Takdir Dari Tuhan

Takdir Dari Tuhan
Makan malam yang menegangkan


__ADS_3

Untuk beberapa hari kedepan, mami dan papi nya Davin akan menginap sementara. Papi Adit harus menjalani pemeriksaan rutin kesehatannya di Rumah Sakit keluarga mereka.


Davin masuk ke kamar, dia pun ikut berbaring disebelah istrinya. "Yank, kamu udah gak marah lagi kan ?" tanya Davin.


Dhini berfikir, dia akan berpura-pura untuk bersikap seperti biasa agar Davin tidak curiga dengannya. "Enggak kok bang, maaf ya kalau aku terlalu egois buat kamu" ucap Dhini.


Davin memeluk tubuh Dhini "Makasih ya yank, kamu gak perlu minta maaf. Kamu gak salah yank, abang yang salah sama kamu. Harusnya abang yang minta maaf sama kamu yank, udah nyakitin hati kamu"


"Emang abang salah apa sama aku ?" tanya Dhini.


"Hmm... Kan kamu, eh abang ada..., anu... eh itu, yang tadi malam yank" jawab Davin tergagap, bingung harus menjelaskan nya pada Dhini.


"Oooh, ya udah bang. Padahal aku udah lupain itu" Dhini mencoba bersikap biasa, padahal dia merasa aneh dengan Davin. Ditanya seperti itu saja sudah bingung.


Makan malam sudah terhidang di meja makan. Semua berkumpul bersama menyantap hidangan yang disajikan oleh bi Las. Karena ada papi Adit dan mami Evelyn, bi Las memasak menu kesuksesan mereka.


"Vin, kamu ingat pesan papi tadi. Papi mau secepatnya, atau kalau tidak, papi yang akan mengurusnya" ancam papi kembali.

__ADS_1


Mami dan yang lainnya pun memandang ke arah papi Adit. Sedangkan Davin yang merasa terbidik senjata tajam hanya bisa pasrah dan menghela nafas panjang. Mami langsung angkat bicara, penasaran dengan perkataan papi Adit.


"Kenapa pi ?" tanya mami Evelyn yang sama penasarannya dengan Dhini.


"Tanya anak mami aja tuh, dia lebih tau jawabannya" bak bola beracun, papi melemparkannya kepada Davin.


Mami Evelyn yang berada di seberang meja Davin langsung menoleh ke arahnya. Tak kalah dengan sang mertua, Dhini juga langsung putar arah melihat wajah suaminya.


Davin merasa sedang diujung tanduk kali ini, memikirkan jawaban apa yang harus diungkapkan olehnya. Otaknya bekerja lebih cepat dari biasanya, bahkan pembalap saja kalah dibuatnya.


Papi Adit hanya mengangguk sambil mencibir. Begitu juga dengan mami Evelyn dan juga Dhini, hanya mengangguk tanpa curiga.


Selesai makan malam, Mami Evelyn dan papi Adit masih berada di ruang tengah, menonton televisi. Mami Evelyn memang tidak mau meletakkan televisi di dalam kamar. Karena jika saat musim pertandingan bola, papi Adit selalu menonton televisi. Dan sudah bisa dibayangkan bagaimana reaksi seseorang yang tengah asik menonton bola, berisiknya mengalahkan seisi stadion, fikir mami Evelyn.


Sedangkan Davin dan Dhini pamit untuk naik ke lantai atas. Dhini berdiri di tepi balkon, menatap langit yang penuh dengan bintang bertaburan. Sangat indah, itulah kata yang bisa terucap saat melihat ciptaan Tuhan ini.


Davin memeluknya dari belakang, melingkarkan tangannya di perut Dhini, dan menopangkan dagunya di bahu kanan Dhini.

__ADS_1


"Yank, masih rata ya" ucap Davin mengelus perut istrinya.


"Iya masih la bang, kan aku belum buncit" jawab Dhini.


"Yuk kita isi yuk yank, biar gak rata lagi" ucap Davin kembali masih dengan kegiatan yang sama.


"Emang mau di isi apa, aku udah kenyang tadi kan baru selesai makan kita" jawaban yang masuk akal.


"Bukan isi makanan yank, tapi isi yang lain" ucap Davin yang diteruskan dengan mulai menciumi leher Dhini sambil tetap mengelus perut istrinya dan menjalar ketempat yang lainnya.


Malam panjang pun dilalui keduanya, setelah mematikan lampu kamar dan menutup semua gorden, juga tak lupa mengunci semua pintu. Hanya suara-suara khas mereka yang terdengar disana.


(othor mo ngintip 😶 tapi ga bisa, pintunya di kunci sama bang Davin 🤭🤭)


Bersambung...


Terimakasih masih setia 🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2