Takdir Dari Tuhan

Takdir Dari Tuhan
Dhini menuju Apartemen


__ADS_3

Davin kembali ke kantornya, bersama dengan Fajar. Setelah mengantarkan Karina pulang ke apartemennya, Fajar harus menyelesaikan pekerjaan Karina yang tertunda tadi.


Disisi lain, Dhini yang melihat gambar suaminya bersama dengan wanita lain mulai merasa gerah. Perasaan yang berkecamuk membuatnya mendidih, bak tersambar petir disaat panas terik. Air matanya tak dapat menyembunyikan perasaannya saat ini.


"Ternyata benar, selama ini bang Davin menyembunyikan sesuatu dariku. Siapa wanita yang bersamanya ini ?" beribu pertanyaan sudah terbesit di pikirannya.


Dhini pun meminta kepada Alvin untuk terus memantau gerak-gerik suaminya "jangan sampai lepas Al, aku beneran penasaran sama wanita itu" titahnya pada Alvin.


Disaat yang bersamaan ponsel Dhini pun berdering. Panggilan masuk dari suaminya yang langsung diangkat olehnya. Dan ternyata pamit akan pulang telat malam ini. Dengan begitu bertambahlah kecurigaan Dhini pada Davin.


Tanpa berfikir panjang, Dhini yang hanya mengiyakan perkataan suaminya langsung menelpon Alvin sesaat setelah Davin menutup teleponnya. Hatinya berkecamuk tak sabar untuk segera melihat apa yang terjadi sebenarnya.


Dhini segera meminta Alvin untuk terus memantau perkembangan yang terjadi saat ini. Kemanapun Davin pergi akan selalu diikuti olehnya.


Saat yang dinanti pun tiba, Davin keluar dari kantornya bersama dengan Fajar. Namun Fajar tak ikut masuk ke dalam mobilnya, Fajar hanya membantu Davin membawakan beberapa kotak kardus untuk dimasukkan ke mobilnya.


Alvin terus membuntuti kemanapun mobil Davin melaju, hingga berhenti di sebuah restoran. Davin turun dan masuk kedalam. Tak ingin ketinggalan momen sedikitpun, Alvin juga ikut masuk kedalam restoran.


"Halo, iya Dhin. Di restoran nih, laki-laki sih. Iya ntar aku kabarin lagi" ucap Alvin menjawab setiap pertanyaan Dhini yang menanyakan suaminya saat ini sedang dimana dan dengan siapa.

__ADS_1


Setelah cukup lama berbincang dengan seseorang yang ternyata hanya rekan bisnisnya, Davin pergi meninggalkan restoran tersebut. Namun bukan arah jalan pulang ke rumahnya. Tepat dugaan Alvin, kalau Davin kembali ke apartemen yang siang tadi didatanginya.


Davin turun dengan membawa makanan yang dibelinya di restoran tadi. Alvin membuntuti Davin hingga berhenti di depan sebuah pintu berwarna coklat tua itu, dan mengetuknya. Tak berapa lama, Karina membukakan pintu. Davin hanya memberikan bungkusan yang dibawanya tanpa masuk ke dalam.


Saat Davin akan pergi, Karina menarik lengannya. Tampak dari kejauhan, Alvin melihat wanita itu menangis memohon kepada Davin. Awalnya Davin menolaknya, namun saat wanita itu pingsan Davin pun panik dan segera membawanya masuk ke dalam.


Alvin hanya memantau dari jarak yang cukup jauh, sehingga tak dapat mendengar apa yang mereka bicarakan.


Alvin pun segera menghubungi Dhini, agar bisa langsung datang ke apartemen itu untuk memergoki suaminya dengan wanita lain.


"Hallo Dhin, suami kamu masih di dalam tuh. Tadi tuh cewek pingsan, sampe sekarang belum keluar juga dia" jelas Alvin.


Bertambah panaslah hati Dhini yang mengetahui suaminya sedang bersama dengan wanita lain di sebuah apartemen.


Tak kuasa lagi dia menahan rasa sakitnya dihianati oleh suaminya sendiri. Dhini pun segera turun dari kamarnya, meminta mang Kok untuk mengantarkan dirinya.


Papi Adit dan mami Evelyn sudah berada di kamar mereka. Sepulang dari Rumah Sakit, papi Adit diminta oleh dokter untuk lebih banyak beristirahat. Agar tidak terjadi hal-hal yang bisa membuat kesehatannya memburuk.


Di dalam mobil, Dhini mencoba bersikap tenang walaupun hatinya hancur. Dhini berusaha menutupi semuanya, sebab dia tak ingin terlalu banyak orang yang terlibat dalam masalah rumah tangganya itu.

__ADS_1


"Mang, bisa lebih cepat ga ?" pintanya dengan suara yang lemah.


"Iya neng, mamang usahain. Tapi di depan macet neng, kayaknya ada kecelakaan" jawab mang Kok yang terus konsentrasi mengendarai mobilnya.


"Waduh, kita terjebak di tengah neng. Gak bisa kemana-mana ini" jelas mang Kok melihat ke segala arah yang sudah penuh dengan kendaraan.


"Masih jauh gak mang kalo dari sini ke tempat yang mau kita tuju ?" tanya Dhini yang mulai cemas.


Dhini tak begitu hapal jalanan di Jakarta, sebab dia tak pernah bepergian sendiri. Kalaupun dia pergi sendiri selalu menggunakan jasa transportasi online.


"Gak begitu jauh sih neng, di ujung jalan sana masih harus belok ke kanan lagi. Terus di persimpangan lampu merah yang kedua belok lagi ke kiri neng. Nah setelah itu–" mang Kok menjelaskan dengan detail arah jalan menuju apartemen tersebut. Belum selesai dia menjelaskan Dhini sudah memotongnya.


"Cukup mang, aku jalan aja ke depan. Ntar naik ojeg dari sana" ucap Dhini turun dari mobil dan berjalan di trotoar sembari memesan ojeg online.


Setelah bertemu dengan ojegnya, Dhini meminta sang pengendara ojol itu untuk segera ke lokasi tujuannya.


"Siap neng, pake helm nya dulu. Aku bisa balapan kayak Valentino Rossi neng, pegangan yang kencang ya" ucapnya bersemangat.


Bersambung...

__ADS_1


Maaf ya baru bisa up πŸ™‚


Makasih buat yang masih setia membaca πŸ™πŸ˜


__ADS_2