Takdir Dari Tuhan

Takdir Dari Tuhan
Barbie patah hati


__ADS_3

"Yank, badan abang gatel nih. Bisa tolong garukin ga?" pinta Davin yang sedang asik berkutat dengan laptopnya di atas kasur. Dhini yang berada disebelahnya tengah asik bermain game barbie di ponselnya pun langsung menggaruk punggung suaminya.


"Kanan dikit yank" ucap Davin. Dhini menggeser tangannya ke kanan.


"Agak ke bawah yank" ucapnya lagi. Dhini lantas menurutinya.


"Bukan yang itu, kiri dikit nya lagi, jangan terlalu ke atas" pinta Davin sedikit tak sabaran. Dhini mendengus kesal, masih mencoba mengikuti arah yang ditunjukkan oleh Davin.


"Aduh yank... kamu ga bener nih garukinnya" ucap Davin mencoba menggaruknya sendiri dengan susah payah.


Dhini yang kesal melihat suaminya lalu turun dari kasur. "Ehh, mau kemana yank" tanya Davin yang tau saat ini istrinya sedang kesal.


"Mau cari udara segar, nyesek disini lama-lama. Kamu minta tolong di garukin, bukannya terimakasih gitu, malah ngatur-ngatur aku, ke kiri lah, kanan lah, atas dikit lah, bawah lah. Au ahh pusing aku, GARUK sendiri !" ucap Dhini dengan menekankan kata GARUK.


Dhini melangkah ke balkon, berdiri di tepi balkon memandangi langit yang penuh bintang bertaburan. Ditariknya nafas dalam-dalam, dan perlahan di hembuskannya.


Davin yang merasa bersalah segera menyusul istrinya, dia menyimpan laptopnya dan segera menuju balkon. Direngkuhnya tubuh Dhini dari belakang, tangannya melingkar di pinggang istrinya. Dhini yang sedari tadi mematung memandangi langit, terhenyak dengan perlakuan suaminya yang tiba-tiba memeluknya.


"Maaf ya yank, bukannya mau ngatur-ngatur kamu. Cuma kamu garukinnya tadi gak pas, abang kan cuma mau ngarahin kamu ke jalan yang benar" ucap Davin lalu mendaratkan dagunya di pundak Dhini.


"Emangnya aku lagi di jalan yang salah apa ? tanya Dhini.


"Nggak juga sih yank, cuma jalannya sedikit terjal. Abang arahin kamu biar gak tersesat" jawab Davin.


"Enggak akan tersesat juga bang, aku kan bawa GPS" lanjutnya lagi.

__ADS_1


"Sinyal lagi oleng yank, GPS nya mampet. Sini abang kasih tau jalannya" Davin membalikkan tubuh Dhini menghadap ke arahnya. Masih tetap memegang pinggang istrinya, dia menarik tubuh Dhini hingga tak ada jarak diantara keduanya. Dikecupnya bibir istrinya "biar abang tunjukin jalan menuju syurga sama kamu" ucapnya lalu kembali menciumi bibir istrinya dengan brutal. Malam itu pun menjadi malam yang panas untuk mereka.


...****************...


Barbie berjalan dengan perasaan kalut, hatinya terasa panas kala itu melihat Bagas yang sedang merangkul pinggang seorang wanita seksi di sebelahnya. Hingga saat Windy hampir tiba di sisinya, dia kaget bukan main.


Tak bisa mengelak lagi saat ini, Windy sudah berada di hadapannya. "Hai" sapa Windy kepada mereka yang tengah berbincang dengan beberapa orang disana.


Wanita itu melihat kearah Windy "kamu temennya mereka ya ?" ucapnya menunjuk ke arah pengantin yang tengah sibuk bersalaman dengan para tamu undangan lainnya.


"Iya mbak, saya temennya Laras" ucap Windy menyebutkan nama pengantin wanita itu.


"Ooh iya, dia adik sepupu saya" jawabnya lagi.


"Ini suami saya mbak, kita baru menikah tiga bulan yang lalu" jawab wanita itu dengan manjanya dia bergelayut di lengan Bagas. "Sayang... kenapa diam aja, kamu malu ya kalau aku manja begini ? Ini kan bawaan baby kita sayang" ucapnya lagi sembari mengelus perutnya yang masih rata.


Bagaikan disambar petir rasanya saat ini Windy merasa hatinya begitu panas. Dengan sigap diraihnya gelas berisi air es diatas nampan seorang pelayan. Dan... BYURRR, tanpa ba–bi–bu lagi disiramkannya tepat ke wajah Bagas.


Seketika suasana pesta mendadak ricuh. Amir yang menyaksikan kejadian itu langsung menarik Windy ke tempat yang sepi, mencoba menenangkannya. Windy langsung memeluk Amir dan menangis sesenggukan.


Baru kali ini Amir merasa begitu sedih melihat sahabatnya terluka seperti ini. Rasa marah memuncak di kepalanya, dikepalanya tangannya, ingin rasanya dia melayangkan bogem mentahnya ke wajah Bagas.


Sementara Bagas sudah berhasil menenangkan istrinya, dia pun menyusul Windy yang saat ini tengah menangis di pelukan Amir.


"Waaaah, ternyata kamu murahan banget ya Win. Mau aja dipeluk-peluk sama laki-laki lain" ucapnya bertepuk tangan sambil tertawa.

__ADS_1


Amir yang sedang menahan amarahnya kembali tersulut emosi dengan perkataan Bagas yang seenaknya. "Heh paku karatan, kamu kalo ngomong ga mikir pake otak ya, hah ? Maksud kamu apa dengan semua ini. Jelas-jelas kamu yang mainin perasaan Windy, malah sekarang kamu bilang dia murahan"


"Kenapa emang, gak senang kamu ? Aku mau sama dia itu cuma butuh uangnya aja, gak lebih" ucap Bagas enteng.


Windy yang mendengarnya tak bisa berkata apa-apa lagi, air matanya pun berhenti seketika, tangisannya berganti menjadi amarah yang begitu besar.


PLAK ! Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Bagas, dan setelah itu Windy langsung pergi meninggalkan mereka.


BUG ! "Ini untuk air mata Windy" tepat di perutnya Bagas, kepalan tangan Amir mendarat.


BUG ! "ini untuk kata-kata mu yang tak bermoral"


Amir pun berlalu pergi meninggalkan Bagas yang masih meringis memegangi perutnya dan jidatnya yang disentil Amir di akhir serangannya.


Windy sudah menunggu Amir di samping mobilnya, segera Amir membukakan pintu mobilnya mempersilahkan Windy masuk. Amir menyalakan mobilnya dan mengenakan safety belt nya. Disuruhnya Windy memakai safety belt nya juga, namun tak ada jawaban darinya. Tatapan matanya kosong dengan wajah yang sembab.Amir segera memasangkan safety belt Windy dan melajukan mobilnya.


Bersambung...


Maaf lama up ya 🙏🙏🙏


Makasih banyak buat yang selalu dukung 🙏 dan yang selalu gift.. semoga berkah, sehat selalu buat semuanya 🙏


...Terimakasih...


...♥️♥️♥️♥️...

__ADS_1


__ADS_2