Takdir Dari Tuhan

Takdir Dari Tuhan
Pulang


__ADS_3

Lelah berjalan-jalan disekitar hotel, mereka kembali ke kamar hotel dan bersiap akan pulang ke rumah mami Evelyn. Sesuai permintaan mami Evelyn, mereka akan tinggal di kediaman keluarga Aditya.


Sesampainya di rumah, mereka sudah di nantikan oleh mami Evelyn dan papi Adit. Mami Evelyn sangat senang sekali, akhirnya dia memiliki anak perempuan.


"Aduh sayang lama sekali datangnya, mami tungguin dari tadi lho" ucap mami Evelyn sembari memeluk anak menantunya itu.


Sebelumnya Dhini memang sudah pernah datang, namun saat itu hanya sebatas perkenalan saja. Tidak untuk kali ini, dia datang sebagai anak menantu keluarga Aditya. Kedatangannya langsung di sambut oleh beberapa pelayan disana.


"Mi, kami naik ke atas dulu ya mi" ucap Davin mengajak Dhini.


"Ya ampun sayang, baru juga nyampe udah mau masuk kamar aja" jawab mami Evelyn.


"Mami kek gak pernah muda aja" jawab Davin menarik lengan Dhini. Mami Evelyn hanya bisa tertawa dan menggelengkan kepalanya melihat anak dan menantunya itu. Sedangkan Dhini jangan ditanya lagi, wajahnya yang malu tampak merah bak kepiting rebus.


Sesampainya di kamar Davin, ini pertama kalinya Dhini masuk ke dalam kamarnya. Kamar yang begitu luas, karena di lantai itu hanya ada dua ruangan saja. Kamar Davin dan ruang fitness. Kamar yang didominasi warna hitam, abu dan putih.


Lantai kamar yang berwarna hitam,dengan garis putih serta karpet besar yang berwarna abu muda menambah kesan maskulin pada ruangan itu. Dhini msuk kedalam, melihat sekeliling ruangan besar itu dan merasa takjub. Dia duduk di sebuah kursi santai yang mengarah ke sebuah televisi dengan layar besar disana.


"Kamu capek ya yank ? istirahat dulu ya. Ini kamar abang, dan sekarang ini jadi kamar kita" ujar Davin yang berjongkok di depannya.

__ADS_1


"Kalau ada yang nggak suka, kamu boleh tukar dengan apapun yang kamu suka yank, abang gak marah kok. Sekarang kamu nyonya disini, disebelah sana ada dapur kecil kalau kamu mau masak sesuatu ngggk perlu turun ke bawah juga bisa yank" timpal Davin menunjuk ke arah yang dimaksud.


"Kamar abang besar banget gini buat sendiri aja, sampe ada dapurnya juga. Emang abang masak sendiri apa?" tanya Dhini menyelidik.


Davin berdiri, lalu berjalan ke arah balkon "Abang dulunya anak nakal yank, jadi papi sering marah sama abang. Abang sering dihukum gak boleh turun ke lantai bawah, jadi mami inisiatif bikin semua keperluan abang disini" jelasnya. Ingatan masa lalunya terbesit kembali, dia menunduk membayangkan masa lalunya yang suram.


Dhini menghambur ke pelukan Davin, mengusap punggungnya dan mencoba menenangkannya "abang hebat, Dhini bangga sama abang. Nggak ada manusia yang sempurna bang, tapi semua manusia itu sama-sama ingin sempurna" ucapnya.


"Duuuh... pinternya istri abang, jadi makin cinta deh, makin sayang, dan makin pingin" jawab Davin sambil menepuk bokong Dhini.


"Awww, abang genit ih sekarang" ucap Dhini melepaskan pelukannya lalu mengusap-usap bokongnya.


Pelukan Mulu ihh😒😒😒 fikirin perasaan yang jomblo ooiiii🤨🤨


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Malam ini rencananya pasangan pengantin baru itu akan pergi ke luar, seperti permintaan Dhini istrinya, dia ingin membeli beberapa perlengkapan untuk mereka berdua dan keperluan lainnya.


Sesampainya di mall, Dhini langsung menarik lengan Davin masuk ke dalam sebuah toko aksesoris. Melihat sebuah kacamata berbentuk kotak yang bergambarkan tokoh kartun Spongebob, dia langsung mengambilnya. Bukan malah mencobanya sendiri, dia malah memasangkan kacamata itu pada suaminya.

__ADS_1


Davin yang hanya diam mematung melihat istrinya hanya bisa pasrah, pasalnya selama di mobil dalam perjalanan tadi istrinya terus saja cemberut. Dia meminta pergi naik motor, namun karena malam Davin memilih naik mobil saja. Hingga kesepakatan keduanya kalau Davin akan menuruti semua keinginan istrinya malam ini.


Gaya cool nya masih tetap terlihat walaupun memakai kacamata lucu seperti itu. Para wanita yang melihat pun banyak yang berbisik memuji ketampanannya. Bukannya malah terhibur, Dhini malah semakin kesal dibuatnya. Dia pergi begitu saja keluar dari toko itu.


Davin yang melihat istrinya semakin kesal itu hanya bisa menggelengkan kepalanya, berjalan cepat mengimbangi langkah kaki Dhini. Tepat setelah mensejajarkan tubuhnya, Davin merangkul tubuh istrinya.


"Iissh apaan sih abang, malu tau diliatin orang-orang. Ini mall bang, banyak orang lho" ucap Dhini berusaha melepaskan tangan Davin.


"Eh, emang kenapa kalo orang-orang pada liat ? Iri? bilang bos, papale papale..." jawab Davin.


"iiih abang kenapa jadi nyanyi, ketahuan nih yang suka main aplikasi itu" ucap Dhini memukul lengan Davin.


Davin tertawa "bukan abang yank, itu karyawan di kantor suka main gitu abang denger" jawabnya.


Bersambung...


...Terimakasih...


...🙏🙏🙏🙏...

__ADS_1


...😘...


__ADS_2