Takdir Dari Tuhan

Takdir Dari Tuhan
Ancaman Papi Adit


__ADS_3

Setelah bersapa ria bersama kedua orang tuanya, Davin diminta papi Adit untuk berbicara empat mata. Mami yang ingin beristirahat pun segera masuk ke kamarnya.


Walaupun lama tak ditempati, kamar itu tetap bersih. Bi Las selalu membersihkannya, mengganti sprei nya setiap seminggu sekali. Sungguh benar-benar rajin bi Las, padahal Dhini sudah meminta bi Las agar tidak terlalu capek di usianya yang tak muda lagi.


Davin dan papi Adit berjalan menuju taman belakang rumah. Tempat dimana Davin dan istrinya tadi sempat berpanas-panas ria sejenak. Mereka pun duduk bersebelahan, dan tanpa basa-basi papi Adit langsung pada tujuannya.


"Papi dengar Karina kembali ke Indonesia ?" tanya papi Adit.


"Iya pi" persis dugaan Davin, cepat atau lambat papinya pasti segera tau kedatangan Karina.


"Papi dengar juga Karina bergabung dengan perusahaan kita ?" tanya papi kembali.


"Iya pi" jawaban yang sama dengan pertanyaan pertama.


"Dan papi dengar lagi kalau kamu sama Karina bermesraan di kantor " kali ini dengan nada bicara yang lantang, membuat siapa saja yang mendengarnya langsung menciut katakutan.


Tak terkecuali dengan Davin, dia tau betul bagaimana papinya. Dan papi Adit juga sudah mengenal Karina, bukan hanya sehari atau dua hari. Papi Adit memang tidak suka dengan kepribadian Karina sejak dulu.

__ADS_1


Selain kurangnya sopan santun, Karina juga tipe cewek yang doyan menghamburkan uang hanya untuk kesenangan dirinya saja.


"Apa istri kamu tau semua ini ? Apa Dhini tau kalau kamu dan Karina punya hubungan di masa lalu ? Dan juga, apa kamu gak berfikir kalau kamu punya seorang ibu yang sejatinya juga seorang wanita ?" papi Adit mencerca Davin dengan pertanyaan-pertanyaan yang sudah menumpuk di kepalanya.


Davin terdiam dan tertunduk "belum pi" jawab Davin menggeleng.


"Davin pasti akan segera jelasin semuanya ke Dhini, cuma Davin masih nunggu waktu yang tepat pi" jelas Davin.


"Papi gak mau dengar kamu macam-macam ya Vin. Dan papi gak mau kalau kamu sampai ngecewain keluarga kita" ancam papi, lalu berdiri hendak meninggalkan Davin.


Davin tercengang, baru saja dia akan kembali masuk ke dalam rumah. Ponselnya berdering, dan ternyata dari Karina.


"Halo, ada apa Rin ?" tanya Davin setelah mengangkatnya.


"Vin, kamu dimana sih. Kenapa gak masuk kantor ?" ucap Karina dari seberang sana.


"Aku ada urusan lain, kalau kamu perlu sesuatu minta tolong ke Fajar aja dulu" jawabnya langsung mematikan ponselnya.

__ADS_1


Karina yang hendak mengucapkan sesuatu pun langsung ngedumel, saat setelah Davin mematikan ponselnya. Berulang kali dia mencoba menelepon Davin, namun tak tersambung. Ponselnya sudah dimatikan. Davin tak ingin hari ini menjadi lebih rumit lagi fikirnya. Setelah tadi malam dia dikerjai oleh Karina.


# DHINI POV


Saat Davin dan papi sedang berbicara di taman belakang, Aku naik ke lantai atas masuk ke kamar. Aku ingat dengan seseorang yang menabrakku waktu itu. Ada kartu nama yang diberikannya padaku.


Aku mengambil tas milikku yang aku pakai kemarin, mencari secarik kertas yang berbentuk persegi itu. "Ahhh ketemu, ini dia. Ternyata namanya Alvin Prayoga"


Ternyata dia seorang pelatih Karate, apa aku minta tolong ke dia aja ya buat nyelidiki bang Davin, fikirku. Kucoba menghubungi nomor yang tertera disana. Ternyata dijawab dengan ramah olehnya. Tapi gak mungkin juga aku langsung pada tujuan awalku.


Aku coba berbasa-basi terlebih dahulu, lalu aku ajak dia untuk ketemuan. waaah, ternyata dia tak menolaknya. Alhamdulillah fikirku, jalan ku di ridhoi Allah.


Aku pun menyimpan kembali kartu namanya, takut kalau bang Davin menemukannya. Karena aku tak menyimpan nomornya di ponselku. Aku segera merebahkan diri di kasur, berkutat dengan laptopku. Khawatir kalau bang Davin curiga, aku berpura-pura untuk tidak curiga padanya.


Bersambung...


Terimakasih sudah berkunjung 😬😬😬

__ADS_1


__ADS_2