
Seminggu telah berlalu sejak pertemuannya dengan Arga, hari ini Serina membuka kedai agak siang karena beberapa pekerja nya meminta ijin libur untuk beberapa hari karena memang sudah memasuki musim liburan.
Hanya ada Laras dan Naura yang membantunya di kedai, padahal Serina ingin menolak saat para pekerja nya mengajukan jatah libur karena memang musim liburan biasanya kedai lebih ramai dari hari biasanya, tapi karena kasihan Serina hanya bisa mengijinkan.
Saat membuang kantung sampah di luar tidak sengaja Serina melihat gedung yang berdiri tidak jauh dari kedainya, sebuah apartemen yang menjulang tinggi masih dalam tahap perbaikan.
Seingatnya dulu gedung itu sangatlah usang dan hampir roboh, tapi entah siapa yang merenovasi nya sehingga gedung itu terlihat sangat berbeda dari sebelumnya hanya dalam waktu beberapa bulan.
"Mbak liat apa?" Tanya Naura heran, pasalnya Serina belum kembali dari membuang sampah.
Mengikuti arah pandang Serina, Naura mengerti.
"Mbak mau pindah ke sana?"
Serina menoleh dengan cepat pada Naura.
"Buat apa? Rumah Mbak sudah sangat nyaman untuk apa pindah segala!" Tutur Serina membalas perkataan Naura yang sepertinya salah paham.
"Habisnya melihat gedung baru, seperti orang kampung"ucapannya mengejek
Serina mendelik ke arah Naura memang semenjak kenal dengan gadis muda itu beberapa bulan Naura sangatlah blak-blakan.
"Sembarangan!" Naura tertawa melihat wajah Serina yang emosi.
Mendengar keributan di depan kedai membuat Laras yang tadinya sibuk di dapur melihat keluar.
Laras menghembuskan nafas pendek ketika melihat Naura dan Serina yang lagi-lagi bertengkar.
"Aku tunggu di dapur ternyata kalian malah berkumpul disini! Memangnya ada apa sih?" Laras ikut nimbrung.
Serina merasa sebal melihat Naura yang masih saja tertawa sejak tadi.
"Gedung itu Mbak"tunjuk Serina pada gedung berwarna silver yang menjulang tinggi.
"Siapa yang merenovasi?"
Sejenak Laras terdiam melihat arah tunjuk Serina, tak lama kemudian wanita berusia tiga puluh itu menjawab.
"Beberapa bulan yang lalu Mbak dengar jika gedung itu sudah di beli oleh keluarga Wahyutama, tapi tidak tau siapa yang membelinya"
Deg!
__ADS_1
Mendengar marga mantan suaminya di sebut Serina merasa terkejut.
"Orang kaya memang begitu, ada peluang mereka pasti langsung mencari celah untuk menghasilkan pundi-pundi berlebih" Naura menimpali
Wahyutama? Tapi siap? Gedung itu terletak di pinggiran kota tidak mungkin Arga dan mantan ayah mertuanya repot-repot membeli gedung yang hampir roboh, seingatnya dulu Arga bukanlah tipe orang yang akan membeli sebuah properti hanya karena banyak uang.
"Mbak!" Kejut Naura saat melihat Serina melamun.
"Ada apa?" Timpal Laras yang juga ikut bingung melihat keterdiaman Serina.
"I-itu aku lupa mematikan air di rumah!" Serina langsung bergegas meninggalkan Naura dan Laras yang menatap nya bingung.
Kedua pekerja Serina itu hanya saling berpandangan merasa ada yang janggal dengan sikap Serina.
.
Tidak memakan banyak waktu akhirnya mantan istri Arga sudah sampai di rumahnya dengan selamat.
Serina membuka pagar kayu berwarna cokelat terang setinggi pinggang orang dewasa yang mengelilingi rumahnya, saat sampai di depan teras Serina bisa melihat bertumpuk-tumpuk kardus dan berbagai macam paper bag yang tergeletak di depan pintu rumah miliknya.
Siapa yang mengirim semua barang ini?, Ucap serina dalam hati.
Kepalanya menoleh kesana-kemari mencari siapa yang repot-repot memberikannya benda-benda ini.
"Gunakan dengan baik" gumam Serina membaca pesan dari ponselnya.
Ada rasa tidak tenang saat Serina membaca pesan tersebut, darimana mantan suaminya mengetahui alamat rumah nya? Lagipula untuk apa membelikan barang-barang sebanyak ini.
Serina menghela nafas berat
Seharian ini dia merasa jika Arga selalu mengawasi nya, bukan merasa kepedean tapi Serina lebih merasa tidak nyaman, apalagi mereka bukanlah suami istri sekarang.
Semenjak pertemuan nya dengan Arga dan Jessie seminggu yang lalu entah mengapa Serina merasa jika kehidupan yang ia jalani adalah kehendak Arga.
Mulai dari gedung apartemen yang berada di dekat kedainya sampai barang-barang ini.
Mungkin jika barang-barang ini dia biasa saja.
Tapi mengenai gedung apartemen... Seingatnya dulu saat awal-awal dia membangun kedai gedung itu sama sekali tidak tersentuh oleh orang lain, bahkan tidak ada tanda-tanda akan di bangun ulang, tapi setelah perceraiannya dengan Arga gedung itu mulai di bangun kembali. Awalnya Serina tidak merasa heran tapi saat tadi Laras mengatakan jika gedung itu sudah di beli oleh keluarga Wahyutama pikiran negatif melayang-layang di kepalanya.
Serina bergidik ngeri sepertinya Arga menguntitnya.
__ADS_1
"Astaga apa yang kupikirkan!" Serina menepuk keningnya malu, mana mungkin Arga melakukan hal yang membuang-buang waktu begitu.
"Sepertinya aku butuh bantuan Naura dan Mbak Laras"
Seperti perkataan nya beberapa waktu lalu Naura dan Laras datang untuk membantu Serina membereskan barang pemberian Arga, kedai tutup lebih cepat karena harus membantu Serina memasukkan barang-barang nya.
Sebenarnya bisa saja membiarkan barang-barang itu diluar tapi Serina takut jika barang pemberian Arga yang tentu saja tidak murah itu hilang karena di curi.
Berkali-kali Naura bertanya tentang pengirim barang-barang yang ada di rumah Serina, tapi wanita hamil itu hanya mengatakan seadanya tanpa mau menjelaskan.
"Semuanya biasa di gunakan untuk 7 turunan Mbak" Naura masih saja tidak percaya dengan banyaknya barang yang Serina terima.
Kotak-kotak kardus berisi berbagai macam sembako dengan jumlah yang banyak, bahkan ada beberapa kardus yang berisi perlengkapan bayi dan juga susunya padahal bayi Serina belum lahir.
Sedangkan paper bag berisi baju-baju bermerk terkenal dan juga perhiasan yang harganya sanggup untuk menghidupi Serina bertahun-tahun.
Laras dan Naura asik mengemasi barang-barang sambil terus bergumam tidak percaya.
Sedangkan Serina agak merasa ganjil dengan perlengkapan bayi yang ia terima.
Serina mengamati baju bayi yang Arga kirim, tidak ada yang salah sebenarnya tapi baju-baju yang Arga kirim untuk bayi perempuan, sedangkan bayinya adalah laki-laki.
"Mbak melamun lagi" Naura menyadarkan Serina.
Mata gadis muda itu terarah pada salah satu baju bayi yang Serina pegang.
"Ini baju perempuan kan? Bukannya calon anaknya mbak Serina laki-laki?" Tanyanya heran, mewakili pertanyaan Serina yang ingin ia tanyakan.
"Ini hanya baju, lagipula tidak terlalu kentara jika ini baju perempuan" Laras menjawab kebingungan serina dan Naura.
"Begitu kah?"
Laras mengangguk "lagipula pengirim nya pasti tidak tau jenis kelamin bayi mu apa, kita saja baru tau Minggu kemarin kan?" Lanjutnya yang langsung di angguki Naura.
Memang Laras dan Naura tidak tau siapa pengirimnya tapi Serina tau bahkan orang yang mengirim barang-barang ini juga tau jenis kelamin bayi nya.
"Bayi bisa memakai baju apa saja Serina"
Perkataan terakhir Laras membuat Serina mengerti.
"Mungkin saja"
__ADS_1
TBC.....
Up 3 eps spesial my birthday jangan lupa baca bab sebelumnya yaaaa