereka membeli pesanan mbak Sari ke toko elektronik.


Bersambung...


...🙏🙏🙏🙏...


...Terimakasih...

__ADS_1


......😘......


__ADS_2