
Malvin melihat sekeliling rumah milik Serina sama seperti pemiliknya rumahnya pun terasa damai dan sejuk.
Serina menyodorkan kopi panas dan bolu yang tadi di bawa pada pria bernama Malvin di hadapannya.
"Silahkan"
"Terimakasih"
Bu Maya sering bercerita jika putranya itu sangat hobi tidur saking hobinya sampai saat ini putra tunggalnya itu betah melajang sampai sekarang. yang Sering Serina dengar dari Bu Maya, Malvin ini mengelola bengkel miliknya dari jam 3 Sore sampai subuh itulah mengapa pria ini sering mengantuk.
"Aku dengar kamu sudah punya anak, dimana dia?" bukan bermaksud sok dekat, tapi memang Malvin bingung bagaimana memulai pembicaraan.
"Arina sedang tidur siang" jawab Serina tenang
"Jadi namanya Arina"
Mereka berdua akhirnya bisa berbicara dengan santai walaupun masih tidak jelas apa yang mereka bahas tapi setidaknya hubungan keduanya tidak terlalu canggung.
Sampai saatnya Malvin pulang dan Serina mengantar pria itu sampai depan pintu.
"Terimakasih untuk bolu nya sampai kan terimakasih untuk Bibi" pesan Serina sebelum Malvin pulang.
Malvin tersenyum
"Kita belum berkenalan lebih dekat" Malvin menyodorkan tangannya di hadapan Serina.
Tanpa ragu Serina langsung menjabat uluran tangan Malvin.
"Salam kenal aku Serina Pangestu"
"Malvin pratama"
.
.
Pertemuan Serina dan Malvin ternyata berjalan dengan lancar sejak pertemuan pertama mereka hari itu Malvin sering mengantarkan Bolu untuk Serina menggantikan sang ibu.
Bu Maya yang memang sangat mendukung hubungan Serina dan putranya tentu saja sangat senang mengetahui kedekatan mereka berdua, di tambah lagi sejak mengenal Serina Malvin tidak pernah lagi bekerja lembur sampai tidak cukup tidur.
Seperti hari ini Weekend pertama Malvin mengajak Serina dan Arina jalan-jalan menggunakan sepeda kayuh yang memiliki dua kemudi, di depannya ada keranjang agak besar yang di lapisi bantalan lembut khusus untuk Arina.
"Kamu benar-benar merakitnya sendiri?" Tanya Serina tidak percaya, sebelum nya memang Malvin mengatakan jika ia berencana membuat sepeda khusus untuk mereka jalan-jalan, dia kira hanya bercanda tapi ternyata tidak.
"Tapi akan lebih baik jika Mas membuat tiga kemudi"Naura yang sedang menggendong Arina menyela.
"Tidak seru mengajak orang ketiga" jawab Malvin membuat Naura mencebikkan bibirnya sebal.
"jika aku tidak ikut maka Arina lah yang akan menjadi orang ketiganya!"
Serina yang melihat perdebatan Naura dan Malvin hanya bisa tertawa.
"Sudahlah ayo kita berangkat!"ajaknya pada Malvin
__ADS_1
Akhirnya tepat pukul empat sore mereka sudah mengelilingi pinggiran kota, sengaja memang memilih waktu yang tepat agar Arina tidak kepanasan saat berkeliling.
Mereka pergi ke banyak tempat, mulai dari pantai, pasar tradisional, sampai ke taman bermain.
Arina terlihat sangat senang berada dalam gendongan Malvin, bahkan balita mungil itu tidak berhenti tertawa sejak tadi.
Dirasa waktu makan malam semakin dekat Malvin mengajak Serina menuju restoran terdekat di sana.
"Sepertinya mahal" Ucap Serina
Malvin yang mendengar hal itu hanya tertawa ringan."Apa masalahnya?"
"Bagaimana jika kita mencari tempat yang lain?"Usul Serina, merasa jika tempat yang mereka datangi terlalu berlebihan.
"Kamu tidak berfikir aku se miskin itu kan?" Dari tadi Serina bersikap seolah-olah dia tidak mampu membayar makan malam mereka malam ini.
Melihat wajah Malvin yang sepertinya tersinggung membuat rasa bersalah hinggap di hati Serina.
"Bukan begitu....tapi"
"Kalau begitu ayo masuk"
Serina menghela nafas pasrah saat Malvin terlebih dahulu masuk kedalam restoran bersama dengan Arina.
Ketika mereka masuk kedalam banyak pasang mata yang memperhatikan terutama pada Malvin yang bersikap seperti ayah bagi Arina.
"Selamat datang"
Sepuluh menit kemudian makanan telah sampai, mereka kembali fokus pada pesanan masing-masing. Kini Arina berada dipangkuan ibunya, Serina menyuapi gadis kecil itu makanan yang ia bawa dari rumah.
"Terimakasih makanannya"
Serina mengucapkan terimakasih pada Malvin.
Pria berkulit cokelat eksotis itu hanya tersenyum manis.
"Kemana lagi sekarang?" tanyanya mengalihkan pembicaraan. jika masih berlanjut ia yakin jika Serina akan terus berterimakasih padanya.
Serina menoleh pada Arina di pangkuannya, gadis mungilnya mengantuk akan sulit membawa balita perempuan ini pulang dengan naik sepeda jika ia tertidur.
"Sebaiknya kita pulang saja, lagipula hari sudah mulai malam"Usul Serina berharap Malvin tidak tersinggung.
"Baiklah"
Saat Serina ingin menggendong Arina, Malvin lebih dulu mengangkat balita yang tengah menahan kantuk tersebut dalam gendongannya.
"Malvin biar aku saja" Ucap Serina merasa tidak enak.
Pria Tan itu menggeleng dan tersenyum, "Ayo" ajaknya pada Serina.
Serina sedikit tersentak saat telapak tangannya terasa hangat dalam genggaman Malvin yang juga tengah menggendong Arina. orang-orang yang melihat mereka bertiga terpana dengan kesempurnaan keluarga bahagia mereka.
Serina berjalan di belakang Malvin dengan tangan yang masih bertautan, langkah Malvin terhenti membuat Serina yang berada di belakangnya menatap heran.
__ADS_1
"Ada apa?" Tanya Serina.
Malvin tidak menjawab dia hanya menunjuk ke depan menggunakan dagunya, lalu Serina mengikuti arah tunjuk Malvin ke depan.
Deg!
Serina tidak bisa menyembunyikan rasa kagetnya ketika melihat siapa yang menghalangi jalan mereka.
"Mas Arga?" Gumam Serin sangat lirih sehingga Malvin tidak mendengar bisikan Serina.
"Maaf Tuan anda menghalangi jalan kami"Ujar Malvin, raut wajahnya keruh ketika bertatapan dengan Arga yang menurutnya tidak sopan.
Arga mengajak Jessie ke restoran ini untuk menemui rekan bisnis nya tapi siapa sangka jika mereka malah bertemu dengan Serina dan pacar barunya? entahlah.
"Malvin sudahlah" Serina rasa bertengkar dengan Arga tidak akan baik untuk mereka saat ini.
"Lama tidak jumpa Nona Serina?" Sialnya ternyata Arga membawanya kedalam percakapan mereka.
Malvin menatap Arga dan Serina bergantian, "Kalian saling kenal?" kerenyitnya heran.
Serina gelagapan bingung apa yang harus ia katakan pada Malvin mengenai Arga yang adalah mantan suaminya.
"I-itu"
"Perusahan kami memesan makanan dari kedai Nona Serina" Untung saja Arga langsung menjawab sebelum Malvin bertambah curiga.
Mendengar hal itu tentu saja membuat Malvin lega raut wajahnya yang tadi keruh berubah melunak sedikit.
"Kalau begitu Maaf telah berperilaku tidak sopan"Ucap Malvin
Arga tersenyum, "Oh! dan perkenalkan dia istriku" saat Arga memperkenalkan Jessie tatapan pria itu mengarah pada Serina, untung saja Malvin tidak menyadarinya.
"Jessie Wahyutama" Jessie memperkenalkan dirinya dengan anggun, sebenarnya fokus nya selalu terarah pada balita mungil yang ada dalam gendongan pria yang bersama Serina.
'Apa itu putriku?' tanya Jessie dalam hati
"Malvin dan ini Serina"
Seperti sudah sangat akrab Malvin merangkul pundak Serina mesra.
"Dan dia pasti putri anda kan Nona Serina" Ucapan Arga membuat tubuh Serina tidak bisa berhenti bergetar, wanita tersebut hanya menjawab dengan sebuah anggukan kecil.
"Wajahnya tidak mirip dengan anda, pasti dia sangat mirip dengan ayahnya kan?"
Serina menatap Arga nyalang ingin sekali ia berteriak jika pria angkuh di hadapannya ini adalah ayah dari bayinya tapi dia tidak bisa, dia bukan wanita bodoh yang akan membuat Arga mengambil kembali bayinya.
"Mungkin.....saya tidak yakin, karena ayahnya sudah lama mati" Malvin meringis mendengar jawaban Serina, entah apa yang terjadi dengan wanita lemah lembut ini.
Arga yang mendengar jawaban Serina merubah raut wajahnya wanitanya sudah mulai melawan ternyata, sepertinya Serina perlu mendapat sedikit pelajaran.
Seringan terbit di bibir arga, "Tunggu saja"
TBC....
__ADS_1