Takdir Seorang Istri

Takdir Seorang Istri
28. Bertemu


__ADS_3

Hari kelahiran Sean dan Arina sudah berlalu sejak sebulan yang lalu, setelah melewati banyaknya keganjilan dalam sebulan ini akhirnya Serina bisa merasa tenang.


Bagaimana tidak mulai dari hadiah misterius untuk Arina, lalu ada juga kiriman-kiriman barang berupa pakaian dan juga bahan pangan, dan terakhir kiriman uang jutaan yang tiba-tiba saja masuk ke rekeningnya.


Memang tidak sering tapi jumlahnya sangatlah banyak sehingga membuat nya takut, pernah sekali ia ingin melaporkan ke polisi tapi sebelum dia melapor ayah dan ibunya melarang mereka mengatakan bisa saja itu dari Arga sebagai ucapan Maaf.


Sebelumnya juga Serina pernah berfikir jika Arga yang melakukannya tapi berusaha ia tepis lagi pula untuk apa pria itu melakukannya?.


"Permisi"


Serina menoleh saat seorang pria seumuran ayahnya datang ke kedai miliknya.


"Ada yang bisa saya bantu?" Sapa Serina ramah, melihat dari cara berpakaian orang ini sepertinya adalah orang penting.


Pria paruh baya itu tersenyum, "Pimpinan kami mengadakan pesta kecil-kecilan untuk acara peresmian Apartemen yang kami bangun, beliau menyuruh saya untuk mencari restoran terdekat yang menyediakan makanan penutup yang lezat" jelasnya.


"Saya rasa kedai anda adalah yang terbaik di sekitar sini, jadi saya berencana menyewa kedai anda untuk besok, apa kah bisa?" 


Serina terkejut tidak menyangka kedai kecil miliknya bisa dilirik oleh orang besar seperti pria di depannya ini.


"Tapi Tuan kedai saya tidak sebaik itu" Ucap Serina, tidak ingin menyetujui permintaan itu segera.


"Saya mohon nona, peresmiannya besok saya tidak punya banyak waktu lagi" Pria paruh baya itu memelas memang terlihat panik dari wajahnya.


Melihat itu Serina berfikir sejenak, "Kalau boleh tau dimana lokasi Peresmiannya?"


Pria paruh baya itupun tersenyum senang, dengan semangat ia menunjuk sebuah Apartemen baru yang berad adi seberang tokonya, "Karena itulah saya memilih toko anda Nona"


Tidak mungkin.....


Bukankah itu Apartemen milik keluarga Wahyutama?


Setelah pembicaraan nya dengan pria paruh baya tadi orang itu memberikan sebuah kartu namanya untuk Serina. Di dalam kartu tersebut tertulis jika nama pria paruh baya tersebut adalah Handoko Kepala keuangan Wahyutama Corporation.


Pantas saja pak Handoko bisa di berikan kepercayaan besar untuk menyiapkan konsumsi.


"Kami sudah menyiapkan semuanya Mbak, jadi besok tinggal enak"


Serina mengangguk


Ya dia memutuskan untuk menerima tawaran pak Handoko menurutnya tidak ada salahnya menerima permintaan pesanan pria itu.


"Besok kalian berpakaian lah yang lebih rapi, karena makanan penutup di pesan dari kedai kita, kita harus berada di sana untuk memastikan tidak ada yang kurang"


Semua orang mengangguk paham begitu pun dengan Naura, padahal gadis muda itu tidak ikut.


Saat semua kembali sibuk dengan urusan masing-masing Serina menghampiri Naura.


"Kamu benar tidak mau ikut?" Tanya nya entah yang ke berapa kali.

__ADS_1


Dan jawaban Naura pun masih sama, "Tidak"


Serina menghela nafas panjang Naura lebih memilih menjaga Arina bersamanya daripada menggantikan dirinya untuk menghadiri acara peresmian.


"Terserah kamu saja"


.


.


Acara peresmian mulai pada pukul 10 pagi sampai jam 15 siang. Semua pesanan dari penyelenggara acara sudah Serina beserta karyawan nya kirimkan, karena itulah mereka tidak bisa membuka toko untuk hari ini.


Banyak nya pesanan dari pak Handoko membuat karyawan Serina tidak ada waktu untuk membuka kedainya.


"Nona Serina?"


Serina tersenyum menyambut kedatangan pak Handoko yang menyambut nya.


"Terimakasih atas bantuannya jika bukan karena Nona entah apa yang akan kami lakukan"


Serina tersenyum menanggapi nya, pria paruh Baya itu terasah berlebihan berterimakasih padanya.


Padahal makanan yang lain lebih mewah dari miliknya.


"Saya sudah menyuruh para pekerja di kedai untuk membantu kelancaran acara peresmian bapak, semoga acaranya berjalan lancar sampai akhir" ucap Serina


Pak Handoko tersenyum kecut, ingin sekali ia meminta Serina untuk tinggal lebih lama di acara ini tapi wanita itu tidak bisa meninggalkan anaknya sendiri di rumah.


Serina pun mengangguk memahami.


"Sekali lagi selamat atas peresmian nya pak" Serina berucap setelah pak Handoko selesai dengan telpon nya.


Baru saja akan beranjak pergi dari sana pak Handoko menahan nya.


"Tunggu Nona Serina"


"Ada apa pak?" Tanyanya heran


"Pimpinan saya ingin bertemu langsung dengan Nona"


Deg!


Apalagi ini?


Kenapa harus dirinya? Bukankah banyak orang-orang konsumsi yang lebih mewah lainnya? Kenapa pimpinan malah ingin bertemu dengannya?.


Serina bingung harus bagaimana, jika ia menolak tidak enak pada mereka yang telah memesan makanan miliknya.


Dengan perasaan was-was Serina mengangguk kemudian mengikuti langkah pak Handoko di depannya.

__ADS_1


Mereka berdua telah sampai di depan pintu sebuah ruangan yang terlihat berbeda dari yang lain. Serina dapat menyimpulkan jika ruangan itu hanya khusus jika ada yang berkepentingan.


"Mari masuk Nona"


Aroma mint pendingin ruangan tercium sangat pekat mungkin karena apartemen ini masih baru?.


"Silahkan duduk"


"Terimakasih"


Serina duduk di bangku sofa berwarna abu-abu yang berbeda di ruangan tersebut, selagi Serina duduk dengan tenang tiba-tiba saja ponsel pak Handoko berbunyi memecah keheningan.


Pria paruh baya itu meminta ijin untuk mengangkat telpon di luar meninggalkan Serina di dalam ruangan seorang diri.


Sambil menunggu pak Handoko dan pimpinan yang ingin bertemu dengan nya Serina menghubungi Naura. Tidak bertemu dengan Arina sehari saja membuat hidupnya terasa kurang.


Memang sejak melihat Sean di TV saat itu ada rasa lega di hatinya, putra nya terlihat bahagia dengan keluarga besarnya. Karena itulah ia bertekad untuk membahagiakan Arina hidup bersamanya.


"Hallo sayang bagaimana kabarmu?" Serina tersenyum senang saat wajah gembul Arina terpampang jelas di ponselnya.


"Bunda kapan pulang?" Naura berbicara sambil menggerak-gerakkan tangan mungil Arina seolah-olah gadis mungil itulah yang bersuara.


"Haha! Sudah makan?"


"Sudah dong!"


Pembicaraan mereka pun terus berlangsung sesekali Arina ikut berceloteh tidak jelas di seberang sana.


Tap!


Tap!


Suara langkah kaki berjalan kearah Serina, wanita yang tengah asik bersama dengan putri nya itu tidak menyadari langkah kaki yang mendekatinya.


"Lama tidak bertemu, Serina?"


Deg!


Suara itu, suara yang selama satu tahun ini tidak ia dengar lagi. Suara dari pria yang telah menghancurkan hidupnya, pria yang mengambil paksa putra nya.


Spontan Serina mematikan ponselnya tanpa aba-aba, pandangan nya tertuju pada pria yang baru saja menyapanya.


Arga...


Berdiri dengan gagah di hadapannya berlagak angkuh dengan memasukkan kedua telapak tangan nya di kantung celananya.


Serina berdiri dari duduknya seharusnya dia tidak terkejut jika bertemu dengan Arga ataupun keluarga Wahyutama lainnya, karena memang apartemen ini adalah milik mereka.


"Mas Arga?"

__ADS_1


TBC....


__ADS_2