
Alvin sudah duduk manis menanti kedatangan Dhini, sambil memainkan ponselnya sesekali dia melirik ke arah pintu masuk. Dhini memang terlambat sepuluh menit dari perjanjian mereka.
Karena dia harus menunggu mami Evelyn dan papi Adit pergi, agar tidak ada yang tau kepergiannya. Hanya bi Las yang tau kalau saat ini Dhini pergi untuk bertemu temannya, pamitnya tadi pada bi Las.
Begitu masuk, Dhini langsung melihat Alvin melambaikan tangannya. Dhini pun berjalan menuju ke tempat dimana Alvin duduk. Alvin memang belum memesankan apapun untuk Dhini, sedangkan dirinya sudah menghabiskan 2 gelas soft drink.
"Maaf ya buat kamu nunggu lama, soalnya mertua aku lagi di rumah" terang Dhini.
"Mertua ?" Alvin mendelik melihat ke arah Dhini.
"Iya mertua, orang tuanya suami aku" jelas Dhini lagi.
Alvin benar-benar terkejut, selama ini dia fikir Dhini itu seorang gadis. Dia selalu menanti telepon dari Dhini, hingga saat pertama kalinya Dhini meneleponnya kemarin, hatinya langsung berbunga-bunga saat tau bahwa itu adalah Dhini.
Hatinya pun tak kalah berbunga saat Dhini mengajaknya untuk ketemuan. Pucuk dicinta ulam pun tiba, begitulah fikirannya dulu. Namun tak disangkanya ternyata Dhini sudah menjadi milik orang.
"Kamu udah nikah ya, kok gak bilang dari awal ?" tanya Alvin ingin memastikan lagi.
__ADS_1
"Iya, udah. Kan kamu gak nanya aku udah nikah apa belum, ya aku diam ajha lah. Salahnya dulu kita belum kenal, makanya kamu gak aku undang ke resepsi pernikahan aku" jelas Dhini.
"Nah terus kamu kenapa mau ketemu sama aku disini, ntar suami kamu ngamuk lho kalau tau" cebik Alvin.
"Tenang Al, suami aku gak tau. Justru aku mau minta tolong ke kamu nih. Boleh gak ?" tanya Dhini.
"Minta tolong apa ?" Alvin balik bertanya.
"Jadi gini Al, aku kok kayaknya rada curiga sama suami aku belakangan ini. Dia tuh gak kayak biasanya menurut aku" ucap Dhini.
Awalnya Alvin menolak, karena dia merasa tidak ingin ikut campur dalam urusan rumah tangga orang lain, apalagi mereka baru saja kenal. Namun karena Dhini memohon, dia tidak punya teman yang bisa dimintai tolong untuk hal ini. Karena sejak menikah dirinya hanya berdiam diri di rumah saja.
"Baiklah, akan aku coba. Tapi aku gak mau terlibat terlalu dalam ya. Aku hanya akan memata-matai saja, selebihnya kamu sendiri yang bertindak" tawar Alvin.
"Setuju" Dhini mengacungkan jempol tanda setuju dengan penawaran Alvin.
Tak lama Dhini pamit pulang, Alvin pun menawarkan diri untuk mengantarkannya. Tak ingin berlama-lama di luar rumah, Dhini takut kalau mertuanya sampai berfikir yang bukan-bukan tentangnya.
__ADS_1
Alvin langsung menuju kantor Davin, memulai misi pertamanya sebagai mata-mata Dhini. Tampak dari kejauhan Davin sedang bersama seorang pria dan masuk kedalam sebuah mobil. Mobilnya pun melaju menyusuri jalanan, diikuti oleh Alvin. Ternyata berhenti di sebuah gedung besar. Fajar dan Davin keluar dari dalam mobil dan masuk ke dalam gedung itu.
"Gak ada yang mencurigakan sih sejauh ini" Alvin yang masih setia di dalam mobilnya, menunggu Davin keluar.
Namun saat keluar dari gedung itu, Alvin melihat Davin keluar bersama seorang wanita. Sedang Fajar mengikuti dari belakang. "Apa itu wanita yang dimaksud Dhini ya ?" kecurigaan Alvin mulai menyeruak ketika Davin membukakan pintu mobilnya untuk wanita itu.
"Wah, emang ada yang gak beres nih kayaknya" Alvin melajukan mobilnya mengukuti mobil Davin. Ternyata berhenti di sebuah Apartemen, Davin turun lebih dulu dan kembali membukakan pintu mobil untuk Karina. Pemandangan kali ini berbeda. Saat ini Davin merangkul wanita itu masuk ke dalam apartemen tersebut, sedang Fajar hanya menunggu di dalam mobil.
Beberapa gambar telah di ambil oleh Alvin, sebagai bukti yang akan di berikan kepada Dhini. "mungkin benar kecurigaan Dhini sama suaminya. Mungkin aja ini istri simpanan suaminya yang gak dia tau" Alvin mulai berspekulasi sendiri.
"Astaghfirullah, kok aku jadi ghibah sendiri ya" ucapnya tersadar, melihat Davin yang sudah kembali masuk ke dalam mobil.
Bersambung...
Maaf ya lama up nya 🙏😌
Terimakasih 🙏🙏
__ADS_1