
Davin terus mencari keberadaan istrinya, dia kembali ke tempat acara berlangsung. Mencoba bertanya pada siapa saja disana. "Maaf ma, mama lihat Dhini nggak ?" tanya Davin pada mama Miranda yang sedang berbicara dengan tante Ratih.
"Lho, kok malah tanya mama. Kan udah jadi istri kamu, emang tadi bilangnya mau kemana sama kamu ?" tanya mama Miranda sambil celingukan melirik kesana-kemari, begitu juga dengan tante Ratih.
"Tadi Dhini lebih dulu naik ma, dia udah lelah jadi aku suruh buat ke kamar duluan. Tapi aku lihat malah nggak ada di kamar, mana ponselnya juga ditinggal di kamar lagi" jawabnya.
Seluruh keluarga malah dibuat kalang kabut mencari keberadaan Dhini, kesana-kemari. Hingga papi Adit mengusulkan untuk melihat CCTV hotel. Davin pun bergegas menuju ruang control CCTV.
Di layar besar itu, Davin mencoba mencari keberadaan istrinya. "Nah itu dia Dhini" dia menunjuk ke arah layar.
Ternyata Dhini masuk kedalam sebuah kamar yang berada tak jauh dari kamar yang mereka booking. Tanpa menunggu lama, Davin segera berlari menuju kamar tersebut.
Sesampainya di depan pintu kamar, Davin menggedor pintu dengan keras. "Dhin... Dhini... buka pintunya Dhin... Kamu di dalam kan Dhin..." ucapnya terus menggedor pintu, semakin keras karena tak ada sahutan dari dalam.
Tak sabar rasanya, dia ingin mendobrak pintu kamar tersebut. Namun sayang ketika dia sudah sampai di depan pintu, pintu itu malah terbuka. Dhini dengan wajahnya yang kusut dan rambut yang tak beraturan membuka pintu.
Dan... BRAK !
Davin malah menubruk tubuh Dhini, sedangkan Dhini yang masih belum begitu sadar langsung terjatuh kelantai bersamaan dengan Davin di atasnya.
Semuanya terkejut dengan kejadian itu. Barbie yang baru dari kamar mandi pun langsung berlari menghampiri mereka.
Ternyata itu kamar Barbie, dengan cepat Davin langsung bangkit dari atas tubuh Dhini. Kerasnya benturan membuat Dhini pingsan, membuat semuanya menjadi panik, terutama Davin yang tak sengaja membuatnya pingsan.
Davin segera membopong tubuh Dhini ke kamar mereka yang hanya berjarak beberapa kamar dari kamar Windy. Davin membaringkan tubuh Dhini pelan di ranjang yang bertaburan bunga itu. Kamar pengantin yang di hiasi dengan taburan kelopak bunga di atas ranjangnya dan juga tersedia lilin dengan aromaterapi di nakas.
__ADS_1
Mama Miranda langsung menggosok kening dan hidung Dhini dengan minyak angin, mencoba membangunkan Dhini. Davin yang panik ingin segera memanggil dokter, namun dicegah oleh mama Miranda. Pasalnya menurut cerita Windy tadi, Dhini merasa begitu lelah hingga dia datang menemui Windy dan memintanya untuk memijit kepalanya yang terasa pusing.
Mami Evelyn juga mencoba membangunkan Dhini, menepuk-nepuk pipinya pelan. Dhini mulai mengerjapkan matanya, kepalanya yang terasa pusing membuatnya meringis memegangi kepalanya.
"Aduuuh... mama kepala aku pusing banget rasanya" ucap Dhini manja, sedikit merengek. Davin langsung mengambilkan segelas air untuk diminumkan kepada Dhini. Mama Miranda yang duduk di sisinya langsung memberikan minum kepadanya.
"kamu nggak kenapa-kenapa kan sayang ?" tanya mama khawatir.
"Enggak kok ma, Dhini cuma kecapean aja, kepalanya pusing tadi" jawabnya.
Akhirnya setelah merasa keadaan Dhini membaik, mereka memilih untuk pergi. Mama Miranda dan papa Andi memilih untuk pulang kerumahnya, karena banyak juga sanak saudara yang masih menginap. Begitu juga dengan Papi Adit dan mami Evelyn yang juga segera pulang ke rumah.
Tinggalah sepasang pengantin baru itu di dalam kamar. "Kamu nggak apa-apa kan yank ?"tanya Davin.
"Enggak kok bang, udah mendingan kok ini" jawabnya.
"Maaf ya bang, jadi repot semuanya" jawab Dhini mununduk, merasa bersalah dengan suaminya. Seharusnya malam ini adalah malam terindah bagi mereka berdua.
Davin pun berlalu pergi ke kamar mandi, rasa gerah membuatnya menjadi lebih segar setelah mandi. Dia lantas keluar dari kamar mandi, dilihatnya istrinya sudah terlelap. Davin pun menyusul istrinya tidur, untuk pertama kalinya tidur berdua dengan seorang wanita yang sudah sah menjadi miliknya.
Ditariknya tubuh Dhini kedalam pelukannya, lalu dikecupnya dahi istrinya lembut dengan penuh cinta. Tak ada yang terjadi diantara mereka seperti malam pertama para pengantin pada umumnya. Mereka tidur dalam satu selimut dengan saling berpelukan.
πΈοΈ
πΈοΈ
__ADS_1
πΈοΈ
πΈοΈ
Hingga pagi tiba, Dhini terbangun dengan matanya yang masih terasa berat, rasanya dia ingin bergerak namun susah karena lengan kekar Davin melingkar di atas tubuhnya. Dhini mencoba untuk beranjak namun tak bisa, tubuhnya yang mungil tak sebanding dengan tubuh Davin yang kekar.
"Mau kemana yank..." tanya Davin dengan suara seraknya khas bangun tidur, namun matanya msih terpejam.
"Eeeh... eee.... anu... bang mau pipis" jawabnya kikuk, masih tetap dalam dekapan Davin. "Bisa tolong lepasin dulu nggak bang ?"
Davin melepaskan pelukannya "jangan lama-lama, mau dianterin nggak ?" tanya Davin kembali.
"Enggak usah bang, deket juga kok"
Lama Davin menunggu Dhini tak kunjung keluar dari kamar mandi. Dia pun mengetuk pintu kamar mandi. "Yank... kamu ngapain di dalem lama amat, udah sepuluh menit lho kamu di dalam, sakit perut ya ?"
"Enggak bang, ini udah selesai kok" jawab Dhini dari dalam. Pintu kamar mandi terbuka, Dhini keluar sambil tersenyum.
"Kenapa senyum-senyum gitu ? Nggak lucu tau, ini masih jam tiga, tidur lagi yuk" ajak Davin.
Mereka kembali ke atas kasur, Davin pun kembali memeluk tubuh Dhini. Namun kali ini pelukannya terasa berbeda, karena tangannya yang mulai nakal. Davin mulai meraba-raba tubuh Dhini, tangannya kini sudah menyusup kedalam piyama Dhini.
Bersambung...
...Terimakasih...
__ADS_1
...ππππ...