Takdir Dari Tuhan

Takdir Dari Tuhan
Mules


__ADS_3

Adzan subuh berkumandang, saatnya menunaikan kewajiban bagi kaum muslim untuk beribadah kepada sang maha pencipta.


Dua insan tersebut masih terlelap di dalam selimut. Setelah melewati drama di tengah malam tadi, rasa kantuk masih menyelimuti keduanya.


Dering ponsel Davin berbunyi, mengusik nyenyaknya tidur dua makhluk ciptaan Tuhan tersebut. Alarm pengingat waktu sholat dari aplikasi di ponsel miliknya berhasil membangunkan si pemilik.


🍌


🍌


🍌


"Abang berangkat ya sayang. Kamu jangan capek-capek di rumah, istirahat yang banyak" tuturnya berpamitan hendak pergi ke kantor.


Tiba-tiba ada rasa mules dirasakan oleh Dhini. Wajahnya memucat seketika menahan rasa yang berbeda saat ini.


"Aduh perutku mules banget bang, perasaan tadi udah setoran ke toilet deh" tuturnya meninggalkan Davin.


Davin yang khawatir, tak tega meninggalkan istrinya. Dia kembali masuk kedalam menyusul sang istri ke kamar dan menunggunya di depan pintu kamar mandi.


Tok tok tok


Davin mengetuk pintu karena setelah menunggu selama lima menit, Dhini tak juga keluar dari dalam sana.


"Sayang, kamu baik-baik aja kan ?" tanya Davin khawatir.


Dhini keluar memegangi pinggangnya, dia meringis menahan rasa nyeri. Rasa itu kini semakin sering dirasakannya. Wajahnya pun memucat, hingga Davin panik dan segera membatunya untuk duduk.


"Kita ke Rumah sakit sekarang ya sayang" ajak Davin.


Dhini hanya mengangguk sambil terus meringis menahan rasa mules. Davin memanggil mang Kok dan bi Las agar segera menyiapkan segalanya untuk ke rumah sakit.


Mang Kok mengendarai mobil, sedang Davin bersama sang istri yang terus meringis menahan rasa nyeri. Pakaian Davin yang tadinya rapi hendak pergi ke kantor, kini sudah acak-acakan. Rambutnya pun tak kalah acak-acakan karena ditarik-tarik oleh sang istri.


Apa saja yang saat ini di hadapannya menjadi sasaran baginya untuk menahan rasa sakit itu. Bi Las langsung menghubungi kedua keluarga majikannya itu untuk memberi kabar bahwa sebentar lagi mereka akan segera menimang cucu.

__ADS_1


"Istighfar ya sayang istighfar..." tutur Davin sambil mengelus perut istrinya.


Mengusap peluh yang berjatuhan di wajahnya, Davin bingung harus berbuat apa. Dia memutuskan untuk menghubungi sang ibu.


"Assalamualaikum, mami ini Dhini perutnya sakit terus, aku mesti gimana mi ?" tanya Davin langsung tatkala telepon tersambung.


Panik, itulah yang saat ini dirasakan olehnya. Melihat istrinya dengan wajah pucat sambil terus meringis membuatnya semakin bingung. Sementara mang Kok masih berkonsentrasi mencari jalan tikus untuk menghindari kemacetan.


Yah, tak bisa dipungkiri, jalanan begitu padat pagi itu. Tentu saja, semua berlomba untuk cepat sampai ke tujuan masing-masing. Para pekerja, pelajar, dan banyak pengguna jalan lainnya.


"Kamu jangan ikut panik nak, kamu berdo'a ya. Ingat Vin, dampingi terus istrimu saat akan melahirkan anakmu, karena itu juga sumber kekuatan untuknya" titah mami Evelyn pada sang putra.


"Baik mi" tuturnya.


...----------------...


Akhirnya mobil mereka berhasil menembus jalanan, dan tiba di rumah sakit. Semua sudah menantikan kedatangan mereka, seperti permintaan dari Papi Adit. Dia ingin pelayanan terbaik bagi cucu dan menantunya.


Setelah menjalani pemeriksaan, ternyata Dhini masih pembukaan lima. Masih harus menunggu lagi agar Dhini benar-benar bisa melahirkan dengan normal.


Keringat terus mengalir membasahi wajahnya. Davin masih setia menggenggam tangan istrinya yang terus-menerus meringis merasakan nikmatnya rasa sakit itu.


"Tentu saja sayang, apa yang kamu inginkan sekarang pasti akan aku lakukan" tukas Davin penuh keyakinan.


"Aku ingin melihatmu memakai ini bang" pinta Dhini tersenyum sambil memegangi perutnya yang terasa mules.


"Apa tidak ada pilihan lain kah yank ?" tawar Davin.


"Ayolah bang, ini juga permintaan anakmu" rengekannya.


...----------------...


Hingga rasa itu semakin lama semakin sakit, dan darah mulai mengalir di kedua kaki Dhini bersamaan dengan pecahnya air ketuban. Sang baby siap untuk keluar melihat indahnya dunia.


Dokter bersama perawat sudah siap dengan alat tempur mereka, dengan segala macam peralatan yang sudah di sterilkan terlebih dahulu.

__ADS_1


Senyum mengembang di balik masker yang dikenakan sang dokter dan perawat tak dapat disembunyikan. Terlihat jelas dari sorot mata mereka saat ini.


Davin hanya berdehem dengan wajah yang merah menahan malu dengan apa yang dikenakan olehnya saat ini.


"Aduh, sakit sekali rasanya dok. Aku sudah tidak tahan lagi" ucap Dhini lirih yang saat ini merasa sudah tak kuasa.


"Baiklah kita mulai" tutur dokter diangguki oleh susternya.


Dhini saat ini sudah berada di atas brangkar bersama dengan sang suami yang selalu setia menemaninya, saat ini tengah berdiri di belakangnya.


👶


👶


👶


👶


Dua pasang oma dan opa saat ini tengah duduk di luar, menanti kehadiran sang cucu pertama mereka. Raut wajah bahagia Adit tak dapat disembunyikan lagi. Sejak awal mendapatkan kabar dari bi Las saja dia langsung menyiapkan keberangkatan mereka dengan segala kuasanya agar bisa cepat sampai tujuan mereka.


Tak berapa lama, terdengar suara tangisan bayi dari dalam sana. Serentak keempat orang tua itu berdiri dan saling mengekpresikan kebahagiaannya masing-masing.


Para Oma memberi selamat atas cucu pertama mereka sembari berpelukan. Sedangkan kedua lelaki itu sibuk menenangkan istrinya. Mengingat tempat mereka saat ini adalah Rumah Sakit, banyak mata memandang ke arah mereka karena suara gaduh yang mereka ciptakan.


Tak berapa lama, Davin keluar dengan rambut yang acak-acakan namun senyum sumringah terpancar di wajahnya.


"Vin, selamat ya. Sekarang kamu sudah menjadi seorang ayah" ucap papi Adit memberikan selamat kepada pewaris tunggalnya.


"Vin, kenapa kamu pakai ini ?" tanya sang ibu mertua yang penasaran sedari tadi.


"Astaghfirullah, aku lupa " Davin menepuk jidatnya dan segera masuk kembali ke ruangan Dhini.


Bersambung...


👉👈 masih ada yg nungguin kah 🤭🤭

__ADS_1


lama up nya kan, mesti nungguin Dhini lahiran dulu soalnya 🙈🙈.


jangan lupa jejaknya di komentar ya 😋😋


__ADS_2