Takdir Seorang Istri

Takdir Seorang Istri
11. Perdebatan


__ADS_3

Ruang makan yang tadinya hangat kini berubah menjadi panas saat perdebatan terjadi antara keponakan dan paman yang tengah berselisih itu.


Kini mereka semua telah pindah keruang tengah tempat yang lebih pantas untuk mendiskusikan hal pribadi seperti ini.


Venya tidak menyangka paman yang selama ini ia hormati mampu melakukan hal seperti itu hanya demi penerus keluarga, bahkan bibi yang biasanya bersikap bijak dan menentang adanya perselingkuhan kini hanya terdiam tanpa suara.


"Semua yang Kami lakukan hanya demi kebaikan Serina dan juga Arga, tanpa maksud lain Venya" Satya tidak hentinya menjelaskan maksud dan tujuan pernikahan yang Jessie dan Arga jalani saat ini.


"Dengan menyakiti Serina Iya?!"


Semua orang terdiam tanpa suara bahkan kedua orang tua erina yang seharusnya membela putri mereka hanya diam tanpa melakukan apapun.


"Keluarga besar seperti kita membutuhkan seorang penerus Nak, jika tidak keluarga ini akan hancur nantinya" Wanda yang sejak tadi diam akhirnya bersuara untuk membela keputusan dari suaminya.


Venya memijit pelipisnya yang tiba-tiba saja terasa pusing akibat masalah yang terjadi sekarang, dia akui dulu Dirinya tidak menyukai Serina karena menganggap gadis itu hanya ingin mengambil harta milik Arga tapi semua yang dia pikirkan ternyata salah, Serina benar-benar mencintai Arga begitupun sebaliknya, tapi melihat semua yang terjadi dengan pernikahan sepupunya ini membuat Venya merasa cinta mereka tidaklah tulus.


"Arga! kamu bilang mencintai Serina, tapi kenapa kamu tega menikah dengan wanita lain saat Serina masih menjadi Istri kamu!?" Kali ini sasaran kemarahan Venya mengarah pada Arga yang sejak tadi terdiam di samping Istri keduanya.


"Aku melakukan semua ini untuk keluarga ku kak" Ucapnya dengan santai.


Venya menatap Arga dengan Garang dia ingin sekali melempar adik sepupunya itu dengan vas bunga yang berada di atas meja.


"Sudah cukup! tidak ada yang bisa di sesali Saat ini Jessie tengah mengandung!"


Jder!


Venya tidak bisa berkata-kata lagi kenyataan pahit keluar dari mulut pamannya jika sudah seperti ini tidak ada yang bisa ia lakukan. menatap prihatin pada Serina yang langsung di balas istri pertama dari Arga itu dengan senyum teduhnya, betapa malangnya wanita itu.


"Sudah cukup perdebatan hari ini! kami yakin jika kalian akan melakukan hal yang sama jika melihat kehidupan pernikahan putra kalian yang tidak sempurna" Ucap final Satya membungkam semua orang, perkataan terakhir dari Satya seakan-akan tertuju pada orang tua Serina.


Kevin menahan tubuh Venya saat istrinya itu akan kembali berulah.


"Biarkan ini menjadi urusan mereka" Bisik nya di telinga Venya.


Perdebatan hari itu selesai dengan damai setelah kebenaran mengenai kehamilan Jessie terdengar, orang tua Arga sangat senang mereka selalu berada di sisi menantu keduanya itu tanpa henti, sedangkan Venya hanya bisa pasrah melihat adik iparnya terluka sedikit-demi sedikit.


.

__ADS_1


.


PLAK!


Serina menyentuh pipinya yang terasa kebas saat telapak tangan ayahnya menampar keras pipinya.


PLAK!


"Dasar tidak berguna!"


Rasa anyir dirasakan Serina setelah tamparan terakhir yang ayahnya berikan, tidak ada perlawanan bahkan Serina hanya diam saat cengkeraman di bahunya semakin menguat.


Ibunya memang tidak menyakitinya namun melihat sikap acuhnya saat Serina mendapat tamparan dari Bram ayahnya tidak ada bedanya.


"Bahkan menjaga pernikahan saja kamu tidak bisa!" Bram menggeram saat Serina tidak bereaksi sama sekali.


"Tidak bisa kah kamu memberikan kebahagian untuk orang tuamu? selama ini kami membesarkan mu dengan harapan besar! tapi apa yang kamu berikan pada kami sebagai balasannya?!"


Dinda menenangkan suaminya beberapakali mengingatkan jika mereka saat ini sedang tidak berada di tempat yang aman untuk bertengkar.


"Ingat Serina! jika sampai Arga menceraikan kamu jangan harap kamu bisa menginjakkan kakimu di rumah kami lagi!"


Serina tersenyum miris saat merasakan air mata yang tiba-tiba saja mengalir di pipinya setelah kepergian Orangtuanya beberapa saat lalu, Serina merasa kesal dengan dirinya sendiri kenapa saat di depan orang tuanya dia tidak bisa menumpahkan emosinya.


"Hiks!"


Tangisannya mulai bertambah deras bahkan Isak kan yang keluar dari Serina bisa menyayat hati siapa saja yang mendengarnya, namun sayangnya tidak ada yang mendengar betapa menyesakkannya suara tangisan dari seorang anak yang terbuang dari keluarganya, seorang istri yang tidak sempurna, dan seorang menantu yang tidak bisa membahagiakan mertuanya.


Kenapa? kenapa tidak ada yang mengasihaninya? saat ini Serina hanya berharap setidaknya satu orang yang mau mengasihaninya walaupun mereka berbohong Serina tidak peduli, karena itulah yang dia butuhkan sekarang.


.


.


Kediaman keluarga Wahyutama terlihat sepi saat ini karena malam semakin larut para penghuni pergi untuk mengistirahatkan tubuh mereka masing-masing, setelah perdebatan yang terjadi tadi siang tidak ada suasana hangat yang terjalin di kediaman itu, hanya Wanda yang menghabiskan waktu bersama dengan menantunya yang tengah hamil muda itulah yang sejak tadi terlihat.


Kevin dan Venya tidak terlihat sejak makan siang usai, sedangkan Arga dan ayahnya mendiskusikan tentang pekerjaan di ruang kerja sang ayah.

__ADS_1


Serina?


Di sinilah dia sejak pertengkarannya dengan Ayahnya, taman milik keluarga Wahyutama memang sangatlah mengagumkan memang sejak dia menginjakkan kakinya di kediaman ini taman inilah yang menjadi daya tarik tersendiri bagi dirinya.


Serina tidak beranjak dari tempatnya duduk walaupun waktu sudah hampir lewat tengah malam, dengan pandangan kosong lurus ke depan wanita yang hanya mengenakan baju tipis itu berkemelut dengan pikirannya.


Tubuhnya sangat lelah namun ia tidak ingin beristirahat, kejadian yang menimpanya seharian ini sukses menguras tenaga dan emosinya, padahal baru beberapa jam Serina berada di pelukan Arga tapi kenyataan seolah menariknya menuju kenyataan yang seharusnya ia terima.


Memikirkan kondisi pernikahannya yang entah menuju kemana akhirnya membuat air matanya kembali menetes, rasa sakit di pipinya menghilang saat dia bisa menangis dengan lepas seperti ini.


Mengusap perutnya yang terasa sedikit membuncit Serina berharap bayinya baik-baik saja saat dia terlalu memikirkan banyaknya kemungkinan yang terjadi dalam pernikahannya.


"Maafkan Bunda sayang"


Dirasa tubuhnya sudah lebih baik Serina memutuskan untuk masuk kedalam rumah, terlalu lama di luar akan membuat orang-orang khawatir walaupun Serina tidak yakin jika keluarga dari suaminya itu akan khawatir dengan nya. Bahkan dia tidak yakin jika Arga menyadari kepergiannya selama ini.


Benar saja saat dia masuk kedalam rumah keadaan di dalamnya sangatlah sepi dan sunyi menandakan jika penghuninya sudah berada di tempatnya masing-masing, saat ini dirinya sedang bingung dimana dia akan tidur malam ini?.


Jika tidur dikamar Arga itu tidak mungkin...


Karena Serina tau jika suaminya itu sedang berbaring dengan nyaman di atas kasur sambil memeluk istri keduanya yang tengah hamil muda.


Serina masih waras untuk masuk kedalam kamar Arga, tidak mungkin kan mereka bertiga tidur di satu kasur yang sama dengan Arga dan Jessie yang saling berpelukan sedangkan dirinya?.


Membayangkannya saja sudah mengerikan!


Kruyuk...


Astaga!


Serina menyentuh perutnya yang berbunyi, dia lapar saat ini mengingat kejadian yang tidak menyenangkan saat makan siang dan melewatkan makan malam sudah menjelaskan kondisi bagaimana dia bisa lapar sekarang.


Saat dia berjalan kearah dapur dan membuka tudung saji di atas meja Senyumnya mengembang ketika ia melihat Roti tawar di atas meja lengkap dengan selai cokelat.


Tanpa berlama-lama Serina menyantap makan malam seadanya itu dengan riang gembira.


"Serina?"

__ADS_1


TBC...


__ADS_2