
Arga merenggangkan otot tubuhnya yang terasa kaku setelah bangun tidur, entah jam berapa sekarang tanpa sadar dia tertidur di kamar lama milik Serina.
Pria bertubuh atletis itu keluar untuk melihat berapa lama dia sudah tertidur, melihat sinar matahari yang berwarna jingga Arga tau jika dia sudah tertidur sampai sore hari.
Memang sudah lama sejak ia bisa mengistirahatkan tubuhnya dengan nyenyak.
"Mas Arga?"
Jessie heran ketika melihat suaminya berada di rumah di jam segini.
"Kamu tak pergi kekantor?"tanyanya setelah memperhatikan penampilan Arga yang acak-acakan.
"Hm"
Mendengar Arga yang hanya bergumam membuat Jessie yang tengah hamil muda itu tidak suka, Arga tidak seperti biasanya.
"Kamu kenapa sih, Mas?" Jessie mengikuti Arga yang berjalan kearah dapur.
Perutnya terasa lapar, lepas perdebatan yang terjadi tadi pagi ia tidak bisa sarapan dengan tenang dan ternyata ia tertidur sampai petang tanpa mengisi perutnya, tentu saja ia lapar saat ini.
Helaan nafas Arga hembuskan ketika melihat meja dapur masih sama berantakan seperti tadi pagi.
Arga menatap tajam pada Jessie yang terlihat biasa saja, apa wanita ini tidak keluar dari kamar sejak tadi? Melihat keadaan meja makan yang sangat berantakan, sudah bisa di tebak jika tidak ada yang membersihkannya, Entah kesalahan apa yang Arga buat sehingga menikah dengan wanita jorok dan pemalas seperti Jessie.
"Kamu tidak memiliki bakat apapun dalam mengurus pekerjaan rumah, ya?" Arga duduk di kursi yang biasa ia duduki, kaki kanan menumpuk di atas kaki kirinya angkuh, mantan suami Serina itu menyenderkan tubuhnya ke kursi lalu melipat tangannya di atas perut.
Mata tajamnya menatap penuh emosi pada istrinya. Sepertinya Arga perlu menjelaskan mengenai pekerjaan apa yang harus Jessie kerjakan.
"Menjadi istri seorang Arga Wahyutama berarti bisa mengurus segalanya yang berhubungan dengan pekerjaan rumah" Arga menjelaskan
Jessie yang baru pertamakali melihat Arga yang seperti itu hanya terdiam tanpa suara.
"Saya menikah dengan Serina yang tidak bisa mengandung sampai sekarang, menurut kamu kenapa saya bertahan selama itu?" Tanya Arga pada Jessie.
Istri kedua Arga itu tidak menjawab, Mas Arga pasti hanya ingin menceramahi aku, pikir Jessie.
Brak!
"Jawab!"
Jessie terkejut setengah mati ketika mendengar bentakan nyaring dari Arga yang selama ini selalu menjaga emosinya.
"K-karena....." Gugup, bagaimana ia bisa menjawab saat Arga terus menatap tajam ke arahnya?.
Arga terkekeh, bahkan menjawab pertanyaan yang dia berikan saja Jessie tidak bisa.
"Saya mencari istri yang sempurna, kriteria istri dari Arga Wahyutama adalah, wanita yang bisa memberikan keturunan, mengerjakan pekerjaan rumah, dan tidak manja." Jelasnya
"Menurut kamu apa yang membuat saya bisa bertahan dengan Serina selama ini?" Lanjutnya bertanya pada Jessie.
"......"
__ADS_1
"Serina sangatlah sempurna"
Mendengar perkataan terakhir Arga membuat Jessie menatap suaminya tidak mengerti, jika serina sesempurna itu lalu kenapa Arga menikahi dirinya?.
"Tapi sayangnya dia belum bisa memberikan keturunan" Arga mengucapkannya Dengan tidak rela, bahkan ekspresi yang di tampilkan seolah-olah Arga menyayangkan kepergian serina dan menyesali keputusannya menikahi Jessie.
Dengan pandangan terluka Jessie menatap suaminya.
"Maksudnya apa Mas? Aku tidak sempurna iya? Lalu kenapa Mas menceraikan Mbak Serina?!"bentaknya marah, merasa tidak suka saat Arga terus memuji Serina di depannya.
Raut wajah Arga kembali datar saat Jessie dengan berani membentak nya.
Drek!
Bunyi kursi yang bergeser setelah Arga berdiri dari duduknya.
Arga mendekati Jessie, merasa jika Arga marah karena ke lancangannya membuat Jessie bergetar ketakutan di buatnya.
Arga menyentuh tubuh gemetar Jessie dengan kedua lengan kekarnya.
"Serina yang sesempurna itu saja saya bisa membuangnya..... Arga berbisik di teling Jessie....lalu? Bagaimana dengan Wanita seperti kamu?" Usai mengucapkan kata-kata yang menyakitkan Arga meninggalkan Jessie begitu saja.
Wanita yang tengah mengandung buah hatinya dengan Arga itu terduduk lemas.
Perkataan Arga tadi seakan-akan menjelaskan jika Arga akan membuangnya kapan saja setelah apa yang ia inginkan tercapai.
Jessie menangis kencang, saat sadar jika Arga sangatlah menakutkan ia berusaha menahan Isak tangisannya dengan kedua tangannya.
.
.
Beberapa bulan berlalu
Serina mengusap perutnya yang terlihat membesar karena usia kandungannya yang sudah memasuki usia 8 bulan, wanita dengan dress berwarna biru itu tersenyum bahagia.
Saat ini dia berencana mengunjungi Dokter kandungan langganannya beberapa bulan ini, Serina berencana mengetahui jenis kelamin bayi yang ia kandung.
Sebenarnya Serina tidak peduli jenis kelamin bayi nya, yang dia pikirkan hanyalah bayinya bisa sehat itu saja. Tapi karena paksaan dari Naura mau tak mau dia mengeceknya.
Gadis manis pekerja di kedainya itu sangatlah berjasa dalam hidupnya, bahkan gadis itu selalu mengurus segala keperluannya untuk melahirkan nanti.
Taxi yang Serina tumpangi berhenti di pinggir jalan tepat di depan rumah sakit bersalin yang lumayan terkenal di kota.
Usai membayar ongkos taxi dia masuk kedalam rumah sakit.
"Selamat datang Serina"
"Terimakasih dokter"
Serina tersenyum kecil sambil menyambut uluran tangan dokter wanita yang selama ini menjadi langganannya.
__ADS_1
"Jadi? Apa yang ingin kamu lakukan?"
"USG, aku sangat penasaran dengan jenis kelamin bayi ku Dokter" ucap Serina antusias.
Dokter kemudian menyuruh Serina berbaring di ranjang khusus yang ada di sana, lalu setelah meminta ijin ia mengoleskan jel pada perut telanjang milik Serina yang sudah membesar.
"Lihat itu"
Serina mengikuti arah pandang dokter.
"Selamat bayimu laki-laki"
Mendengar hal itu Serina berucap syukur dengan bahagia.
"Terimakasih dokter"
Dokter wanita itu mengajak Serina untuk duduk berhadapan dengannya setelah pemeriksaan.
"Bayi mu sangat sehat, tapi alangkah baiknya jika mulai sekarang kamu tidak banyak melakukan pekerjaan berat" nasihatnya.
Serina mengangguk, memang kedainya sangatlah ramai beberapa bulan ini setelah ia memperluas kedainya, dan pekerjanya hanya lima orang termasuk dirinya, mungkin karena itulah ia mudah kelelahan.
"Baik Dokter terimakasih banyak"
.
Taman yang berada di pusat kota sangatlah ramai ketika sore menjelang, banyak pedagang kecil-kecilan yang sudah berjejer di sana.
Kerumunan orang-orang yang menghabiskan waktunya berkumpul di taman itu jugalah sangat banyak.
Serina yang kebetulan berada di sana tersenyum senang saat melihat penjual permen kapas,
Bayinya menginginkan permen manis itu.
"Terimakasih"
Sambil membawa permen kapas berukuran sedang Serina berjalan menjauh dari rumah sakit tempat ia periksa tadi.
"Baby boy...apa kamu senang?" Serina mengajak bayinya berbicara, tak lama wanita itu tertawa sendiri karena merasa lucu.
Setelah bayinya lahir Serina akan punya penjaga cilik.
Membayangkan nya saja membuat tawa kecilnya terdengar lagi.
Tuk!
Permen kapas yang ia pegang terjatuh ke tanah bahkan Serina baru saja memakan sedikit permen itu, tawa yang keluar dari bibirnya tadi menghilang secara perlahan bersamaan dengan kedatangan seorang pria dan wanita yang tengah mengandung sedang berdiri di hadapannya.
Sama sepertinya, kedua orang itu juga turut terkejut.
"Mas Arga?" Gumam nya terkejut.
__ADS_1
TBC.....