Takdir Dari Tuhan

Takdir Dari Tuhan
Titisan Mak Lampir


__ADS_3

Dhini duduk di sebelah davin, dia membawa cemilan dan 2 gelas teh hangat untuk mereka berdua "udah bang, nih udah cantik lg kan" dia tersenyum garing menampilkan rentetan giginya.


"Kamu sih mau pake apapun tetep cantik sayang" jawab davin sembari mengacak pucuk kepala dhini.


"ish abang kan jangan di acak-acakin lagi ini rambut aku, udah di rapihin juga" ketusnya dengan suara yang manja , membuat davin semakin gemas.


"Tadi itu kamu kenapa teriak-teriak gitu rambutnya di acak-acakin lagi. Udah kayak titisan mak lampir tau nggak. Untungnya tadi cuma pake tangtop, jadi masih kalah jauh seksinya sama mak lampir". ucapan davin kali ini berbuah hadiah sebuah cubitan diperutnya.


"aduh.. aduh.. sakit sayang" davin mengaduh kesakitan saat perutnya di cubit.


"Lagian kamu teriak-teriak gitu, kenapa ? " tanya davin penasaran.


"Tadi pas dhini buka baju mau ganti, tiba-tiba ada cicak jatuh ke kepala dhini bang. Iiih geli banget rasanya dia jalan-jalan di kepala aku" jelas dhini bergidik membayangkan tragedi di kamarnya tadi.

__ADS_1


"mana coba ulangi kejadiannya tadi, abang ga lihat tadi". celetuk davin dan spontan bantal sofa pun mendarat di tubuhnya akibat lemparan dhini yang tepat sasaran. Davin yang terus menerus menggoda dhini tertawa melihat raut wajah dhini yang merah seperti tomat.


"Isss gemesh deh abang sama kamu , makin lama makin imut aja jadi pengen ci.." ucap davin terputus.


Sejenak keduanya terdiam dengan fikiran mereka masing-masing. Dua makhluk kasat mata itu saling pandang, indra penglihatan mereka bertemu. Tiba-tiba terdengar suara cicak yang berhasil membuyarkan lamunan mereka.


"cicak yang ini ganggu aja, gak kayak cicak yang di kamar dhini tadi nih" gerutu davin dalam hati.


"Waktu berlalu begitu cepat, tanpa terasa hari sudah hampir larut malam. Davin pun segera bersiap untuk pulang. "Kamu berani sendirian dhin ?" tanya davin khawatir.


Mereka berjalan keluar rumah bersama, davin lalu mengenakan helm nya. Dia menjulurkan tangannya ke arah dhini, dan disambut oleh Dhini yang sudah mengerti maksudnya itu. Davin dengan berat hati meninggalkan dhini sendiri pun mau tidak mau harus pulang.


Tiba-tiba tampak dari jauh beberapa orang berlarian mengejar seseorang yang diduga adalah maling. Davin segera turun dari motornya dan disaat yang bersamaan maling itu lewat dari depannya terjatuh saat dengan sengaja kakinya dijegal oleh davin. Sontak saja semua orang yang mengejar langsung menghajar maling itu hingga babak belur. Davin yang melihat pun segera melerai semuanya.

__ADS_1


Davin lalu membawa maling tersebut ke dekat pagar rumah dhini. Dia duduk selonjoran dengan wajah yang seperti di tato, ada merah , biru dan hitam bekas tonjokan warga. Belum lagi bengkak dimana-mana. Davin saja yang melihatnya merasa ngilu, dia meringis seakan turut merasakan sakitnya.


Tak lama setelah itu polisi datang mengamankan pelaku. Satu-satu warga mulai bubar. Davin dan dhini tak banyak bertanya, hanya mereka dengar dari pembicaraan warga bahwa tersangka itu mencoba mencuri sebuah handphone milik seorang gadis.


Davin menatap dhini, dan dia menariknya masuk kedalam rumah. "Abang ga jadi pulang dhin, abang nginap disini aja". Ucap davin khawatir. Dhini pun mengangguk setuju. Karena kejadian tadi, dia jadi takut di rumah sendirian.


"Abang bobo di kamar dhini aja, biar dhini bobo nya di kamar mama" ucap dhini memegang lengan kekar davin, mengajaknya kembali masuk kedalam rumah.


Mereka pun masuk kembali ke dalam rumah dhini. Setelah mengunci pintunya, dhini segera masuk ke dalam kamar mamanya. "Bang dhini mau bobo duluan ya, udah ngantuk banget nih" ucapnya sambil menguap menahan kantuk."


Davin lalu menarik tubuh dhini dan memeluknya, perlahan dia mengecup kening dhini dan mengucapkan selamat tidur. "Mimpi yang indah ya sayang." ucap davin mendorong tubuh dhini masuk kedalam kamar.


Bersambung..

__ADS_1


......🙏🙏🙏......


......Thanks for everything 😘......


__ADS_2