
Kali ini Davin harus benar-benar pasrah, niatnya pengen nonton film yang romantis malah batal karena Dhini lebih memilih film kartun kesukaannya. Sepanjang film diputar Davin hanya fokus memperhatikan Dhini yang asik tertawa sambil mengunyah popcorn sang disuapi Davin.
"Lucu banget itu lho bang, liat deh" Dhini tertawa bersamaan dengan penonton lainnya sambil mengarahkan wajah Davin ke arah layar.
"Abang ketawa dong ah, kesannya kek gak ikhlas deh nonton film ini" bisik Dhini. Seketika itu Davin lalu tertawa dengan penuh semangat demi menyenangkan hatinya.
Sontak semua mata tertuju padanya, Bahkan beberapa penonton malah mencibirnya. Terang saja semua pada murka, pasalnya Davin tertawa disaat yang tidak pas.
"Abang apaan sih ah, bikin malu tuh liat pada ngeliatin kesini" ucap Dhini membekap mulut Davin.
"Kan kamu yang nyuruh abang ketawa, gimana sih. Giliran abang ketawa malah di bekap mulutnya abang, pake tangan lagi. Kalo pake bibir kamu sih abang gak akan komplen, ikhlas malah rela, beneran" jawab Davin setelah menyingkirkan tangan Dhini dari mulutnya sembari menaikkan turunkan alisnya.
Lagi-lagi dia mencoba menggoda gadis mungilnya itu, sedang yang digoda malah menutup wajahnya yang memerah karena malu.
"Woi bang, kalo mau ribut diluar sana. Ganggu orang lagi asoy aja" Ucap seorang pria disebelahnya. Davin yang mellirik ke arah mereka, melihat lipstik wanitanya sudah belepotan itu mencoba merapikan pakaiannya.
Tempat yang strategis untuk mereka memang, disudut kanan paling atas bangku penonton.
"Ck, miskin amat lo bang mau gituan disini. Gak bisa nyewa kamar lo ya" ejek Davin yang tanpa sadar memancing amarah pemuda itu.
"APA MAKSUDMU BANG, MAU APA KAU HAH ? KAU NGGAK TAU SIAPA AKU ? " emosi pemuda itu memuncak karena terganggu sedang asoy malah di ejek pula. Dia menarik kerah baju Davin dengan kasar.
__ADS_1
"Ups santai bro, nggak usah emosian. Biasa aja nggak usah ngegas gitu ngomongnya bang" ucap Davin mencoba melepaskan cengkraman pria itu.
Kericuhan pun terjadi didalam bioskop membuat mereka berdua digiring ke pos keamanan. Dhini dan pasangan pria itu pun turut mendampingi mereka.
"Apa yang kalian ributkan sampai mengganggu kenyamanan orang lain" security mengintrogasi mereka
"Ni orang merasa terganggu sama suara ketawa saya pak, dia lagi asoy sama ceweknya nanggung jadinya" Davin buka suara.
Pria itu kembali terpancing emosi dan mencengkeram baju Davin, kepalan tangannya sudah mengarah ke wajah Davin.
"ABAAAAAANG..." teriak Dhini mendorong tubuh pemuda itu lalu menangis memeluk tubuh Davin.
"Dhini, kamu jangan nangis. Abang gak kenapa-kenapa nih lihat wajah abang masih tampan kan." ucap Davin menenangkan Dhini menghapus air matanya dengan kedua ibu jarinya. Security itu pun langsung menarik pemuda itu menjauh, khawatir akan terjadi keributan lagi.
"Ayo makan dulu Dhin, laper abang gara-gara si monyong itu tadi." Sebutan baru Davin untuk pria yang gagal asoy tadi.
Mereka memilih makanan cepat saji kesukaan Dhini, apalagi kalau bukan Chicken Crispy.
"Besok kalau abang di Jakarta, kamu jangan genit sama laki-laki lain ya. Terus ntar kalau mau belanja perlengkapan kafe minta temeni sama tante Ratih aja. Udah gitu-" ucapan Davin terhenti seketika melihat lima jari Dhini mengarah ke wajahnya.
"Stop, Dhini udah tau bang. Udah gitu nanti cari pekerja yang bantu-bantu di kafe itu perempuan jangan laki-laki. Di kampus jangan pecicilan sama laki-laki dan bla-bla-bla" semua pesan yang selalu disampaikan Davin sudah melekat di fikiran Dhini, yang tujuannya adalah untuk menjauh dari yang namanya laki-laki.
__ADS_1
Malam itu menjadi malam yang menyenangkan untuk sepasang makhluk kasat mata itu. Setelah tadi kejadian yang menghebohkan penghuni bioskop itu selesai. Selesai makan mereka pun menuju wahana bermain.
Dhini yang paling bersemangat ingin mencoba satu persatu permainan. Davin memberikan sebuah Powercard dengan saldo setengah juta itu membuat matanya berbinar-binar saking senangnya. "Nih, kamu mau main apa aja boleh. Nanti kalau kurang abang isiin lagi saldonya."
Hampir semua permainan dicobanya, hingga saat mencoba permainan capit boneka Dhini terlihat kesal, pasalnya setelah sepuluh kali mencoba tetap saja dia gagal.
"iiis kan itu udah kena capitnya kok malah jatoh sih ah, gimana sih gak bener nih mesinnya" Dhini menendang mesin yang tak berdosa itu dengan kakinya.
"Eeeh kok malah marah-marah, itu mesinnya jangan ditendang gitu ntar marah mbak nya yang jagain lho kamu, mau ?" Davin menakut-nakuti Dhini yang celingukan takut terciduk.
"Sini coba abang yang capit, pasti dapet. Abang kan hebat." Dengan membusungkan dadanya Davin berkacak pinggang.
Percobaan pertama gagal, Dhini pun tertawa. Percobaan kedua pun tak membuahkan hasil, lagi-lagi Dhini tergelak. Percobaan ketiga dengan bacaan do'a-do'a ternyata berhasil mendapatkan sebuah boneka berbentuk love berwarna merah muda itu membuat Dhini melompat kegirangan.
"Yesss, akhirnya berhasil... Hemmm siapa dulu, Davin Aditya Pratama gitu lho." Dia kembali menyombongkan diri dengan gayanya tadi menepuk-nepuk dadany.
Dengan hati yang riang Dhini terus saja memeluk boneka barunya. Davin tersenyum mengacak rambut tunangannya itu. Rasanya semakin tak rela saja bila harus pergi darinya.
Tak terasa hari semakin malam, mereka berniat untuk pulang ke rumah Dhini. Davin memang akan menginap di rumah Dhini, tak lupa membelikan makanan untuk tante Ratih yang setia menunggu mereka di rumah.
Bersambung...
__ADS_1
...🙏🙏🙏🙏...