
"Vin, kenapa kamu pakai ini ?" tanya sang ibu mertua yang penasaran sedari tadi.
Melihat menantunya mengenakan daster selutut berwarna merah dengan corak kupu-kupu hitam dan putih. Sudah dipastikan itu pasti milik Dhini, putri semata wayangnya.
"Astaghfirullah, aku lupa " Davin menepuk jidatnya dan segera masuk kembali ke ruangan Dhini.
Mereka tertawa melihat Davin yang mengenakan daster. Terlihat imut, namun ketampanannya tetap terpancar. Tentu saja membuat siapa saja yang memandangnya saat ini hanya bisa menyunggingkan senyum.
Dokter dan perawat keluar, dan langsung diserbu kedua keluarga tersebut. "Dokter bagaimana keadaan anak dan cucu saya ?" Tanya mama Miranda.
"Iya dokter, apa sekarang kami sudah bisa masuk ?" Pinta mami Evelyn diangguki oleh sang suami yang sudah tidak sabar ingin segera menimang cucunya.
"Alhamdulillah persalinan berjalan lancar, dan semuanya dalam keadaaan sehat wal'afiat " tutur dokter.
"Alhamdulillah terimakasih dokter Wulan" mami Evelyn membaca nametag yang tertera di pakaian sang dokter saat itu.
Tak ingin mengulur waktu lagi, papi Adit langsung masuk disusul yang lainnya.
Kebahagiaan keluarga Aditya kini lengkap sudah, dengan kehadiran cucu pertama yang sudah dinantikan sejak lama.
__ADS_1
Papi Adit langsung menuju box bayi, dengan senyum yang terus terpancar di wajahnya. " Wah, gantengnya cucuku. Wajahnya mirip dengan menantuku" tuturnya.
"Tentu saja dong pi, gak mungkin mirip tetangga kan" jawab Davin tertawa.
"Huss kamu ini, sembarangan kalau ngomong" sanggah papi Adit.
Davin hanya nyengir melihat wajah istrinya yang kini menatap tajam ke arahnya.
"pis sayang, pis, becanda kok, hehe" ucapnya mengacungkan dua jari ke atas.
"Terus kamu tadi ngapain pake baju daster gitu, emang baju kamu kenapa tadi ?" mama Miranda yang penasaran pun bertanya.
Davin langsung memasang wajah memelas "itu permintaan terakhir dari Dhini sebelum dia melahirkan ma"
Selama proses melahirkan pun para perawat itu menahan tawa mereka. Sedikit terhibur Dhini juga sempat tertawa melihat sang suami yang menggemaskan. Namun rasa sakitnya membuat dia tidak begitu lama tertawa.
"Hmm, gak ikhlas nih ceritanya" tegur Dhini dengan bibir yang di jutek-jutekin.
"Bukan begitu sayang, tentu saja aku ikhlas. Apapun akan aku lakukan. Demi kau dan si buah hati, terpaksa aku harus begini... " Davin menyanyikan sepenggal lagu dan memeluk istrinya serta memberikan kecupan singkat di jidatnya.
__ADS_1
"Nah itu bilangnya terpaksa" celetuk Dhini.
"Astaga, itu kan lirik lagunya yank. Kalo aku ubah, nanti aku bisa kena teguran donk" Ucap Davin membela diri.
"Aduh kalian berisik sekali, cucuku sedang tidur" mami Evelyn angkat bicara.
Seketika semua terdiam dan saling pandang. Tak bisa dipungkiri, kebahagiaan keluarga itu kini lengkap sudah. Kehadiran sang cucu pertama di antara kedua keluarga itu pun memberi warna baru bagi mereka.
Semua larut dalam kebahagiaan saat itu. Bergantian ingin melihat anggota baru di keluarga mereka. Dhini dan Davin sangat senang melihat keluarganya yang begitu bahagia saat ini.
Hingga saat akan pulang pun, rasanya mereka enggan meninggalkan bayi mungil itu disana. Papi Adit yang paling berat hati, rasanya dia ingin menginap saja disana. Tapi mami Evelyn melarangnya dan mengajaknya pulang, karena kondisi fisiknya yang belum begitu stabil, dia harus benar-benar menjaga kesehatannya.
🧚♀️
🧚♀️
🧚♀️
Bersambung lagi 😁😁
__ADS_1
setelah sekian abad tak muncul ke permukaan, akhirnya 🤭🤭🤭
masih ada yang nungguin ga ya 🤔🤔