
Tepat di depan apartemen berdiri, dada Dhini bergemuruh. Ada rasa tak sanggup untuk mempercayai apa yang terjadi sebenarnya. Akankah pernikahannya hanya sebatas sandiwara saja, atau memang harus berakhir disini, fikirnya.
Dhini masuk ke dalam, menuju lantai 5 tempat dimana Karina tinggal. Alvin yang masih setia memantau disana segera menemui Dhini yang baru saja keluar dari lift. Alvin pun menunjukkan pada Dhini dimana keberadaan suaminya saat itu.
"Ini kamarnya, aku nunggu di sana aja ya. Nanti kalau ada apa-apa kamu telepon saja, gak enak kalau aku ikut campur masalah rumah tangga kamu" jelas Alvin dan kembali ke tempat awal dia memantau tadi.
Dhini mulai menarik nafas, mencoba mentralkan hatinya yang terasa begitu panas bak air mendidih. Perlahan terucap dari bibirnya kalimat istighfar. Walau bagaimanapun dia harus tetap bersikap tenang, sebelum mengetahui kejadian yang sebenarnya dengan mata kepalanya sendiri.
Awalnya Dhini sudah menelepon Davin sebelum dia naik ke lantai atas tadi, namun tak ada jawaban dari suaminya. Bertambah gusarlah hatinya karena tak mendapatkan penjelasan keberadaannya.
Tok.. tok.. tok..
Dhini mengetuk pintu hingga tiga kali. Saat pintu terbuka, tampak Davin dengan raut wajahnya yang terkejut dan kikuk dengan kedatangan istrinya saat itu.
"Sayang, ka kamu.. kamu disini yank" ucapnya dengan terbata-bata.
Dhini hanya diam dan tanpa disadari air matanya menetes membasahi pipinya. Tak ada kata yang bisa di ucapkan olehnya, melihat suaminya saat ini dengan wanita lain dalam satu ruangan tertutup.
Dari dalam terdengar suara Karina memanggil-manggil Davin. Dan saat sudah berada di depan pintu, dengan enaknya dia memeluk Davin dari belakang seraya berkata "jangan pergi Vin."
Langsung saja Davin melepaskan pelukan Karina dari tubuhnya. Di depan istrinya sendiri dia di peluk oleh wanita lain. Davin tau betul perasaan Dhini saat ini.
PLAK !!
Satu tamparan mendarat di pipi kanan Davin.
__ADS_1
"Yank, maafin abang yank. Ini gak seperti yang kamu fikirkan yank" jelas Davin berjalan mengikuti langkah kaki istrinya yang pergi meninggalkannya.
"Yank, dengerin penjelasan abang yank. Abang gak berbuat apa-apa yank, abang sangat mencintai kamu yank" ucapnya lagi masih dan terus mengikuti Dhini yang saat ini begitu hancur.
Sampai tepat di depan lift, Dhini berhenti "cukup bang, aku gak mau lihat muka kamu untuk saat ini. Tolong biarkan aku sendiri, aku hanya ingin sendiri saat ini" ucap Dhini dengan deraian air matanya.
Dhini masuk ke dalam lift yang sudah terbuka, di susul Alvin yang juga masuk. Davin sama sekali tak mengetahui siapa Alvin saat ini, hingga dia tak menaruh rasa curiga. Dia hanya berfikir kalau Alvin mungkin adalah salah satu penghuni apartemen tersebut.
# FLASH BACK
"Rin bangun Rin. Waduh kenapa pake pingsan segala sih Rin. Bangun dong Rin, jangan becanda deh, gak lucu tau Rin" ucap Davin menepuk-nepuk pipi kanan dan kiri Karina bergantian.
Karina membuka matanya dan langsung memeluk tubuh Davin yang saat itu sedang berdiri membungkuk tepat di hadapannya. Davin langsung terjatuh di atas tubuhnya, karena terkejut akan perlakuan Karina yang tiba-tiba memeluknya.
"Karina lepas Rin" ucap Davin mencoba melepaskan dirinya.
Davin terkejut dengan apa yang di ucapkan oleh Karina saat itu, karena tak pernah terfikir olehnya Karina akan mengatakan hal itu. Setelah melepaskan diri dari pelukan Karina, Davin duduk di sisi ranjang. Karina pun membenarkan posisinya, duduk bersila menghadap ke arah Davin.
"Rin, maafkan aku. Aku gak bisa Rin, sebenarnya aku... Sebenarnya aku udah nikah Rin" ucap Davin tanpa memandang wajah Karina.
"APA ??? Apa maksudmu Vin, kamu gak mungkin bisa melupakan aku Vin. Kamu bercanda kan Vin ? Gak lucu tau Vin, aku lagi serius ini jangan bercanda deh" Karina masih tak percaya akan ucapan Davin.
"Aku serius Rin, dan aku benar-benar saaangat mencintai istriku. Aku memang mencintai kamu, tapi itu dulu. Setelah kamu pergi meninggalkan aku dengan semua rasa cintaku yang begitu besar untukmu, aku begitu terpuruk. Hingga aku mengenal Dhini, aku merasa dia benar-benar wanita yang bisa menggantikan kamu di hatiku" jelas Davin.
"Tapi Vin, kenap kamu gak cerita ke aku. Kenapa baru sekarang kamu bilang ke aku tentang pernikahan kamu. Apa mungkin kamu kurang bahagia dengan hidupmu, atau mungkin kamu menikah atas perjodohan orang tuamu ?" tanya Karina yang masih tak percaya jika Davin benar-benar telah melupakannya.
__ADS_1
"Apa maksud kamu, tentu saja aku bahagia dengan pernikahanku. Dan Dhini adalah wanita pilihanku sendiri, bukan seperti yang kamu fikirkan" jawab Davin yang mulai tersulut emosi dengan pertanyaan Karina.
"Kalau begitu, jadikan aku istri keduamu Vin" pinta Karina.
"Maaf Rin, aku tak akan membagi cintaku pada siapapun. Saat ini aku sudah sangat bahagia dengan istriku. Aku gak bisa menduakan cintanya untuk alasan apapun" tegasnya dan beranjak dari duduknya.
Karina bangkit dan berlari mengejar Davin. Bagaikan wanita murahan dia mencoba merayu Davin. Karina memeluk tubuh Davin dari belakang, tak ingin ditinggalkan oleh Davin.
Saat ini Davin sudah memantapkan hatinya untuk tak tergoda dengan bujuk rayu Karina lagi. Dia benar-benar akan melupakan masa lalunya bersama Karina dan menjalani masa depannya bersama Dhini istrinya.
"Maaf Rin, tolong mengertilah. Aku ini sudah beristri dan tak akan menduakannya. Aku mohon, lupakan aku dan temukan lelaki yang lebih pantas untukmu" ucap Davin.
Terdengar suara ketukan pintu dari luar, Davin pun melangkah menuju pintu, dan meninggalkan Karina yang masih terdiam. Davin langsung membuka pintu dan tampak Dhini berdiri di hadapannya.
"Sayang, ka kamu.. kamu disini yank" ucapnya dengan terbata-bata.
# FLASH BACK OFF
Alvin masih setia menemani Dhini saat ini yang sudah duduk di sebuah bangku taman yang berada di sekitar apartemen tersebut.
Dhini terus saja menangis tanpa berucap sepatah katapun. Dan Alvin mencoba menenangkannya, mengelus rambutnya dengan kata-kata yang bisa membuatnya lebih rileks.
Tanpa mereka sadari Davin melihatnya, tatapannya tajam ke arah Alvin bak seekor elang yang mengincar mangsa.
Bersambung...
__ADS_1
Terimakasih yang masih setia menunggu 😢😢
...🙏🙏🙏🙏...