Takdir Seorang Istri

Takdir Seorang Istri
45. Kenangan


__ADS_3

Serina menyuguhkan kopi panas untuk Malvin dan menaruhnya di atas meja.


Sejak kedatangan pria itu Arina sama sekali tidak berhenti-henti nya bercerita mengenai perkelahian nya dengan Sean, bahkan sesekali bocah perempuan itu menirukan kebiasaan buruk dari lawannya.


"Sudah paman bilang, jangan mau berteman dengan anak nakal! Lalu kenapa kamu malah memberikan kotak bekal mu padanya?" Malvin tidak habis pikir dengan jalan pikiran putri dari Serina ini.


Di satu sisi gadis itu memiliki kebaikan hati yang lapang namun di sisi lain ada sisi liar yang berusaha gadis itu pendam.


Serina duduk di sofa sebrang mendengar kan ocehan kedua orang itu tanpa mau ikut campur.


Tiba-tiba suasana berubah sendu saat Arina menunduk kan wajahnya merasa bersalah.


"Ada sayang?" Tanya sang ibu heran.


"Sean sama seperti Arina, jika Sean punya ayah Arina punya bunda, kami sama-sama memiliki kekurangan. itulah sebabnya Arina ingin menjadi temannya karena kami sama-sama tidak memiliki pelengkap keluarga" adu nya, Arina berkata jujur.


Selama ini dia selalu bertahan dari cemoohan teman-teman nya yang mengatakan jika dia tidak punya ibu, sedangkan Sean melawan semua orang yang mengejek nya.


Orang tua Sean memiliki segalanya tidak seperti keluarga Arina.


Karena itu Arina lebih memilih menghabiskan waktunya bersama para pekerja sekolah dari pada teman-teman kelasnya.


Malvin dan Serina saling bertatapan gadis yang selalu periang itu kini tidak baik-baik saja.


"Lupakan saja! Bagaimana jika kita jalan-jalan?" Malvin berusaha memperbaiki suasana buruk Arina.


Gadis kecil itu menatap Malvin berbinar-binar.


"Berdua saja?!" Seru Arina


Mau tak mau Malvin mengangguk, sebenarnya ia ingin mengajak serta Serina tapi melihat Arina yang hanya ingin menghabiskan waktu berdua Dengan nya tidak ada pilihan lain.


"Ingat jangan pulang malam" Serina mengantar mereka berdua ke depan pintu, seperti biasa.


Arina melambaikan tangannya pada sang ibu yang langsung di balas oleh wanita tersebut.


Senyum mengembang Serina perlahan surut bersamaan dengan kepergian Malvin dan Arina.


Lalu ia berbalik cepat berjalan menuju kamarnya untuk memastikan sesuatu.


Mulai dari lemari pakaian sampai semua laci dia periksa namun tidak juga menemukan apa yang ia cari.


Hampir saja menyerah sebelum dirinya teringat dengan kotak yang di simpan di bawah kasur.


Dreet


Menarik kayu berbentuk peti itu dari bawah kasur kemudian Serina membuka semua barang-barang yang ada di dalam nya.


Mulai dari mainan masa kecil Arina sampai pakaian gadis itu ada di dalam.


Sebuah buku yang mirip seperti sebuah diary ia keluarkan karena sudah lama di biarkan begitu saja buku itu mulai berdebu.


"Syukurlah masih ada"gumam Serina.

__ADS_1


Menghela nafasnya yang mulai memburu perlahan mantan istri dari Arga itu membuka bukunya.


Halaman pertama, terdapat sebuah gambar nya dan seorang bayi laki-laki yang baru saja ia lahir kan saat itu.


Serina meneteskan air matanya foto terakhir yang di ambil oleh Naura saat Sean lahir ke dunia.


Halaman kedua, saat usia Sean menginjak satu tahun dan Serina mendapatkan gambar itu dari majalah yang sengaja ia beli.


Ulang tahun putra-putri nya bersamaan betapa senangnya saat itu Serina bisa melihat Sean.


Halaman ke-tiga, Gambar yang juga ia dapat kan dari majalah saat umur Sean berusia 3 tahun setengah.


Itulah kali terkahir ia melihat Sean lagi, karena berita buruk yang menimpa Jessie keluarga Wahyutama mulai mengentikan berita untuk menampilkan Sean di berita.


Padahal hanya itulah satu-satunya cara agar Serina bisa melihat putranya.


Serina menghapus air matanya kemudian mengambil foto Sean yang berusia tiga setengah tahun itu. Lalu menelitinya secermat mungkin.


Jantung nya berdetak kencang pengelihatan nya tidak salah anak bernama Sean yang berkelahi dengan Arina adalah putranya, putra kandungnya.


"S-sean hiks!" Serina mendekap erat foto Sean.


Dia sangat dekat dengan putranya saat itu tapi kenapa ia tidak bisa memeluk nya.


Pembuat onar yang selalu di cerita kan oleh Arina adalah Sean.


"Bagaimana bisa putra ku menjadi seperti itu"


Isak tangisannya tidak bisa terbendung, kesedihan yang selama ini ia tahan akhirnya meledak karena perjumpaan nya dengan sang putra.


.


.


Dia melihat semuanya, awalnya heran melihat wanita nya tiba-tiba saja menangis.


Tapi ternyata semuanya jelas melihat buku yang di buka oleh Serina adalah kenangan dari Sean.


Arga ingin sekali berlari menuju Serina lalu memeluk wanita itu dalam Dekapan nya, tapi dia tidak bisa melakukan nya.


Jarak antara mereka sudah sangat jauh sekarang.


Untuk mendapatkan hati Serina kembali Arga harus melakukan berbagai macam rencana agar wanita itu tidak lari dari nya.


Hans masuk kedalam ruangan Arga.


"Tuan nyonya besar meminta anda dan Tuan muda untuk makan malam bersama di kediaman utama"


Arga menghela nafas berat Ibunya seperti tidak ada kerjaan lain.


"Kami akan pergi"


Hans membungkuk lalu undur diri dari sana.

__ADS_1


Pukul lima sore seperti nya mereka hari segera mengunjungi kediaman utama jika tidak ingin mendengar ocehan dari Wanda.


Tok!tok!


Klek!


Arga menatap Sean yang sepertinya tengah tertidur pulas di kasur, sebenarnya ia sudah menyuruh bocah itu pulang kerumah tapi Sean tidak mau.


Berjalan mendekat Lalu Arga duduk menyamping menghadap Sean.


Puk!


Tepukan lembut di layangkan nya untuk membangunkan sang putra.


"Sean, bangun"


Setelah beberapa kali tepukan ringan akhirnya bocah itu membuka matanya.


Arga tersenyum melihat Sean bangun dari tidurnya lalu mengerjapkan kedua matanya lucu, semua itu mengingat kan nya tentang Serina.


Wajah Sean memang menyerupai nya, tapi tidak bisa di pungkiri mata dan bibir bocah itu sangat mirip dengan sang ibu.


"Nenek mengajak kita makan malam bersama" Arga membantu Sean merapikan rambut berantakan nya.


Bocah itu mengerut tidak suka


"Lagi?" Tanyanya


Pasalnya neneknya sudah mengundang mereka makan malam kemarin lalu apa lagi sekarang?


"Ayah aku tidak ingin ikut" pinta nya pada sang ayah.


Bukan tanpa alasan ia tidak ingin ikut, kakeknya selalu menatap nya tidak suka jika Sean berada di sana, dan Sean membenci hal itu.


"Kamu tau kan bagaimana nenek?"


Sean mengangguk tidak ada yang bisa menolak neneknya begitu pun dengannya dan sang ayah.


"Ayo kita bergegas sebelum nenek marah nanti"


.


Mereka sampai di pekarangan rumah mewah milik keluarga Wahyutama.


Arga turun diikuti dengan Sean di belakangnya lalu dengan menggandeng tangan mungil sang putra Arga berjalan masuk kedalam rumah.


Pelayan langsung menyuruh mereka menuju ruang makan tempat nyonya dan Tuan besar berada.


"Cucuku sayang!" Wanda berlari dan langsung memeluk Sean begitu bocah itu menampakkan wajahnya di sana.


Di belakang sang nenek ada kakeknya yang hanya menatap mereka datar.


Sean membenci itu....

__ADS_1


TBC....


__ADS_2