Takdir Dari Tuhan

Takdir Dari Tuhan
Udah di DP


__ADS_3

Serentetan acara mulai dari lamaran, syukuran S2 nya Davin, hingga pengumuman papi semuanya berjalan lancar. Satu persatu para tamu undangan pulang, sanak saudara yang turut hadir juga akan segera pulang. Dhini masih asik berfoto ria bersama saudara barunya, sedang Davin kini tengah duduk sebuah kursi bersama dengan papinya dengan meja bulat besar dihadapan mereka.


"Pi, Davin belum siap kalau harus terjun langsung ke perusahaan papi, Davin kan belum ada pengalaman pi" ucap davin membuka obrolan dengan sang papi.


Papi menepuk bahu Davin "kamu mau sampai kapan minta duit terus sama papi, sekarang saatnya kamu yang menghasilkan uang. Tuh lihat calon istri kamu, cantik, imut, mungil gitu, biaya hidup perempuan itu besar Vin. Belum lagi shopping nya, beli tas branded keluaran terbaru lah, inilah, itulah. Itu juga harus kamu fikirkan Vin. Makanya mulai dari sekarang kamu harus bisa punya penghasilan sendiri sebelum resmi menikah dengan Dhini" jelas papi Adit.


Davin terdiam meresapi setiap dari kata-kata yang papi ucapkan. Dalam hatinya berkata "bener juga sih yang dibilang papi". Matanya masih tertuju menatap calon istrinya yang mungil itu masih asik berswafoto.


"Kamu jangan khawatir, nanti ada yang bantu kamu disana. Orang kepercayaan papi, besok papi kenalin ke kamu." ucap papi meyakinkan Davin.


#


"Dhin, besok abang anterin kamu ke Medan ya. Abang pengen makan bakso deket rumah kamu itu, bakso apa tuh namanya ?" pinta Davin sembari meletakkan telunjuk kanannya di dahi mencoba mengingat nama warung bakso tersebut.


"Bakso Kasmaran bang, disini kan banyak warung bakso bang. Jauh amat abang cuma mau makan bakso ke Medan, sayang uangnya berat di ongkos. Lagian Dhini besok ke Medan nya gak sendirian kok bang, kan sama Tante Ratih " jawab Dhini.

__ADS_1


Davin menyandarkan tubuhnya di sandaran bangku yang di dudukinya. Dia menarik nafas dalam-dalam lalu membuangnya perlahan. Ada rasa sesak di dadanya, rasa tidak rela harus berjauhan dari Dhini. Namun karena Dhini masih harus menyelesaikan kuliahnya dan mengurus kafe mini miliknya itu, mereka harus rela terpisah jarak dan waktu.


"Abang kenapa jadi melow gini sih, kan masih bisa ketemu kalau abang kangen sama Dhini bisa langsung ke Medan. Medan - Jakarta cuma 2 jam naik pesawat" Dhini mencoba menghibur tunangannya itu.


"Ya udah kalau gitu besok abang ikut ke Medan, titik." ucap Davin menjentikkan jari telunjuknya ke meja yang menjadi penghalang duduk mereka. Karena saat ini mereka tengah duduk di teras rumah Dhini.


"Oh iya udah jam 11 ini, abang mau ketemu papi di kantor. Papi ngajakin abang makan siang di restoran dekat kantor, biar nanti sekalian abang dikenalkan sama orang kepercayaannya papi katanya." ucap Davin sambil melirik jam tangannya.


"Ya udah, gih sana ntar papi kelamaan nungguin abang, takutnya terjebak macet lagi" jawab Dhini.


Davin pun berlalu pergi mengendarai mobil sedan hitam yang baru dibelikan papi Adit sebagai hadiah kelulusan S2 nya.


Sesampainya di Medan, mereka langsung menuju rumah Dhini hendak beristirahat sejenak. Karena Davin harus segera kembali ke Jakarta besok pagi, hari ini dia ingin menghabiskan waktu bersama dengan calon istrinya.


__ADS_1


Tempat yang jadi tujuan Davin hari ini Bakso Kasmaran begitu terpampang jelas tulisannya. Tempat bersejarah bagi Davin, ditempat ini dia mulai merasakan benih-benih cinta muncul di hatinya hingga saat ini wanita itu telah menjadi tunangannya.


Davin tersenyum tatkala mengingat saat itu Dhini yang tengah makan dengan lahapnya sehingga membuat bibirnya belepotan. Davin tersadar ketika melihat Dhini melambai-lambaikan tangannya mencoba menyadarkan Davin.


"Bang, mikirin apa sih sampe senyam-senyum sendiri gitu. Tuh makan dulu baksonya ntar keburu dingin ga enak lho" ucap Dhini mengambilkan sendok untuknya.


"Habis ini kita ke mall ya, Abang pengen nonton bioskop" ucapan Davin kali ini malah mengingatkan kejadian waktu pertama kali mereka bertemu.


Dhini hanya berdehem menjawab ucapan Davin itu sembari menikmati baksonya dengan jus alpukat yang selalu dipesannya.


"Kamu jangan macam-macam disini ya sayang, itu cincin jangan dibuka-buka biar orang tau kalau kamu itu udah ada yang nge DP in, ntar kalo udah lunas baru bisa abang bawa pulang." ucap Davin mewanti-wanti Dhini dengan segudang pesan saat dia tak bersamanya.


"Yaelah bang, emang Dhini barang apa pake di DP in segala" jawabnya manyun.


"Kamu itu harta berharga abang sayang, untuk saat ini abang memang belum bisa bawa kamu pulang. Tapi ntar kalo udah LUNAS kamu jadi milik abang, kamu gak akan pernah abang tinggalin lagi" lanjut Davin dengan menekankan kata lunas yang diartikan SAH olehnya.

__ADS_1


Bersambung...


...🙏🙏🙏🙏...


__ADS_2