
Notifikasi pesan WA berbunyi di ponselnya, bukan hanya sekali, namu beberapa kali. Pertanda pesan dari sang istri tercinta.
Davin sengaja membedakan nada notifikasi khusus untuknya, tentu saja untuk mencegah istrinya ngambek bila pesannya tak segera di baca dan di balas.
Davin membuka dan membaca satu persatu isi pesan itu. Bagaikan struk belanjaan, ada beberapa pesanan yang harus dibelinya saat pulang ke rumah nanti.
"Assalamualaikum 🙏"
"Bang, ntar kalo pulang beliin aku sesuatu ya"
"Aku pengen jus Alpukat"
"Buah pear juga deh"
"Kalo ada sekalian strawberry ya"
"Pisang juga ya"
"Sama jeruk deh, tapi yang rada asem ya"
"Terus jangan lupa beli susu juga"
"Yang rasa coklat lho"
"Minyak kayu putih juga sekalian ya bang"
"Jangan lupa lho"
"Oh iya, beli madu juga bang"
"Madu yg buat di minum ya"
__ADS_1
"Bukan madu yang buat jadi istri 😏🔪"
Begitu sampai di pesanan terakhir, Davin tertawa melihat handphone nya. Ada sebuah ancaman disana dengan emot pisau yang jadi senjatanya.
"Sayang... sayang... kamu benar-benar bikin gemes tau gak" tuturnya sambil menutup kembali ponselnya dan meletakkannya kembali ke atas meja.
Davin kembali sibuk berkutat dengan laptopnya. Tangannya dengan lincah bermain disana, suara keyboard menjadi pemecah keheningan ruang kerjanya.
Bunyi pesan kembali dengan nada yang sama seperti tadi, pertanda istri tercintanya kembali mengirimkan pesan.
"CUMA DI READ 😠"
"KENAPA GAK DI JAWAB BANG ?"
"LAGI SIBUK APA SIH ?"
"KAMU GA MIKIRIN PERASAAN AKU 🤧"
Seketika Davin kaget melihat ponselnya, dengan chat yang menggunakan huruf kapital disana. Itu artinya istrinya mulai marah padanya.
"Astaghfirullah, kenapa aku lupa jawab tadi ya. Haduuuuh gawat kalo udah gini, mesti buru-buru pulang ke rumah ini" ucapnya menyesali kebodohannya sendiri.
"Maaf ya istriku tercinta dan anakku tersayang, papa lagi beres-beres mau pulang. Sekalian beli pesanan kamu sama mama ya. Jangan marah sama papa ya sayang, tunggu papa pulang 😘😘😘"
Balasan pesan terkirim dan langsung centang biru, pertanda Dhini memang menanti jawaban dari sang suami. Tak lupa dia mengirimkan stiker love kebanggaannya.
🛒
🛒
🛒
__ADS_1
🛒
Pesanan sang Princess sudah lengkap, dengan semua syarat dan ketentuannya. Saatnya menuju tempat yang dinantikan.
Namun sebelumnya, mobil Davin kembali berhenti. Kali ini dia berhenti di sebuah toko boneka. Sebuah boneka beruang kecil dengan setangkai bunga di tangannya menjadi pilihan Davin.
Sebagai permintaan maaf darinya karena telat membalas pesan dari istrinya. Maklum saja, wanita hamil sangat sensitif. Oleh sebab itu, pandai-pandailah menghadapi moodnya yang sering berubah-ubah.
🐻
Sesampainya di rumah, Dhini duduk termenung seorang diri di balkon kamarnya. Sejak mami dan papi Adit kembali ke Bandung, Dhini hanya ditemani oleh bi Las saja di rumah.
Dhini melihat Davin yang turun dari dalam mobilnya dan membawa beberapa kantung belanjaan pesanan istrinya.
Dia tersenyum dari bawah melihat Dhini yang sudah menantikan kedatangannya. Tentu saja karena segudang pesanannya. Dengan bangga dia mengangkat kedua tangannya yang memegang kresek.
Dhini hanya tersenyum melambaikan tangan dari atas sana. Rasa tak sabar ingin mengubrak abrik barang pesanannya itu, Dhini langsung turun ke bawah.
"Sayang pelan-pelan, jangan lari-lari gitu sayang. Ingat di perut kamu ada anak kita lho" ucap Davin khawatir melihat istrinya yang menuruni anak tangga dengan terburu-buru.
"Eh iya aku lupa, hehehe" ucapnya dengan tawa menyeringai.
Segera dia mengambil bungkusan yang di bawa oleh sang suami. Tak sabar ingin menikmati strawberry yang dinantikannya sejak tadi.
Bersambung...
...Jangan lupa klik tombol like nya ya, tinggalkan jejak di kolom komentar juga 🤗🤗...
...Terimakasih...
...🙏🙏🙏...
__ADS_1