
Sebulan berlalu, peternakan Ibu Amel mulai berjalan lancar. Para pekerja kembali bekerja seperti dulu lagi. Semangat mereka mulai membara mendengar bonus yang dijanjikan oleh Davin.
Dua bulan berikutnya, permintaan konsumen bertambah meningkat dua kali lipat dari sebelumnya. Hingga Davin berinisiatif untuk memperbesar area peternakan. Dengan membeli lahan kosong warga setempat, dan membuka lowongan bagi warga sekitar.
Upaya tersebut berjalan lancar, membuat peternakan tersebut menjadi yang terbesar di Jakarta. Hingga sampai ke telinga mantan suami durhaka itu.
"Berikan aku 50 persen dari hasil yang kamu dapatkan" pintanya paksa dengan suara menggelegar.
Beberapa pekerja yang melihat tak berani mendekat, mereka tau seperti apa sifat Ale yang selalu emosional saat apa yang diinginkannya tak segera dipenuhi.
"Apa hak kamu memintanya, kamu sudah membawa semua uangku dan meninggalkan hutang yang besar" bantah Bu Amel.
Perdebatan keduanya membuat Ale kehabisan kesabarannya. Ternyata dia sudah menyiapkan sebilah pisau untuk melancarkan aksinya.
Seketika lengan Bu Amel berdarah, akibat sabetan pisau yang dilayangkan oleh Ale. Para pekerja pun mencoba menolong, namun mereka takut menghadapi Ale yang sudah murka.
Davin dan Dhini datang disaat yang tepat. Mendengar keributan yang terjadi, mereka segera menuju arah sumber suara.
Darah segar masih mengalir dari lengan Bu Amel. Dhini segera membatunya dan membawanya ke Rumah Sakit terdekat.
Davin menelepon polisi untuk segera menindaklanjuti kejadian tersebut. Melihat Ale keluar dari dalam rumah membawa beberapa barang yang akan dibawanya kabur. Davin segera mendatanginya.
__ADS_1
"Apa yang kamu inginkan sebenarnya, kenapa sampai harus melukai ibu dari anakmu. Apa tak kau fikirkan bagaimana anakmu nantinya jika tau kalau ayahnya seorang penjahat ?" tanya Davin.
"Untuk apa aku memikirkannya, aku hanya ingin hidup bebas tanpa memikirkan hal yang membuat hidupku susah" jawabnya enteng.
Davin mulai berang dengan Ale, emosinya memuncak melihat orang yang tega menelantarkan anak istrinya sendiri.
Bugh !
Satu kepalan mendarat di pipi kanan Ale, membuat Ale meringis kesakitan, sambil memegangi pipinya dia mencaci maki Davin
Ale kembali mengambil belati yang diselipkan di punggungnya. Dengan lihai dia menggoyangkan belati itu ke kiri dan kanan untuk mencari celah arah mana yang akan dia tancapkan pada tubuh Davin.
Davin tetap siaga dengan serangan Ale. Walau dia terlihat tenang, namun hatinya merasa ragu untuk bisa melawan Ale.
🍌
Dhini langsung memanggil perawat untuk segera menangani Bu Amel, Dia tampak pucat melihat darah yang begitu banyak bahkan sudah mengotori pakaiannya.
Dhini hanya bisa berharap, semoga tak terjadi hal buruk pada suaminya. Dia mencoba menelepon namun tak ada jawaban.
Beberapa kali panggilan juga tak di jawab, hingga dia merasa begitu khawatir. Tiba-tiba ada panggilan video dari suaminya.
__ADS_1
"Halo yank, gimana Bu Amel ga kenapa-napa kan yank ?" tanya Davin.
"Masih di tangani dokter yank, kamu gimana disana aman kan ?" tanyanya balik begitu khawatir.
"Aku gak kenapa-napa yank, cuma..." belum sempat Davin melanjutkan ucapannya.
Dhini histeris melihat darah yang ada di wajah Davin. Sebelumnya tak terlihat olehnya, sebab Davin berada di ruangan yang gelap. Namun saat Davin keluar, wajahnya jelas terlihat di kamera.
"Bang, kamu... kenapa... kenapa ada darah bang ?" tanya Dhini menangis.
"Aku gak apa-apa yank, ini cuma.."
Handphone Dhini terjatuh ke lantai, bersamaan dengan Dhini yang pingsan.
Davin begitu khawatir, memanggil-manggil nama istrinya. Terdengar suara beberapa orang yang memanggil suster.
"Suster, sus, suster, tolong" begitu terdengar suara beberapa wanita disana.
Bersambung...
...Jangan lupa klik tanda jempolnya, tinggalkan jejak juga ya guys 🙏😇...
__ADS_1
...Terimakasih 🙏🙏...