
Sampai di sebuah ruangan yang memang sudah di persiapkan sebelumnya oleh Fajar, Davin mengajak Karina masuk. Ruangan yang cukup luas itu sudah di isi dengan segala keperluan kantor untuk Karina.
"Gimana, kamu suka gak sama ruangan baru kamu ?" tanya Davin.
"Hmm, lumayan lah" jawabnya berjalan ke arah jendela, membukanya dan memandang ke arah luar. Tampak gedung-gedung pencakar langit yang berjajar disekitar lokasi.
"Lumayan gimana maksudnya, kamu kurang puas sama ruangan kamu ?"tanya Davin kembali, ikut berdiri di samping Karina.
"Udah deh, gak usah difikirin. Sekarang mending kita fikirkan gimana kelanjutan hubungan kita kedepannya" ucap Karina.
Karina membalikkan tubuhnya menghadap ke arah Davin. Tatapan mata mereka bertemu, tak dapat di pungkiri, Davin begitu terhanyut memandang wajahnya. Wanita yang dulu sangat dicintainya, hingga kini rasa itu mungkin masih ada tersimpan di dalam hatinya.
Davin terdiam seribu bahasa, dia bingung harus bagaimana. Bayangan wajah Dhini terlintas dipikirannya, senyumannya, bahkan saat-saat mereka memadu kasih pun terlintas dalam benaknya.
"Perasaan apa ini, aku gak mungkin menghianati istriku. Tapi aku juga tak bisa melupakan Karina, dia begitu berarti untukku" ucapnya dalam hati.
Melihat Davin hanya terdiam, Karina langsung memeluknya erat. Tak ada balasan dari Davin, dia masih bingung dengan perasaannya saat ini. Namun pelukan itu sangat nyaman dirasakannya, hingga dia tersadar dari lamunannya.
"Maaf Rin, aku mau ke ruangan aku dulu ya. Ada yang harus aku survei soalnya semalam gak keburu, jadi hari ini meti tuntas semuanya" ucap Davin melepaskan pelukan Karina.
__ADS_1
Davin pun bergegas pergi meninggalkan Karina, takut akan terjadi hal yang mungkin bisa menggoyahkan imannya. Dia juga masih memikirkan istrinya, namun tetap bingung dengan perasaannya.
🌹
🌹
🌹
🌹
Dhini turun dan bergegas ke dapur mencari keberadaan bi Las, dipanggil-panggilnya namun tak ada jawaban. Hingga saat sampai di depan pintu kamarnya, Dhini mengetuk pintunya. "Bi, assalamualaikum... Bi Las di dalam ya ?" tanyanya dari luar.
"Iya nih mang, bi Las nya mana ya ? Aku mau minta temenin ke supermarket, ada keperluan yang mau aku beli" jawab Dhini, masih berdiri di depan pintu kamar bi Las.
"Maaf neng, bi Las lagi sakit. Ini juga mamang baru pulang beli obat di warung depan komplek" jawab mang Kok menunjukkan plastik kresek yang berisikan obat dan roti untuk istrinya.
"Ya ampun, bi Las sakit apa mang, aku mau lihat donk. Atau kita bawa ke dokter aja ya biar dirawat di rumah sakit aja" ucap Dhini dengan panik.
Mang Kok membuka pintu kamarnya, terlihat bi Las sedang tertidur di ranjangnya. Dengan handuk kecil yang menempel di atas dahinya, tubuhnya ditutupi dengan selimut hingga ke dada.
__ADS_1
Dhini mendekat, duduk di tepi ranjang dan mengusap lengan bi Las dengan lembut. "Bi Las sakit kok gak kasih tau aku, kita kan bisa berobat ke dokter bi" ucap Dhini pelan.
"Gak apa-apa neng, bentar juga baikan kok. Gak perlu ke dokter juga, biasanya juga bi Las kalo sakit cuma minum obat dari warung juga udah sembuh" jelas mang Kok menenangkan majikannya yang terlihat begitu khawatir.
"Ya udah deh mang, aku pergi sendiri aja ke supermarket nya. Mamang jaga bi Las aja disini, biar aku naik taksi online" ucap Dhini dan berpamitan pada mang Kok.
🚣🚣🚣
Di supermarket, Dhini sibuk dengan belanjaannya, kesana dan kemari. Sebuah troli hampir penuh berisi banyak barang belanjaan yang dibelinya. Dari mulai cemilan hingga kebutuhan pribadi miliknya.
Antrian di kasir tak begitu panjang, membuatnya bisa dengan cepat selesai membayar semuanya belanjaannya. Dua kantong plastik besar sudah di tangan kiri dan kanannya, Dhini berjalan tergopoh-gopoh menuju mini resto disana.
Seseorang berlari ke arahnya dan menabraknya, hingga semua belanjaannya berhamburan di lantai. Mau bilang apa lagi, marah itu sudah pasti. Dhini pun mengomel sejadi-jadinya pada lelaki yang menabraknya itu.
Bersambung...
...TERIMAKASIH...
...🙏🙏🙏🙏🙏...
__ADS_1