Takdir Dari Tuhan

Takdir Dari Tuhan
Muat


__ADS_3

Setelah selesai sholat subuh, Davin membangunkan Dhini yang masih tertidur pulas dalam selimut. Rasanya tak tega membangunkannya, namun harus dilakukan karena kewajiban untuk melaksanakan sholat subuh.


Setelah pergumulan panas mereka tadi, Dhini begitu lelah sampai dia tertidur pulas. Sengaja Davin tidak mengajaknya untuk sholat berjamaah, biarlah Dhini tertidur sebentar fikirnya.


πŸƒ


FLASH BACK


Davin mulai meraba setiap inci tubuh istrinya, tangannya mulai masuk kedalam piyama Dhini dan membuka pengait yang membungkus benda lunak milik istrinya. Dia mulai bermain dengan pelan di bagian dadanya. Perlahan tangannya turun kebawah, sembari membuka semua yang menempel di tubuh Dhini, Davin ******* bibir merah merona milik istrinya.


Hingga tak ada sehelai benang pun yang menempel di tubuh mereka. Dhini yang mulai merasa hasratnya memuncak, tak bisa menyembunyikan raut wajahnya yang memerah. "Yank... kamu udah siap kan ? tanya Davin.


"Hmm..." jawab Dhini mengangguk.


"Tapi pelan-pelan ya bang, soalnya kan aku belum pernah bang. Lagian itu juga bisa segitu gede jadinya, muat apa enggak ya bang kira-kira" celetuk Dhini disela pergumulan panas mereka.


"Udah kamu diem aja yank, awalnya emang agak sakit, tapi ntar lama-lama jadi nikmat kok" jawab Davin dan langsung memulai pertempuran mereka.


Davin kembali ******* bibir istrinya, menuntunnya untuk membalas setiap sesapan yang ia lakukan. Ciuman itu mulai turun ke lehernya, membuat banyak bekas kepemilikan disana. Sembari memainkan jarinya di daerah rawan milik istrinya, Davin ******* benda kenyal dihadapannya itu bergantian, kiri dan kanan.


Merasakan kenikmatan yang tak pernah dirasakan sebelumnya, Dhini tak dapat menahan hasratnya lagi, ******* nafasnya mulai memburu, membuat Davin semakin bergairah. ******* demi *******, erangan demi erangan terus keluar dari bibirnya. Hingga saat Davin mulai memasukkan senjata miliknya, seketika itu pula Dhini menjerit merasakan sakitnya.


Davin dengan sigap membungkam bibir Dhini dengan bibirnya, dilihatnya airmata Dhini mengalir dari kedua bola matanya. Rasanya tak tega untuk melanjutkannya, dia melepaskan ciumannya dan akan beranjak dari atas tubuh Dhini. Namun Dhini menahannya "lanjutkan bang, aku memang harus melayani suamiku" tuturnya lalu ******* bibir Davin.


Merasa tertantang dengan perlakuan istrinya, Davin kembali melanjutkan perjuangannya. Senjatanya yang sudah separuh jalan dilanjutkannya masuk ke dalam. Perlahan dengan lembut Davin melakukannya, hingga keduanya benar-benar menikmatinya.


Setelah selesai mencapai puncaknya, Davin menciumi seluruh wajah istrinya "Makasih ya yank, udah menjaganya selama ini untuk abang" ucap Davin.

__ADS_1


Dhini yang merasa benar-benar lelah hanya mengangguk dan mengedipkan matanya. Rasanya saat ini badannya begitu lelah hingga tak dapat menahan rasa kantuknya. Dhini tertidur dipelukan Davin, dengan peluh yang membasahi tubuh keduanya.


Setelah merasa Dhini sudah cukup terlelap, Davin beranjak ke kamar mandi. Ditutupinya tubuh Dhini dengan selimut, lalu dikecupnya kening istrinya itu.


Waktu subuh segera tiba, dia akan bersiap melaksanakan kewajiban sebagai seorang muslim.


FLASH BACK END


πŸƒ


"Sayang bangun... yank... mandi dulu gih, biar sholat subuh" ucap Davin membangunkan Dhini sembari mengelus pipinya.


Dhini mulai membuka matanya, meregangkan otot-otot tubuhnya yang begitu lelah. Melihat Davin yang masih mengenakan pakaian sholatnya dan juga kopiah yang masih menempel di kepalanya, Dhini kaget dan langsung terduduk. Namun dia lupa bahwa saat ini dirinya tak mengenakan apapun.


"Eeeh, maaf" ucapnya menarik selimut kembali menutupi tubuhnya. Seketika itu wajahnya langsung memerah menahan rasa malu.


"Aaaah abang ihh" Dhini yang malu langsung menarik selimut menutupi seluruh tubuhnya hingga kepalanya.


"Udah bangun, mandi dulu gih biar sholat" ucap Davin menarik selimut yang menutupi wajah istrinya.


Saat Dhini hendak melangkah ke kamar mandi, dia meringis menahan sakit pada area sensitifnya. "Auh"


"Kenapa yank, masih sakit ya?" tanya Davin, diangguki oleh Dhini.


Davin lalu mengangkat tubuh Dhini, membawanya ke kamar mandi. Membaringkan tubuh Dhini dalam bathtub yang sudah diisi dengan air hangat, membuat Dhini merasa nyaman.


"Kamu berendam dulu, jangan lama-lama ya" ucap Davin mengecup keningnya lalu pergi meninggalkan istrinya.

__ADS_1


🌸


🌸


🌸


🌸


Hari pertama sebagai sepasang pengantin baru dilalui begitu indah, seharian mereka menghabiskan waktu hanya di dalam kamar hotel. Tak banyak yang mereka lakukan, selain tidur dan beristirahat. Dhini yang memang tak ingin keluar dari dalam kamar, disebabkan karena banyaknya bercak merah di sekitar lehernya membuat dia merasa malu jika harus dilihat orang.


Selain itu juga Davin ingin istrinya benar-benar istirahat, setelah mereka melakukan penyatuannya kembali. Tubuh Dhini begitu lemah untuk melakukan hal lain. Davin hanya memesan makanan untuk mereka, dan tak keluar dari kamar.


Hingga sore berlalu, Dhini yang mulai merasa bosan berkurung diri dalam kamar hotel. Dia mengajak Davin keluar untuk sekedar jalan-jalan di sekeliling hotel. "Bang, keluar yuk ah, bosen aku disini terus seharian" ajaknya.


"Kamu yakin yank, nggak malu keluar gitu" ejek Davin kepada istrinya yang sebel kepadanya, karena membuat banyak bercak bekas kepemilikan di lehernya hingga seluruh tubuhnya.


"Iya udah ayuk, aku pake kemeja juga ini gak begitu kelihatan juga kok" jawab Dhini sambil berdiri di depan cermin melihat lehernya, sembari memoles sedikit makeup di wajahnya. Dhini yang memang tak begitu suka berdandan, hanya sekedar memoles bedak tipis dan lipstik berwarna merah muda.


Mereka turun kebawah berjalan bergandengan tangan. Davin yang tak melepaskan tautan jari mereka, membuat banyak pasang mata terus memandangi dua makhluk hidup itu.


Bersambung...


...Terimakasih, maaf lama up πŸ‘‰πŸ‘ˆπŸ™ƒ...


...πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™...


...🌸🌹🌸...

__ADS_1


__ADS_2