Takdir Dari Tuhan

Takdir Dari Tuhan
Kembali ngantor


__ADS_3

Sepulangnya mereka berbelanja, Davin mengajak istrinya ke sebuah restoran. "Lho, kok berhenti disini bang ?" tanya Dhini celingukan melihat sekeliling.


"Iya, ayo makan dulu yank, abang laper banget nih habis nemenin kamu belanja" ucap Davin sembari membuka safety belt yang dikenakannya, lalu tak lupa juga membukakan milik istrinya.


Melihat istrinya yang masih fokus menatap kearah luar jendela, Davin langsung mengecup pipinya. Dhini langsung tersentak dari lamunannya mendapati suaminya yang memberikan serangan mendadak. Sebelum serangan berlanjut, Dhini langsung mendorong tubuh Davin kembali ke posisi semula.


"Dasar Princess titisan dewi kuan'in, awas aja ntar di rumah. Kamu nggak akan bisa berkutik yank abang buat" ucap Davin dengan kerlingan matanya.


Seeer, rasanya darah Dhini berdesir mendengar ucapan syarat akan makna yang yang mengandung unsur negatif yang keluar dari mulut suaminya itu. "Hiii.... kok aku merinding ya dengernya" jawab Dhini bergidik.


Davin yang sudah turun dari mobil langsung membukakan pintu untuk istrinya. Mereka masuk kedalam dengan Dhini yang merangkul lengan Davin.


Suasana resto yang ramai pengunjung, membuat Davin memilih tempat duduk di pojok ruangan dengan pemandangan yang mengarah langsung ke sebuah danau. Sebelumnya memang dia sudah memesan tempat, karena tahu pengunjung restoran itu pasti akan ramai.


Di tengah danau, ada sebuah panggung yang menyajikan live music band. Membuat suasana resto menjadi romantis dengan banyaknya lampu-lampu di sekitar taman. Banyak juga pasangan yang berfoto disana untuk membuat kenangan.


Selesai makan malam, mereka turut duduk di bangku taman yang ada di pinggiran danau, berbaur dengan pasangan lainnya menikmati lantunan lagu yang dibawakan oleh vokalis band.


...****************...


Pagi yang cerah untuk memulai kembali aktifitas yang ditinggalkan sebelumnya. Dhini sudah selesai berkutat di dapurnya untuk membuat nasi goreng dan coklat panas untuk sarapan mereka. Pagi ini, Davin kembali ke kantor. Setelah tiga hari cuti, Davin harus disibukkan kembali dengan urusan kantornya.


Davin sudah tampak gagah dengan pakaian yang dikenakannya. Dhini segera memakaikan dasi pada suaminya, ini pertama kali buatnya melakukan hal sepele namun sangat berkesan untuk pasangan suami istri.


"Ngapain abang senyam-senyum gitu" cebiknya


"hehehe... gak apa-apa yank, seneng aja sekarang udah punya istri. Siap mandi baju udah tersedia, tinggal pakai. Dasi juga di pake in sama istri, kok baju sama celana nggak sekalian kamu pake in tadi yank?" ucap Davin.


"Aiiiish... abang kan bisa pake sendiri, lagian udah gede juga masa mau di pake in sih, gak malu" jawabnya sambil membenarkan simpulan dasi suaminya.


Davin yang memegang pinggul Dhini langsung menariknya hingga tubuh mereka menyatu. Dia lalu mencium bibir istrinya, sedang Dhini yang terdiam dengan perlakuan suaminya perlahan mulai terbawa suasana panas.


Lama mereka saling bertukar saliva, hingga Dhini merasakan dibawah sana sesuatu mulai mengembang. Dihentikannya ciuman itu lalu mendorong tubuh Davin. Matanya melirik kearah benda keramat itu, Davin malah tertawa.

__ADS_1


"Hayo kamu yank, tanggung jawab nih udah bangunin benda pusaka abang" ucapnya tertawa.


"Enak aja, abang yang mulai duluan kan" jawab Dhini.


"Iya memang enak kan yank, emang kamu ga keenakan apa ? Hayooo ngakuuu..." ucap Davin merayu istrinya, kembali wajah Dhini memerah menahan malu.


"Udah ah, ayo sarapan dulu ini ntar abang kesiangan, telat lagi. Ini coklatnya juga udah keburu dingin lho" ajak Dhini menarik lengan Davin ke dapur kecil mereka.


Davin hanya pasrah mengikuti langkah kaki istrinya, sembari mengelus benda pusakanya "sabar ya, ntar malam kita tuntaskan, kita balas dendam sampe pagi"



...Semoga visualnya sesuai ya ๐Ÿ™ˆ๐Ÿ™ˆ๐Ÿ™ˆ...


๐Ÿ’ฎ


๐Ÿ’ฎ


๐Ÿ’ฎ


๐Ÿ’ฎ


Sepeninggal suaminya ke kantor, Dhini masuk kedalam. Dia menuju dapur utama, mencari bi Las yang bekerja sebagai ART di rumah ini. " Bi, bibi sendiri aja kerja disini" tanya Dhini duduk di lantai disebelah bi Las yang tengah menyusun barang belanjaan yang baru di belinya di pasar.


"Eh, nyonya jangan duduk disitu nyah. Aduh itu jorok lantainya" ucap bi Las menunjuk lantai tempat Dhini duduk.


"Ah enggak kok bi, bersih kok ini. Lagian bi Las juga duduk disini, biar enak aja ngobrolnya kita, hehehe" jawabnya.


"Iya nyah, memang udah bibi bersihin sih tadi" ucap bi Las masih sibuk menyusun belanjaan ke dalam kulkas. "Nyonya mau perlu sesuatu, biar bibi siapin" lanjutnya lagi.


"Enggak kok bi, cuma pengen ngobrol aja, aku bosen sendirian. Bi, jangan panggil nyonya ih, kesannya aku tuh tua banget gitu" pinta Dhini.


"Tapi nyah-"

__ADS_1


"Gak pake tapi-tapi bi, panggil Dhini aja gitu bi" potong Dhini.


"Ih gak mungkin saya panggil nama, panggil neng aja deh kalau begitu, biar lebih mudaan dikit" ucap bi Las.


"Nah itu lebih baik bi" jawabnya.


Mereka asik mengobrol sambil tertawa bersama. Dhini banyak bertanya tentang rumah dan keluarga Davin, karena bi Las memang sudah puluhan tahun bekerja di rumah itu. Bi Las sebagai ART dibantu suaminya mang Kok.


Awalnya Dhini heran, kenapa namanya mang Kok. Ternyata mang Kok panggilan nya, nama aslinya Koko, dipanggilnya jadi mang Kok. Bi Las memang orang yang sangat asik di ajak mengobrol, sampai-sampai mereka tak sadar adzan dzuhur sudah berkumandang. Keduanya pun segera menunaikan kewajiban masing-masing.


Selesai sholat, Dhini duduk di tepi ranjangnya, mengambil handphonenya. Dilihatnya banyak panggilan tak terjawab dan juga pesan chat dari suaminya. "Ya ampun, banyak banget ini sampe ratusan" ucapnya sembari membaca satu persatu pesan tersebut.


Segera dia menghubungi kembali suaminya. Tak menunggu lama, suara dari seberang sana langsung melengking. "Sayang kamu kemana aja sih, kok gak jawab pesan abang. Ditelepon juga gak di angkat, kamu jangan macem-macem ya. Awas kalo kamu macem-macem, abang bikin kamu gak bisa bangkit dari kasur" ucap Davin panjang kali lebar.


"Ini apaan sih, bukannya assalamualaikum dulu gitu. Malah langsung ceramah, dimana-mana itu kalo mau ceramah pake pembukaan dulu, kata-kata sambutan dulu" jawab Dhini.


"Abang bukan lagi ceramah yank, ini abang lagi marah tau. Ih gemes abang sama kamu jadi pengen anu in kamu" ucap Davin geram.


Dhini tertawa mendengar suaminya yang kesal " Aku tadi di bawah sama bi Las ngobrol-ngobrol, hp aku cas di kamar bang" jawabnya.


"Ya udah kamu baik-baik dirumah, jangan nakal-nakal, jangan genit sama orang juga" ceramahnya masih dilanjut ternyata.


"Itu pesan gak salah buat aku bang, orang aku nya di rumah berdua sama bi Las juga. Yang ada itu pesan buat kamu tau, awas aja kalo sampe ada yang lain disana" ucap Dhini dengan nada mengancam.


"Iya iya sayang, kamu gak akan ada duanya di hati abang yank. kamu satu-satunya sekarang dan selamanya" rayuan mautnya kembali dilayangkan.


"aduuuuh abaaaaaang... meleleh hati adek" jawab Dhini.


Bersambung...


Itu visualnya versi saya, kalo mau yang versi kamu juga boleh di bayangi sendiri aja ya ๐Ÿ˜…๐Ÿ˜…๐Ÿ™ˆ๐Ÿ™ˆ๐Ÿ™ˆ


...Terimakasih banyak atas dukungan semuanya๐Ÿ˜˜...

__ADS_1


...๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ™...


__ADS_2