
Selesai bersantap bersama, kedua orang tua itu langsung beranjak ke kamarnya. Mami Evelyn tak pernah lupa jadwal suaminya untuk minum obat. Tentu saja demi kesehatan suaminya, dia menjadi istri yang over protektif.
Dhini tengah bersantai di taman belakang dengan iringan musik slow dari ponselnya, merasakan sejuknya semilir angin yang bertiup di bawah rindangnya pepohonan.
Sambil menikmati segelas coklat panas yang sengaja dibawanya, Dhini berkutat dengan laptopnya. Sementara itu, Davin baru selesai berbicara dengan Fajar melalui telepon. Dia turut duduk disebelah istrinya.
"Yank, kamu sakit ? Kita ke dokter yuk ?" pintanya, sembari mengelus rambut istrinya.
"Kamu masih mikirin aku ?" tutur Dhini, dengan wajah yang masih fokus pada layar laptopnya.
"Tentu saja yank, kamu kan istrinya Abang." Davin menggenggam tangan istrinya.
"Lantas, apa maksud kamu dengan kejadian semalam yang aku lihat dengan mata kepalaku sendiri bang ?" cecar Dhini yang saat ini sudah menatap wajah Davin dengan sorot mata tajam.
"Oke yank, kamu dengarin dulu penjelasan abang yang sebenarnya ya" pinta Davin dengan lembut.
"Sudah berapa lama kamu berhubungan dengan wanita murahan itu ? Apa kamu lupa dengan janji kamu kalau hanya aku dan tak ada yang lain dihidupmu ?" tangisnya mulai pecah.
Iringan lagu dari ponselnya seakan manjadi backsound, dan dedaunan yang berjatuhan pun menambah suasana menjadi haru.
__ADS_1
(udah kek di drama Korea aja deh 🙄🙄)
"Sebenarnya dia mantan abang dulu yank" tuturnya tertunduk, malu dengan kelakuannya sendiri.
"Apa kamu masih menyimpan rasa sama dia bang, hingga saat kamu sudah menjadi seorang suami pun masih berhubungan dengannya" Dhini bertambah kesal mendengar pengakuan dari suaminya.
Selama ini dia tak menduga kalau wanita itu adalah mantan pacar Davin. Dengan kata lain, wanita yang pernah mengisi hatinya masih menjadi bayang-bayang di kehidupannya.
"Kamu dengar dulu penjelasan abang yank, ini bukan seperti yang kamu fikirkan yank" ucap Davin mencoba menenangkan istrinya.
"Aku percaya sama kamu selama ini bang, sebelum aku tahu kamu membohongi aku sejauh ini. Tapi apa yang aku dapatkan, aku bahkan tak pernah menduga kalau akan ada orang ketiga diantara kita" tandasnya.
"Abang ga pernah ga pernah ada niat untuk menduakan kamu yank. Abang juga gak nyangka bakal ketemu lagi sama Karina" jelas Davin.
"Waktu abang pacaran sama Karina, mami sama papi sama sekali ga suka dengan hubungan kami. Abang dulu bukan orang yang baik yank, hingga saat Karina pergi meninggalkan Abang, semuanya berubah" jelas Davin menggenggam kedua tangan Dhini.
"Hingga saat Abang bertemu dengan kamu, abang rasa kamu memang orang yang dikirim Tuhan untuk abang. Kamu ingat awal kita ketemu waktu itu, hmmm ?" tanya Davin.
"He'em, aku ingat. Waktu itu aku habis nonton bioskop sama temen-temenku" Dhini mengingat awal pertemuan keduanya.
__ADS_1
"Waktu itu kamu nangis karena handphone kamu rusak. Kamu tau gak, itu tuh gemes banget sebenarnya" Davin mencubit hidung Dhini.
"Udah gak usah banyak gombal, lanjutin yang tadi," yang tersadar dari lamunan masa lalunya.
"Eh iya lupa, hehehe"
"Abang tuh kalo sama kamu bawaannya pengen cium aja. Bikin gemes, makanya abang gak bisa menduakan kamu. Dan gak akan pernah ada orang ketiga diantara kita." tuturnya meyakinkan.
"Apa maksudnya dia peluk-peluk kamu waktu itu ?" pertanyaan yang sangat ingin ditanyakan olehnya saat itu.
"Awalnya dia gak tau kalau abang udah menikah, jadi dia minta balikan lagi. Dia juga minta abang untuk menjadikannya istri kedua," tutur Davin.
"Terus kamu mau ?" Dhini semakin penasaran dengan kelanjutannya.
"Ya gak mungkinlah yank, kamu itu udah yang terakhir dan ga akan ada yang kedua dan seterusnya" tutur Davin kembali meyakinkan istrinya.
"Abang ga mungkin menghianati kamu yank," Davin merengkuh tubuh istrinya dalam pelukannya.
Terdengar suara isak tangisnya, membuat Davin merasa semakin bersalah telah mengecewakan istrinya. Dia benar-benar bersyukur mendapatkan istri yang bisa menerima segala kekurangannya.
__ADS_1
Bersambung...
Hai guys, maaf ya baru bisa update setelah sekian hari matahari terbit dan terbenam 😄😄, Semoga masih setia membaca kelanjutannya ya. Terimakasih banyak atas dukungannya selama ini, semoga Allah membalasnya dengan berlipat ganda, aamiin ya Allah 🤲.