Takdir Dari Tuhan

Takdir Dari Tuhan
Kekhawatiran Dhini


__ADS_3

"Abang ngapain tiduran disitu" dhini berjongkok melihat davin yang tergeletak di lantai memegangi kepalanya. Dia pun segera membantu davin bangun dan memapahnya menuju bangku yang berada di depan. Dhini memang sudah membeli sebuah bangku panjang untuk Pak Umar beristirahat jika lelah saat sedang bekerja.


Davin masih memegangi kepalanya yang terasa berdenyut itu. Dhini tampak begitu khawatir, melihat benjolan besar berwarna merah kebiruan di kening davin. "Abang kenapa bisa sampe kepentok gini sih, aduuuh ini bejolan gede amat lagi. Sakit banget pasti ya bang." ucap dhini meringis, seakan ikut merasakan sakitnya.


"Bang, kita berobat dulu lah yuk ke rumah sakit. Takutnya kenapa-kenapa itu kepalanya abang sampe segitu gedenya benjolan." ajak dhini. Dia langsung memesan taksi online, karena tidak kan mungkin untuk davin mengendarai motor nya. Sedangkan dhini tidak bisa mengendarai motor sport.


Di dalam taksi, davin masih saja meringis menahan rasa sakit di kepalanya. "Abang kenapa bisa sampe kepentok gini sih kepalanya ?" tanya dhini yang masih penasaran karena dari tadi davin hanya meringis memegangi kepalanya saja.


"Abang tadi lagi jalan ke belakang, ternyata disana banyak kecoa nya. Abang geli dhin..., jadi abang mau lari. Eh pas balik ternyata itu lantainya licin banget, abang hilang keseimbangan terus kejedot tembok, kedubrak deh jadinya" sambil terus memijit kepalanya yang berdenyut dia menjelaskan kronologisnya hingga mendapatkan hadiah benjolan di kening mulusnya itu.


Sesampainya di rumah sakit, davin segera di tangani oleh dokter. Setelah melalui proses pemeriksaan, hasilnya tidak ada yang terlalu di khawatirkan.


"Karena efek benturan yang keras membuat pecahnya pembuluh darah kecil atau kapiler. Itu merupakan hal biasa yang terjadi akibat adanya benturan yang keras sehingga membuat memar atau lebam." jelas dokter setelah memeriksa davin.

__ADS_1


"Ini saya kasih obat penghilang rasa nyeri, dan ada salep juga nanti di olesin. Setelah sampai di rumah, nanti tolong di kompres dulu dengan es ya ibu suaminya" lanjut dokter itu berbicara pada dhini.


"Tap.. "dhini yang hendak menjelaskan status mereka yang sebenarnya pun langsung di potong davin sembari memegang lengannya.


"Dokter, saya nggak akan kehilangan ingatan saya kan dok. Karena tadi itu rasanya kepala saya seperti ada banyak bintang- bintang yang bertaburan gitu dok. Saya takut kalau saya amnesia terus saya akan menikah lagi, sementara istri saya yang cantik ini pasti akan sangat terluka perasaannya" Pertanyaan davin ini membuat suster yang ada di dalam tersenyum melirik ke arah mereka.


"Apaan sih abang, pertanyaan yang mustahil di tanyakan itu. Malu-maluin aja deh" ucap dhini pelan sambil menepuk lengan davin namun masih bisa di dengar oleh dokter.


Dokter pun tersenyum sambil menggelengkan kepalanya " Bapak nggak akan hilang ingatan, buktinya itu bapak masih ingat istri bapak yang cantik." jawab dokter sembari menunjuk ke arah dhini dengan menengadahkan tangannya.


"Baiklah kalau begitu dok, kita permisi pulang dulu. Terimakasih banyak ya dok, dokter Riski." davin menjabat tangan sang dokter sembari membaca nametag yang ada di jasnya.


#

__ADS_1


Mereka kini telah sampai di apartemen davin. Ini pertama kalinya untuk dhini masuk kedalam apartemen kekasihnya itu, karena kondisi davin yang masih harus beristirahat. Dhini segera mengambil es batu di kulkas dan membalutnya dengan handuk kecil. Dia lalu menempelkannya ke bagian yang memar seperti anjuran dokter tadi.


Dengan perlahan dia mengompres dahi kekasihnya itu, dhini merasa iba melihat wajah davin yang menahan nyeri di kepalanya itu.


setelah meminum obatnya, tak menunggu waktu lama davin tertidur setelah dhini mengoleskan salep di dahinya.


Dhini merapikan letak tidurnya davin, lalu memakaikan selimut hingga ke dadanya. " Ck udah kayak ngurusin lakik beneran aku" dhini berdecak.


Dhini hendak melangkah meninggalkan davin, tiba-tiba tangannya langsung di tarik oleh davin hingga ia terduduk di sisi tempat tidur davin.


"Kamu mau kemana sayang , ini udah malam. Abang lagi sakit, abang mau kamu jangan tinggalin abang" seru davin dengan mata yang tetap terpejam.


Dhini lalu mengelus punggung tangan davin, mencoba menenangkan dirinya "Tidurlah bang, dhini gak akan pergi." ucapnya.

__ADS_1


Bersambung...


...🙏🙏🙏🙏...


__ADS_2