
Selesai sarapan bersama istrinya, Davin bergegas pergi ke kantornya. Cuaca pagi ini tak secerah biasanya, awan hitam menyelimuti, hujan rintik membasahi bumi. Davin mengendarai mobilnya sendiri, mengingat janjinya kepada Karina hari ini.
Davin bergegas menandatangani semua berkas yang ada di mejanya, membaca satu persatu setiap lembarnya. Walaupun dia harus buru-buru, namun dia tak ingin membuat kesalahan dalam mengambil keputusan. Semuanya harus benar-benar berjalan dengan lancar fikirnya.
Hingga tiba saatnya jam makan siang, Davin pun pergi ke hotel tempat Karina menginap. Setelah sebelumnya berjanji via telepon, Davin sudah menunggu di lobby hotel.
"Hai Vin, udah lama kamu disini" sapa Karina yang langsung duduk disebelahnya.
"Oh, belum kok, baru sepuluh menitan lah" jawabnya sambil melihat jam tangan di pergelangan tangannya. Dia ingat jika itu adalah pemberian dari istrinya, seketika rasa bersalah pun menghantuinya.
Namun tak urung merubah jalan fikirannya. Dia sudah berjanji dengan Karina hari ini akan menemaninya mencari apartemen. Mereka pun segera pergi meninggalkan hotel.
"Kamu lagi jam makan siang ya vin" tanya Karina.
"Iya nih, aku laper banget, kita cari makan dulu ya. Kamu udah makan siang belum nih ?" ucapnya kembali bertanya.
"Belum Vin, tadi aku baru bangun soalnya pas kamu nelepon. Untung aja kamu telepon dulu, kalo aja enggak, gak tau deh aku pasti belum bangun." jawabnya tertawa.
__ADS_1
"Kamu masih sama ya seperti dulu, suka tidur larut malam, jadinya bangun kesiangan kan." ucap Davin yang masih hapal kebiasaan mantan terindahnya.
Sampailah mereka di sebuah resto yang menyajikan makanan western. Makanan kesukaannya Karina dari dulu yang selalu mereka nikmati bersama. Kenangan masa lalu pun muncul kembali dalam benak masing-masing.
Bagaikan bernostalgia mereka menikmati saat-saat berdua bersama dahulu. Saling bertukar cerita mengingat masa lalunya, tertawa bahkan bernyanyi bersama.
"Udah yuk, ntar kita kesorean lagi mau nyari apartemen nya" ajak Karina.
"Eh iya kan jadi kelupaan deh, kalo udah sama kamu suka lupa waktu jadinya" ucap Davin.
"Ya udah lah kita kesana langsung aja, gak usah yang terlalu besar Vin. Aku cuma sendirian ntar kalo ada apa-apa aku suka takut." jawab Karina.
"Ya ampuun... kamu nggak pernah berubah ya, masih tetap sama kayak yang dulu aja." ucap Davin mengacak rambut Karina.
"Iiissssh kamu juga nggak berubah ya, masih suka ngacak-ngacak rambut aku. Tuh kaaaan... jadi kusut iih" ucap Karina manyun sambil merapikan rambutnya kembali.
Setibanya di lokasi, mereka langsung menemui bagian marketing untuk lebih jelasnya dan meninjau langsung unitnya. Puas berbincang dengan pihak marketing, ternyata membuahkan hasil. Karina sangat menyukainya. Selain karena tempatnya mewah, fasilitas pendukungnya juga memuaskan. Karena tak jauh dari pusat pertokoan, membuat Karina tak berfikir untuk mencari yang lain lagi.
__ADS_1
"Gimana Rin, kamu suka kan ?" tanya Davin.
"Suka banget Vin, aku mau perlu apa-apa juga gampang, deket semua dari sini" jawab Karina.
"Ya udah, sekarang gimana? kamu mau langsung disini aja apa balik lagi ke hotel nih. Soalnya aku mesti balik ke kantor dulu." tanya Davin.
"Aku nebeng sampe ke supermarket aja deh, mau beli perlengkapan dulu buat sehari-hari. Ntar aku baliknya naik taksi online aja." jawabnya.
Mobil pun melesat membelah jalanan menuju supermarket. Setelah mengantarkan Karina, Davin kembali ke kantornya. Dengan santainya dia berjalan melenggang, masuk ke dalam lift dan naik ke lantai atas menuju ruangannya. Hatinya yang sedang senang tak dapat dipungkiri, dengan senandung yang terus keluar dari bibirnya.
Betapa terkejutnya dia saat masuk ke ruangannya. Sosok seorang yang begitu dikenalnya sudah menanti disana. Duduk di bangku kebesarannya dengan santai dan sibuk dengan sebuah laptop di hadapannya.
Bersambung...
...TERIMAKASIH...
...🙏🙏🙏🙏🙏...
__ADS_1