
Merasa istrinya sudah tertidur pulas, Davin membenarkan posisi Dhini. Ditutupnya tubuh Dhini dengan selimut berwarna hijau kesukaan istrinya itu hingga ke dada. Dan dikecupnya keningnya sebelum dia pergi.
Davin memilih duduk di balkon kamarnya. Dia teringat dengan pria yang bersama istrinya waktu itu. Di ambilnya ponsel Dhini, tak ada chat dari Alvin disana. Benar saja, Dhini selalu menghapusnya setelah mereka berkirim pesan.
Tampak disana wallpaper foto pernikahan mereka, dengan pose yang romantis. Kening yang beradu, dengan tangan yang saling bertautan. Sementara tangan satunya Davin berada di dalam sakunya celananya, sedang Dhini memegang seikat bunga. Begitu romantis bila dilihat, mereka memang pasangan yang sangat serasi.
"Kok aku gak punya foto yang ini ya"
Davin membuka galeri di ponsel Dhini, matanya langsung tertuju pada beberapa foto dirinya bersama dengan Karina.
"Ini pasti kerjaan anak kadal itu, jadi mata-mata Dhini dia. Pantes aja beberapa hari terakhir ini aku ngerasa ada yang ngintilin terus" fikirnya sambil memperhatikan foto-foto itu.
Beberapa foto itu pun langsung di hapus saja olehnya, agar tak membuat Dhini berfikir yang bukan-bukan lagi. Dan setelah menemukan foto yang diinginkannya, Davin meletakkan kembali benda pipih itu.
🌳
🌳
__ADS_1
🌳
Dhini terbangun setelah hampir dua jam dia tertidur. Rasanya saat itu tenggorokannya kering, haus sekali. Seperti habis lari maraton saja, dia benar-benar kehausan.
Dhini berjalan menuju dapur, dan membuka kulkas. Pas sekali fikirnya, saat melihat ada air dingin disana. Tak banyak fikir, dia langsung meneguknya hingga tandas satu gelas besar.
"Alhamdulillah, lega rasanya. Kayak habis lari maraton hausnya." ucapnya yang merasa puas.
Saat melihat ke arah luar dari atas balkon, Dhini mendapati suaminya sedang berbincang dengan sang ayah mertua. Tampak perbincangan yang sangat serius diantara keduanya.
Dhini hanya mencebik dan tak mau ambil pusing. Dilihatnya ponselnya, ada chat dari Windy yang sudah mengirimkan laporan kepadanya.
Selesai mandi, Davin sudah berada di kamar. Sedang asik dengan ponselnya, hanya melirik istrinya yang keluar dari kamar mandi hanya mengenakan handuk.
"Kamu mau kemana yank, tumben udah mandi ?" tanya Davin yang matanya masih fokus pada layar ponsel.
"Kalo nanya itu liatnya ke orangnya, gak sopan" bukan malah menjawab, Dhini malah mendengus kesal.
__ADS_1
Dhini selalu kesal saat suaminya asik dengan ponselnya, karena dia merasa terabaikan. Ponsel saja yang dipegang terus, di elus-elus, bahkan bisa sambil senyum-senyum sendiri saat melihat handphone. Begitulah fikirnya.
"Iiih gemes abang kalau kamu udah ngambek gini. Kamu kan lagi pake handuk sayang, ntar kalo abang liatnya ke kamu, abang kan jadi pingin anu..." ucapnya yang saat ini sudah berada di hadapan Dhini.
Dhini langsung melihat tubuhnya hingga ke bawah, dan menyilangkan kedua tangannya di dada. Dahinya mengkerut, menatap suaminya yang tersenyum sambil menaik turunkan alisnya.
"Ya udah sana balik main handphone, aku pakai baju dulu deh baru kita ngobrol," tuturnya mendorong tubuh Davin.
"Sekarang aja deh ngobrolnya yank, enak kayaknya kalo ngobrol sambil ehem-ehem" kerlingan mata Davin mulai nakal.
"Eh sore-sore gini, fikiran kmu mesum bang. Udah ah aku mau pake baju dulu, pengen jalan-jalan keluar yank. Bosen aku tuh di rumah terus" rengeknya.
"Boleh, asalkan ada imbalannya ya, gimana deal ?" tanya Davin mencoba penawaran yang menguntungkan.
"Terserah deh ah, yang penting aku pengen jalan-jalan dulu" jawab Dhini berlalu.
"Oke sayang, abang tunggu disini, dandan yang cantik ya yank" tutur Davin.
__ADS_1
Bersambung...