Takdir Dari Tuhan

Takdir Dari Tuhan
CUTI


__ADS_3

"Sayang masih lama ya ? tanya Davin yang sudah hampir sejam menunggu sang Princess.


"Sabar dong bang, aku gak bisa diburu-buru. Kan jalan juga mesti hati-hati, gak liat apa perut aku udah buncit gini" tuturnya Dhini sambil memoles tipis wajahnya dengan bedak.


"Mendingan tadi kamu duluan deh yang dandan, abang belakangan" ujar Davin mengingat saat sang istri membangunkannya dan mengajaknya untuk segera berangkat.


"Oh jadi gak ikhlas nih nungguin aku ?"


Dhini berbalik badan menatap tajam sang suami. Bagaikan terancam sebuah senjata berlaras panjang, Davin memasang wajah memelas.


"Enggak kok yank, Abang ikhlas " tuturnya lembut.


Semua sudah tertata rapi di dalam mobil. Sang Princess, juga sudah duduk nyaman di kursi samping kemudi dengan kacamata capung bak ibu pejabat.


Tak mau kalah, Davin juga sudah menyiapkan kacamata hitamnya. Siap berangkat kembali ke habitatnya mereka lagi. Dengan segudang pekerjaan yang sempat tertunda akibat sang istri tercintanya.


Jalanan yang sepi membuat Davin lebih sedikit bernafas lega. Tidak seperti perjalanan mereka sebelumnya yang sedikit terkendala akibat sebuah truk yang mengalami pecah ban di tengah jalan, sehingga membuat kemacetan yang lumayan panjang.


Mereka berbincang banyak hal, salah satunya adalah mengenai acara tujuh bulanan yang akan diadakan sekitar dua bulan lagi.


Permintaan sang istri hanya acara sederhana saja, karena dia memang tak ingin merepotkan banyak orang. Dan sesuai titah ibu negara, Davin hanya mengangguk tanda setuju.


"Oke lah kalau memang itu mau kamu, yang penting kan do'a nya sayang. Supaya kamu dan anak kita sehat-sehat, lahirannya juga lancar, ya kan ?" tanya Davin memastikan.


Tak ada jawaban dari mulut Dhini, malah yang terdengar hanyalah hembusan nafas yang teratur pertanda dirinya sedang terlelap.


"Astaga ternyata kamu tidur, dari tadi aku ngomong sendiri dong" Davin menggeleng kepalanya.


🚘


🚘

__ADS_1


🚘


"Iya sayang, aku berangkat ya, assalamualaikum" ucap Davin berlalu setelah ritual cipika cipiki dan yang lainnya.


"Bang, tunggu " panggil Dhini saat Davin baru melangkah menuruni anak tangga.


"Apalagi sayang, belum rela kalau abang tinggal pergi kerja" Davin membalikkan badannya.


Dhini hanya tersenyum sambil mengangkat tangannya yang memegang sebuah tas ransel milik Davin. Tas berisi laptop dan semua berkas penting yang harus dibawanya.


"Astaghfirullah, untung kamu inget ya yank, coba kalo enggak, bisa berabe hari ini" tuturnya meraih ransel tersebut.


Davin memang lebih suka memakai ransel dibandingkan tas jinjing. Alasannya karena simpel dan tidak merepotkan kedua tangannya. Karena saat dipakai di punggungnya, tangannya bisa sambil mengoperasikan ponsel.


...----------------...


Dhini tengah tertidur, setelah menjalani proses panjang acara tujuh bulanan yang diadakan keluarga besar Aditya.


Apapun jenis kelaminnya nanti, semua mendo'akan yang terbaik untuk keduanya. Davin dan Dhini memang selalu rutin ke dokter kandungan, namun mereka meminta kepada sang dokter untuk merahasiakan jenis kelaminnya.


Biarlah menjadi kejutan saat dia lahir kelak, itu yang mereka inginkan. Dan semua yang sudah digariskan oleh Allah, mereka siap menjalaninya.


Davin duduk di tepi ranjang, tangannya mulai memijat kaki istrinya, kanan dan kiri bergantian. Dhini memang sering mengatakan kalau kakinya mulai terasa pegal-pegal.


"Kamu ngapain bang ?" tanya Dhini yang terbangun merasakan pijatan lembut sang suami.


"Kasihannya istri abang, pasti cape banget ya. Abang pijitin kakinya biar enakan" jawab Davin sambil terus memijit.


"Aku gak lagi pengen di pijit bang" Dhini mencoba untuk duduk di bantu oleh sang suami tercintanya.


"Wah sayang sekali yank, padahal abang lagi baik hari ini lho"

__ADS_1


"Aku pengennya yang lain" pintanya lagi.


"Pengen apa sayang, hmm ?"


"Tapi aku gak yakin abang mau deh" ujar Dhini merasa ragu mengatakannya.


"Abang selalu siap untuk kamu, mau sekarang ya ?" ucap Davin membuka bajunya.


"Eh eh ngapain buka baju, pake lagi" titah sang Princess.


"Tadi katanya kamu pengen, ya ayo yank, abang siap kok " Davin membela diri.


"Aku pengen kamu buatin jus alpukat, tapi harus kamu yang bikinin, gak mau orang lain" pinta sang Princess.


Wajah Davin melemas dan meraih kembali bajunya yang tadi dicampakkannya begitu saja.


"Oke sayang, demi kau dan si buah hati terpaksa aku harus begini...." Davin bersenandung sambil melangkah pergi.


"Oh jadi gak ikhlas nih ceritanya"


Ucapan Dhini membuat Davin terdiam dan berhenti melangkah. Membalikkan badannya, seketika itu melihat wajah sang istri sudah setajam silet yang ingin menyayatnya.


"Eh bukan sayang, itu kan cuma lagu. Abang akan lakuin apapun yang bisa membuat kamu bahagia" kedipan matanya sebagai pemanis dari rayuan mautnya.


"Lagu lama, malam ini kamu CUTI "


Glek ! Davin menelan ludahnya mendengar kata cuti yang diucapkan sang istri.


Kaciaaaan deh lu bang 😜😜


Bersambung...

__ADS_1


Terimakasih atas dukungannya 🙏🙏


__ADS_2