Takdir Seorang Istri

Takdir Seorang Istri
15. Keputusan akhir


__ADS_3

Sudah seminggu sejak insiden tamparan yang di lakukan oleh Venya, sekarang mereka semua tengah berkumpul Diruang keluarga kediaman milik Arga Wahyutama, Arga, Jessie dan Venya sebagai saksi.


Dengan penuh persiapan Serina menyerahkan Map Cokelat berisi surat gugatan cerai yang sejak lama ia buat di hadapan Arga.


Melihat map itu Arga sudah mengetahui apa isi dari kertas itu, mengingat sikapnya beberapa bulan terakhir tidak salah jika Serina akhirnya membuat sebuah keputusan.


"Aku sudah memikirkan semua ini dengan matang, perpisahan kita tidak akan berdampak apapun untuk kalian Mas" Ucap Serina dengan tenang.


Semalaman penuh dia menangis dengan keras di dekapan kakak iparnya, mungkin setelah ini bukan menjadi iparnya lagi. semua rasa sakit dan penyesalan yang dia pendam tercurah semalaman penuh bersama dengan Venya.


Dan saat ini ia yakin dengan keputusan yang akan di buatnya, demi masa depan calon bayinya nanti.


Arga membuka Map pemberian Serina pria itu membaca dengan seksama tulisan yang sudah tersusun rapi di atas selembar kertas, kemudian tatapannya tertuju pada namanya dan juga Serina yang tertulis bersebelahan.


Jika dulu nama itu bersanding di buku nikah mereka, maka sekarang berbeda nama mereka bersanding untuk yang kedua kalinya di sebuah surat Perceraian.


Ada rasa nyeri di hati Arga saat melihat Surat itu telah di tanda tangani Serina tanpa ragu, padahal Arga tidak tau saja jika Serina berusaha dengan keras memegang pulpen dan menggoreskan tintanya ke kertas itu.


Jessie tersenyum senang, akhirnya tidak ada lagi pengganggu di rumah tangganya dan Arga sekarang ini.


"Saya tidak tau jika kamu sudah menyiapkan semua ini" Arga membuka suaranya. berkas perceraian bukanlah berkas yang akan langsung siap saat siapa saja memintanya, banyak proses yang harus di lalui untuk membuat dokumen ini, dan tentu saja Serina pasti sudah menyiapkannya dari lama.


"Mas tidak pernah mau tau apa yang aku lakukan" Balas Serina dengan senyum, Venya yang melihat senyum dari bibir adik iparnya itu tau jika banyak kesedihan yang terkumpul di senyumnya.


Jawaban yang keluar dari bibir Serina membuatnya menatap penuh pada Istri pertamanya itu, apa kah selama ini dia terkesan tidak peduli?.


"Mas hanya perlu tanda tangan dan semuanya akan selesai"


"Kamu sangat ingin berpisah dengan Saya,hm?"


"Kamu orang yang paling tau mengapa semua ini bisa terjadi"


Suasana ruangan itu terasa sangat dingin, aura dari kemarahan Arga dan kekecewaan dari Serina berkumpul menjadi satu.


"Jika Saya menandatangani surat ini, setelahnya apa yang akan kamu lakukan?" Dengan angkuh Arga menyenderkan tubuhnya santai pada sofa yang ia duduki tatapannya menghunus tajam kearah wanita yang berani-beraninya menceraikan dirinya.


Tekanan yang Arga berikan pada Serina membuat wanita itu sedikit merasa gugup, seolah menyadari kekhawatiran adik iparnya Venya memberikan dukungan lewat genggaman tangan yang ia berikan pada Serina.


"Tanda tangani saja! urusan setelahnya biar Serina yang mengurus semuanya" bukan Serina yang bersuara, melainkan Venya yang sepertinya mulai geram lah yang bersuara.


"Mas" Jessie menyentuh lengan Arga berusaha mengambil perhatian sang suami agar menghadap nya.


Saat Arga menoleh kearahnya Jessie langsung mengutarakan pendapat yang ia punya


"Tidak ada yang perlu di pertahan kan, lebih cepat lebih baik kalian berpisah" Venya menggeram tidak suka mendengar perkataan Wanita ular itu, jika di suruh memilih Venya akan tetap mempertahankan pernikahan Kedua adiknya andaikan tidak ada Jessie di pernikahan mereka.

__ADS_1


Tapi sayangnya Wanita tidak tau diri itu ada, jika Serina tetap mempertahankan pernikahan nya Venya tau itu tidak akan baik untuk kondisi janinnya.


Memang benar tetap mempertahankan Serina dalam pernikahan ini akan semakin menyakiti wanita yang sudah menjadi istrinya selama enam tahun ini, Arga sadar jika sikapnya selama ini pada Serina sangatlah tidak adil, untuk itu kali ini dia akan melakukan yang seharusnya.


Serina menahan nafasnya saat goresan tinta itu mulai bergerak di atas surat cerai yang ia berikan, ada rasa sesak ketika Arga menandatanganinya tapi semua itu berusaha ia tepis.


"Hubungi Saya saat sidang perceraian sudah di pastikan"


Sret!


Tanpa basa-basi Arga berdiri meninggalkan ruang tamu pria itu berlalu pergi tanpa melirik kebelakang, meninggalkan Serina dengan perasaan yang bercampur. Melihat Arga pergi tanpa membawa dirinya Jessie bergegas menyusul suaminya itu.


Sudah selesai...


Sekarang semuanya telah selesai.


"Ayo, kita harus mengemas pakaian mu, lalu pergi sebelum malam datang"


Serina tidak menyangka jika pernikahannya akan berakhir hanya dengan selembar kertas saja, padahal betapa sulitnya mereka mempertahankan hubungan yang selama ini terjalin tapi akhirnya semua itu berakhir sekarang.


Akhirnya setelah beberapa menit berlalu Serina dan Venya selesai mengemas barang, barang Serin ayang memang tidak seberapa itu membuat pekerjaan mereka selesai lebih cepat.


Koper berwarna hitam Serina tarik keluar dari kamar yang beberapa bulan ini ia tempati seorang diri, seluruh sudut rumah ia pandangi untuk terakhir kalinya. banyak kenangan yang tidak bisa ia lupakan di sana.


"Kakak akan menyiapkan mobil, kamu bisa berkeliling rumah sebelum kita pergi"


Setelah itu Venya berlalu keluar dari rumah.


.


.


Kebun miliknya lah yang menjadi tempat terakhir yang ingin ia kunjungi, ada rasa tidak rela meninggalkan Kebun yang selama ini menjadi tempatnya bersandar jika bisa Serina ingin membawa serta kebun ini bersamanya.


"Apa yang akan terjadi jika aku meninggalkan kalian?" Gumam Serina tidak rela.


"Kamu tidak rela meninggalkan benda mati, tapi sangat niat untuk bercerai"


Serina terkejut dengan suara yang ia kenali berada di belakangnya.


Arga berdiri tepat di belakang Serina, berdiri tegap dengan wajah tegasnya lengannya ia masukkan kedalam kantung celana kiri dan kanan.


"Mas.." Panggil nya lirih


Arga berjalan mendekat kearah Serina, tubuh tinggi besarnya berdiri berhadapan dengan tubuh mungil Serina.

__ADS_1


"Sementara?" Gumam Arga yang masih bisa di dengar Serina dengan jelas, wanita hamil itu menatap pria yang sebentar lagi akan menjadi mantannya dengan kerutan heran. "Maksud Mas?" tanya Serina


"Malam saat Saya masuk ke dalam kamar mu, kamu bernah berkata kamar itu hanya untuk sementara kan? apakah ini maksudnya?"


Serina mengingat kembali percakapannya dengan Arga pada malam itu.


"Kamar ini masih layak Mas, lagipula hannya untuk sementara!"


"Sementara?"


"Bukan apa-apa Mas jika tidak ada yang di bicarakan lagi sebaiknya Mas pergi!"


Sekelebat percakapannya dengan Arga terlintas di kepalanya, percakapan itu ya.


Arga berbisik di telinga Serina yang sepertinya tidak sadar jika Arga bergerak mendekat kearahnya.


"Kamu bisa bertahan selama ini.." Arga menghembuskan nafasnya di telinga Serina, "lalu.. kenapa tidak bisa bertahan sedikit lagi?" Lanjutnya, semakin dekat dengan Serina.


Merasa jaraknya dengan Arga yang terlalu dekat Serina bergerak mundur, menjaga jarak aman dari Arga, tapi sayangnya dia tidak menyadari jika ada lubang yang menganga di bawah kakinya.


"Akh!"


Bruk!


Lengan kekar Arga melingkar dengan sempurna di pinggang sang istri yang hampir saja menyentuh tanah jika ia terlambat menariknya.


"Hati-hati, kamu bisa mencelakai nya nanti" Bisik Arga lirih di depan wajah Serina.


Saat dirinya ingin melepaskan diri dari Arga lengan pria itu malah melingkar erat pada pinggangnya.


"Mas lepaskan"


"Hm?" Serina tidak menyukai keadaan nya dengan Arga sekarang, mata tajam milik Arga mengunci pandangan Serina agar tertuju pada mata tajamnya.


"Jaga dirimu baik-baik" Ucapnya lalu berlalu pergi dari sana.


Serina menahan nafasnya saat ia merasakan jika bibir lembab Arga mengecup pelipisnya lembut.


Apa itu tadi?


Tunggu! Serina menyadari ada kejanggalan dari perkataan Arga saat menolongnya tadi, mencelakai nya? siapa yang Arga maksud?.


Jangan-jangan...


"Serina! Ayo kita pergi!"

__ADS_1


TBC....


SLOW UPDATE BELUM KONTRAK 🤫


__ADS_2